Letter To My Albino

Letter To My Albino
Layaknya Seleksi Dadakan


__ADS_3

Akhirnya perjalanan pulang pun tiba. Tepat pukul 21.30 mereka semua kembali dari Rain's Cafe.


Kak Anir mengantarkan Gea lebih dulu ke panti, lalu mengantarkan Valdo tepat di depan rumahnya.


"Daaa Valdo?" ucap Ela sembari melambaikan tangan ke Valdo.


Dan kaca jendela mobil pun naik kembali saat perjalanan berlanjut. Kak Anir memakai lampu jarak jauh agar terlihat semua sudut jalan disini.


"Kamu pacaran ya sama Valdo?" tanya kak Anir tiba-tiba saat Ela sedang meminum air putih.


"Uhuk ... uhuk ... hmm?"


"Minum yang bener."


"Ya kakak tuh pertanyaannya buat kaget tau. Kenapa tiba-tiba nanya gitu?"


"Penasaran aja."


"Emang kalo aku pacaran sama Valdo gak boleh ya?"


"Kata siapa?"


"Aku ini nanya ke kakak loh!"


"Ya kalo kakak sih it's okey. Asal dia bisa jagain kamu gak masalah. Tapi kalo dia lemah aa ngelarang."


"Kenapa?"


"Karena, aa tau kamu anaknya ceroboh banget. Harus imbang sama cowo yang bisa jagain kamu."


"Valdo juga bisa jagain aku kok. Lagian masalah dia sama yang dulu-dulu udah kelar kok."


"Tapi?"


"Tapi? Tapi apa?"


"Tapi aa gak mau kamu sedih karena dia Rain."


"Aa apasih? Aku gak ngerti deh, udahlah aa gak usah urus hubungan aku sama Valdo. Mending aa urus aja pertemuan antara mamh dan Gea oke," tutur Ela mengalihkan pembicaraan.


"Hmm iya deh, iya."


Sesampainya di gerbang, Kak Anir yang membukakan pintu gerbang itu. Karena mamah menginap di rumah nenek.


'Mandiri banget sih aa gue,' ucap Ela dalam hatinya sembari tersenyum-senyum.


Blam!


"Gua di tinggal di mobil tah? Sakit banget lagi kakinya. Haduh."


Ela membuka pintu mobil dan melihat kakaknya sedang mengunci pintu gerbang rumah.


"Udah diem aja dulu disitu. "


"Iya, iya."


Setelah memastikan gerbang aman, kak Anir membuka pintu utama terlebih dahulu.


Barulah ia datang lagi ke sang adik yang berada di garasi mobil dan masih berada di dalam mobil.


"Ayok aa bantu."


"Gendong!" ucap Ela manja ke kakaknya.


"Huh... udah gede juga."


Tetapi tetap saja kak Anir memberikan pundaknya untuk mengggendong Ela. Dengan sigap Ela langsung menaiki pundak sang kakak.


Blam!


Tap ... tap ... tap ...


"Rain kok kamu makin berat sih? Berapa timbangan kamu?"

__ADS_1


"Ih kakak ngatain aku gemuk ya?"


"Enggak loh! Aa cuma nanya aja. Berat banget tau."


"Padahal berat aku cuma 53 lah."


"Hah? Pantes."


"Ih kan aa ngapain aku gemuk!"


'Salah terus kalo ngomong sama ini anak,' batin kak Anir.


Blam!


Grek ...


"Langsung ke kamar kamu apa mau tidur di kamar mamah?"


"Kamar mamah aja kak, Nanti kalo pas Valdo bawa tukang urut aku bisa jalan dikit Ke ruang tamu."


"Yaudah, tapi nanti bilang sama mamah ya."


"Siap aa sayang."


Setelah menaruh sang adik di kamar mamanya, kak Anir membersihkan diri di toilet bawah dan berjaga di ruang keluarga sembari menonton sepak bola kesayangannya.


"Kalo Rain bener-bener sama Valdo ... saya gak masalah. Tapi apa iya, Valdo bakal bertahan lama bersamanya?" gumam kak Anir.


"Jangan sampai Rain nangis lagi dan pingsan berkali-kali cuma gara-gara mikir yang gak harusnya ia fikir."


Tek ...


Glek ... glek ....


Aard ....


"Punya kakak ya kok jorok banget gitu loh. Sendawa sampe kedengaran ke kamar mamah," ujar Ela dari kamar mamanya.


Hoam ...


...~•~●~•~...


Pagi pun tiba.


