
Umma Lisa, Ado dan Ela sedang menunggu Riky sadar di dalam ruangan dingin ini. Sedangkan Gea sudah pamit dari tadi untuk menghadiri sebuah rapat besar.
Sedangkan pak Jaya kembali ke kediamannya sebentar untuk mengambil beberapa barang dan pakaian untuk Riky.
...~•~[Kediaman Jaya]~•~...
Saat sedang memasukan pakaian kedalam tas, pak Jaya melihat foto istri tercinta. Ia melihat tatapan istrinya seperti yang begitu kecewa pada dirinya dan sepertinya sang istri tercinta sedang marah kepadanya.
"Aku minta maaf ya sayang," lirih papah Jaya.
"Untunglah kejadian kali ini tidak sampai seperti mu, jika Riky tidak selamat aku tidak tau harus berbuat apa dan aku tidak tau harus menjalani hidup bagaimana."
Matanya mulai berkaca-kaca saat mengelus bingkai foto sang istri, bahkan hatinya sangat sakit jika mengingat kejadian di masa lalunya itu.
...~•~[ Rumah sakit ]~•~...
"Riky, umma ada disini ya. Umma gak bakal ninggalin kamu dan umma kan selalu ada di sisi kamu. Bangunlah! umma, Ado, Ela dan Gea sedang menunggumu sadar."
Setelah para keluarga di perbolehkan masuk, umma Lisa tidak pernah bergerak sedikit pun dari samping Riky.
Umma selalu berjaga di samping Riky sembari membacakan lantunan ayat suci Al-quran , sedangkan Ado dan Ela selalu berjaga di sana bersama sembari mengerjakan tugas-tugas kuliah.
Bagaimana dengan anak-anak panti? Anak-anak panti kali ini sedang di titipan ke adik umma Lisa selama beberapa hari. Gea pun kadang membantu merawat anak-anak panti sebelum ia berangkat kerja.
Tok.. tok.. tok..
Ketukan pintu ruangan Riky membuat mereka penasaran. Biasanya jika Dokter yang mengetuk pintu, maka Dokter pun langsung memasuki ruangan. Tapi tidak untuk kali ini.
"Shadaqallahul-'adzim. Masuk," ucap umma.
"Siapa Do?" tanya umma lagi, menatap ke arah pintu.
"Coba saya cek ya umma," ucap Ela namun di tahan oleh Ado.
"Saya aja."
Ado mengecek ke pintu luar, menengok ke arah kanan tapi tidak ada siapa-siapa dan saat menengok ke arah kiri...
...~•~[ Rumah Bimo ]~•~...
"Jadi lo gak pulang-pulang ke Australia lagi nih?" tanya Bimo ke Ryca dari arah dapur.
Bimo sedang membuatkan mie instan kuah di campuran telur setengah matang kesukaan Ryca.
"Kayaknya aku bakal tinggal disini deh, soalnya mbak sudah bisa ngelola cafe jadi aku lanjutin kuliah disini deh mungkin."
"Kalo memang kamu bakal tinggal disini, Kuliah di tempat gua aja gimana?"
"Emang ada jurusan manajemen?" tanya Ryca.
"Ada Re, mulai dari Ilmu Komputer, Manajemen, DKV, Administrasi Publik."
"Yaudah nanti coba disana dulu deh," ucap Ryca.
__ADS_1
"Nah gitu dong, nih udah matang. Mie spesial buatan aa Bimo," ucap Bimo menaruh 2 mangkuk Mie instan di meja.
"Hemm wangi banget enak nih kayaknya."
"Ayok di coba."
Siang ini Ryca dan Bimo makan bersama dirumah karena Ryca berniat untuk membantu Bimo mengerjakan tugasnya.
Hanya ada suara sendok, garpu dan suara Tv yang menemani mereka makan siang bersama. Sampai akhirnya Ryca membuka pembicaraan di tengah-tengah makan siang.
"Mo, kamu udah punya pacar belom sih?"
"Pacar? belum, kalo mantan ada. Kenapa emang Re?"
"Gimana sih rasanya pacaran? aku tuh penasaran banget tau, dari dulu mau pacaran tapi ya gitu gak pernah ada yang deketin hahaha."
"Rasanya sakit, gak enak sumpah aja. Enak di awal udahnya mah udah," jawab Bimo berdasarkan pengalamannya.
"Maksudnya?"
