
"Gua mau komen La sama rumah lo," ucap Bimo.
"Apa?" tanya Ela.
"Rumah lo udah rapih dari ujung ke ujung. Tapi coba geh liat, argh astaga buku-buku komik dimana-mana," ledek Bimo.
"Ya biarin sih Mo, suka-suka gua."
"Gua yakin sih, di kamar lo pasti berantakan banget karena komik-komik dimana-mana."
"Ya biarin kamar -kamar gua, kenapa lo yang sewot."
"Ih jorok banget awas tuh komik-komik di makanin rayap," ledek Bimo.
Bimo akan terus meledek Ela sampai dirinya puas membuat Ela kesal. Ryca hanya Ado hanya bisa menutup telinga mereka karena perdebatan terus terjadi.
"Lo ini ya Mo bener-bener, ish." bugh, bugh..
"Iya, iya ampun La, ampun."
"Udah ih, gak berubah kalian itu dari dulu berantem terus. Jangan-jangan kalian jodoh lagi nanti," ledek Ryca meleraikan.
"GAK " jawaban kompak dari Ela dan Bimo.
"IH, IYUH GAK LEVEL," ucap Ela bergidik merinding.
"Mending gua cari orang Rusia dari pada gua harus sama Ela," ucap Bimo tak mau kalah.
"Huh... kayaknya emang bakal deh," sahut Ado.
"Ih Ado mah jahat!" ucap Ela.
Ya, begitulah perbincangan antara empat sekawan. Padahal niat mereka ingin menjenguk dan menanyakan kondisi Ela, tetapi semua rencana di luar dugaan.
"Oh iya, La. Katanya kamu gak masuk kuliah ya? kenapa?" tanya Ryca mengambil alih tujuan mereka.
"Kemarin gua di bawa ke dokter sama mamah, sama kak Anir. Terus kata dokter harus istirahat yang cukup selama beberapa hari agar fikiran gua gak terlalu berat."
"Emang lo kenapa?" tanya Bimo.
"Gak kenapa-kenapa kok, gua cuma kecapean aja mungkin."
"Terus kepala kamu gimana sekarang? Masih sakit? Apa perlu aku bilang ke dosen kamu buruh beberapa hari lagi untuk istirahat?" ucap Ado khawatir.
"E-enggak kok Do, gua sehat-sehat aja cuma dokter bilang jangan terlalu banyak mikir yang gak perlu di fikiran."
"Emangnya kamu mikirin apa sih La? Sampe harus di bawa ke rumah sakit?" tanya Ryca lagi.
"Entahlah, aku cuma buka-buka album lama aja. Terus tiba-tiba ada suara aneh dan yaudah gua ada di Rs deh."
"Kamu ini, buat kita khawatir tau gak La. Yaudah nanti tugas-tugas kamu biar saya yang back up in ya," Perkataan Ado seketika membuat Ela berfikir.
'Apa iya Ado tau sesuatu tentang gua? Tapi kok dia bisa tau? dan sejak kapan Ado tau?' ungkapan itu seketika ada di fikiran Ela.
"Ya gini, kalo manusia sering overthiking jadinya gini," ledek Bimo.
__ADS_1
"Sejak kapan gua jadi overthiker? Gak pernah gua mah."
"Haduh, bisa gak sih kalian tuh sehari tanpa perdebatan?" ucap Ryca.
Bimo dan Ela pun hanya bisa menyeringai saja. Walau sejam saja mereka akur, tetapi sejam kemudian mereka akan bertengkar lagi seperti biasa."
"Huh... Kerok ya Re ngomongin mereka ini," lirih Ado.
Ryca hanya mengangguk-anggukan kepalanya saja. Mereka berdua hanya bisa menyaksikan pertunjukan debat itu saja sampai mereka lelah sendiri.
"Dahlah bodo amat, gua mau sama Ado aja."
Ela beranjak pindah mendekati Ado dan merangkul tangan Ado. Seketika itu pula jantung Ela dan Ado berdegup kencang, walau tidak terdengar tetapi Ela takut mereka semua tahu.
"Huh, jangan mau Do. Lo gak tau aja sifat lakik-nya dia gimana."
Tatapan tajam pun keluar memandang Bimo yang masih saja mengeluarkan kata-kata dari bibirnya. Bimo melihat tatapan Elaitu hanya bisa terdiam, Ela memang tidak berbicara.