"Udah, mending lo gak usah pacaran. Nanti ada aja kok cogan yang dateng ke lo langsung nemuin orangtua lo."
"Haih Bim, Bim... kamu taulah aku ini bukan orang yang cepet akrab sama orang lain, malah cenderung menghindar."
"Soknya, lo ini Re!" ledek Bimo sembari mengacak-acak rambut Ryca.
"Ish kamu ini Bimo, berantakan tau rambut aku."
Orang yang sering menjadi korban adalah Ryca sedangkan Ela jika di jahili oleh Bimo, Ela tidak merespon apapun.
"Ish Bimoo kebiasaan banget deh," pekik Ryca yang sedang di usili oleh Bimo.
Pertemanan yang terjalin sangat lama ini membuat mereka seperti layaknya kakak dan adik. Saling melindungi, saling mendukung dan saling membantu.
"Ela mana sih Mo? aku udah lama gak liat Ela," tanya Ryca.
"Ela lagi ngawal Ado jaga di rumah sakit," jelas Bimo.
"Hah? Ela sakit atau Ado yang sakit?" tanya Ryca panik.
"Bukan Ado atau Ela yang sakit, tapi Senior yang gangguin Ado dulu."
"Senior yang gangguin Ado? emang ada?"
"Ada namanya Riky..."
Bimo menjelaskan secara rinci bagaimana Ado di rundung oleh senior tidak berperasaan itu. Saat Bimo menyebut nama Senior itu, mata Ryca membulat sempurna seperti ada yang aneh tapi apa?
'Riky?' batin Ryca.
'Dia berubah lagi ternyata, kok gak kapok-kapok sih dia?!' batin Ryca.
"Tapi sekarang udah enggak?" tanya Ryca penasaran.
__ADS_1
"Setelah di DO dari kampus, hidup Ado udah gak pernah di ganggu lagi sama senior senior gila itu dan katanya sekarang dia udah baikan sama tuh senior."
"Oalah, syukurlah."
Mendengar pernyataan lega dari Ryca, Bimo hanya bisa menaikkan alis sebelah saja dan pikirannya pun di penuhi pertanyaan.
Di tempat lain dan di waktu yang bersamaan.
"Lapor bos, Riky kecelakaan 3 hari yang lalu dan sekarang dia sedang koma di rumah sakit."
"Biarlah, dia sudah tidak berguna lagi!" ucap seseorang dari balik kursi hitam sembari menghisap rokok.
"Tapi, bukan kah dia adalah kunci kita?" tanya laki-laki bertubuh jenjang.
"Kita sudah bersamanya selama 15 tahun. Seperti robot yang kau pakai selama itu, pasti mereka akan rusak bukan? sudah karatan dan tidak berguna lagi, begitulah keadaan Riky."
"Dia hanya marionette¹ yang kita gunakan untuk menjalani sebuah misi," lanjutnya lagi.
"Iya bos."
"Uruslah urusan lain, jangan mengangguku!"
"Siap bos, saya permisi melanjutkan pekerjaan saya lagi."
Grek..
Langkah kaki yang cukup lebar itu berjalan ke luar gedung tinggi berwarna abu-abu tua. Sepertinya laki-laki ini adalah asisten dari seseorang di balik kursi hitam tadi.
'Sebenarnya aku tidak tahu apa rencana yang akan bos lakukan,' batin laki-laki ini.
Di gedung yang sama. Sesaat laki-laki itu masuk kedalam mobil ada sudut pandang mata yang memperhatiikannya.
"Orang itu kayak gak asing dimata deh, tapi siapa?" gumamnya.
"Liatin apa sih Ge? kok sampe mengerut gitu dahinya?" ucap laki-laki berjas coklat datang menghampiri.
"Hay, kita udah tiga kali ketemu nih. Apakah ini sebuah kebetulan lagi?" lanjutnya orang itu diiringi sapaan.
(Menoleh ke suara yang menyapanya) "Astaga kak Anir, kirain siapa. Mungkin ini masih kebetulan kali ya hehehe."
"Makan yuk," ajak kak Anir.
Bersambung...
..."Dendam? ingatlah ini: mencari keadilan adalah hal yang baik dan mulia, tetapi membalas dendam karena kebencian adalah sesuatu yang akan melahap jiwamu."...
...- James Mace...
...
¹ adalah boneka tali yang digerakkan menggunakan tangan...
__ADS_1