Tetapi matanya yang berbicara, "Setelah ini, matilah kau Bimo!"
...~•~[ Rumah Eja ]~•~...
"Mah, pah, Eja sudah berhasil membangkitkan perusahaan kita lagi. Apa kalian bangga dengan ku? Apa kalian senang dengan pencapaian ku?" gumam Eja sembari mengusap bingkai foto yang ada di tangannya.
"Aku sudah menepati janji ku, bisakah kalian berbahagia untukku?"
"Bisakah tatapan tajam kalian tidak memandangiku seperti itu?"
"Aku sudah melakukan yang sebenarnya, iya kan pah? Mah? Aku berhasi," lirihnya.
"Tidak, kalian seharusnya bangga padaku!"
"Tidak. Kami kecewa padamu," ucap keuda orang tua Eja dan bayangan mereka pun seketika pudar.
"Argh!!"
Prang!
Eja membanting semua yang ada di mejanya, termasuk foto keluarga mereka. Entah setan apa yang sedang memasuki Eja, yang pasti kamarnya dan tempat kerjanya hancur berantakan.
"Tunggu saja kau! Aku akan membumi hanguskan dirimu!" Eja mengancam seseorang.
Mengepalkan tangannya dan dugh! crack... kepalan tanggannya di hantamkan ke sebuah cermin yang berada di depannya.
Darah segar pun seketika mengalir memenuhi tangannya.
Mendengar suara-suara gaduh dari kamar Eja, seseorang pria bertubuh kekar langsung menolong Eja dan membawanya keluar kamar.
•
•
•
...~•~[ Keesokan harinya ]~•~...
__ADS_1
Walau pun Ela belum bisa masuk kelas selama beberapa hari, Ado selalu menemani Ela di rumahnya untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah bersama.
"Ini gimana Do?" tanya Ela menunjukan sebuah gambar.
"Kayak gini, kamu salah masukin akhirnya dia gak sinkron sama gambar yang awal."
"Oh gitu, oke-oke."
Sampai sore tiba, Ado pun pamit untuk kembali kerumahnya. Ia juga berpamitan ke Mama Nia sebelum pulang.
"Hati-hati ya Ado. Bye besok gua udah masuk kok, lo tenang aja."
"Oke, nanti aku jemput ya," Ado menawarkan jasa kembali dan Ela pun pastinya menganggukan kepala.
Ado pun melajukan motornya dengan kecepatan sedang, karena ia tidak mau buru-buru pulang.
Ado masih ingin menikmati hangatnya matahari yang menembus baju lengan panjang berwarna maroon ini.
Tapi niatnya untuk menikmati malah berujung tragedi baru lagi. Mobil jeep berwarna hijau menghalangi jalan Ado, membuat Ado kebingungan.
"Kenapa? Lo bingung?" ucap seseorang dari balik mobil.
"Siapa itu? Bisakah kamu pinggiran sedikit saja mobilmu? Saya ingin melanjutkan perjalanan pulang," pinta Ado dengan suara lembutnya.
"Kalo gua gak mau gimana?"
'Suaranya kayak kenal, tapi dimana ya?' Ucap ado dalam hatinya.
"Turun lo!" perintah orang itu.
Seseorang mengenakan hoddie berwarna coklat menghampiri Ado dengan tatapan sinis dan tajam.
"Ada apa?"
"Ikut gua sekarang!"
Orang itu menarik kerah baju Ado dengan kasar dan melempar tubuh Ado ke sebuah tiang besar yang ada di lapangan.
Bruk!
"Lo tau kan gua benci sama lo, dari dulu. Bahkan setelah mereka gak ada gua nambah benci sama lo."
Orang itu tiba-tiba saja mengeluarkan gunting berwarna hitam. Sepertinya gunting ini masih baru dan untuk apa orang itu mengeluarkan gunting?
"Pegang tangannya!" perintah orang itu.
Tiba-tiba saja kedua tangan dan kaki Ado di tahan oleh orang-orang tidak dikenal. Karena mereka semua memakai topeng bak maling yang ingin merampas harta berharga.
Crerk...
Bersambung...
..."Kisah lama tidak akan berakhir dan tunggu saja tanggal mainnya!"...
...-Eja...
__ADS_1