Tepat pukul 10.00 Valdo datang bersama tukang urut langganan sang ibu kala masih bekerja dulu.


Greek ....


Kak Anir membukakan pintu untuk mereka berdua dan mempersilahkan masuk ke dalam.


"Tunggu ya mbok, si Ela lagi mandi kayaknya."


"Iya ndak apa."


"Cewemu yo?" tanya Mbok ke Valdo.


Valdo hanya menjawab dengan senyuman manis saja, wajahnya tersipu malu dan sedikit ada semburan pink di pipi Valdo yang putih.


5 menit kemudian.


Ela keluar sembari tertatih-tatih langkahnya karena menahan sakit yang ada di kakinya.


Kak Anir sedang membuatkan minum untuk mereka berdua dan tidak dapat membantu Ela karena kak Anir ingin lihat seberapa cekatan Valdo saat melihat kekasihnya seperti ini.


Belum saja menarik nafas dengan apa yang di ucapannya di dalam hati, Valdo dengan sigap langsung berlari menuju arah Ela dan menggendongnya dengan kedua tangan.


Deg ... deg ... deg ... deg ...


'Sial. Ini terlalu mendadak. Semoga wajahku tidak memerah," ucap Ela dalam hatinya.


"Valdo! Turun-turun."


"Iya, ini udah sampe kok."

__ADS_1


Valdo pun menurunkan Ela kesofa yang lebih luas untuk mengurus kakinya dengan baik.


'Refleknya lebih cepat dari yang saya kira.' Kak Anir langsung menjawab ucapannya tadi.


"Urut dulu yak."


"Bentar mbok. Nama mbok siapa?" tanya Ela mengulur waktu karena ia takut.


"Mbok Niem."


"Yaudah mana kaki yang keseleonya?" ucap Mbok Niem membuat Ela ketakutan.


'Oke, yang kedua sekarang. Gimana cara kamu tenangin Rain saat dalam ketakutan tingkat tinggi katak gini?!' batin kak Anir.


Secara tidak langsung kak Anir menguji ketangkasan Valdo menangani Rain saat sedang kondisi sakit seperti ini.


Lagi-lagi fikiran kak Anir terjawab lagi dengan sikap Valdo yang begitu lembut ke Ela. Menggenggam tangan Ela sembari memeluknya.


Ctek!


"AAAAA Huaaa sakit!"


"Enggak loh ndok."


"Sakit tau mbok."


Krek ... krek ....


Deug!


"Hua! Sakit ... hiks ... hiks ..."


"Tahan dikit aja ya, sebentar lagi. Kalau gak kayak gini nanti kaki kamu malah bengkaknya makin jadi," ucap lembut Valdo sembari mengusap kepala Ela.


Suara yang begitu sopan masuk dan melewati gendong telinga Ela. Membuat Ela sedikit tenang saat kakinya sedang di rombak oleh montir.


(Salah deng, di kira bengkel kali ya)


Saat kaki Ela sedang di urut oleh Mbok Niem. Percayalah itu sangat sakit sekali bahkan sakitnya sampai menyerang kepala mu.


"Cocok," ucap Kak Anir sengaja berlama-lama di dapur.


10 menit kemudian, setelah menerjang kehebohan di dalam rumah, akhirnya Ela sudah tenang. Bahkan kakinya sudah bisa di gerakan.


"Drama banget sih kamu Rain!" ketus kak Anir sembari menaruh 2 cangkir teh hangat di atas meja tamu.


"Drama! Drama! Emang sakit tau! kalo aa berani coba lah!"


"Ngapain? Aa kan gak sakit."


"Awas aja kamu ya a!"


"Iya kak selalu hati-hati kok,"ledek kak Anir kembali ke dapur mengambil makanan.


Mbok pun mengobrol bersama mereka berempat. Bahkan sekali-sekali Ela mengobrol dengan Valdo membicarakan berbagai topik hangat.


"Kapan kita masuk?" tanya Valdo.


"3 Hari lagi."


"Iya tah? Berarti setelah kamu opening Rain's Cafe ya?" tanya Valdo lagi.


"Iya."


"Oalah, yaudah nanti kita ...."


"Sttt ... janji kamu itu bohong. Aku gak suka. Jadi aku yang jemput kamu gimana?"


"Sekali-sekali bolehlah aku jemput kamu. Malu tau kalo perempuan terus yang jemput."


"Boleh sih, asal tepatin janji kamu waktu itu oke."


"Iya, siap." Valdo menjawab sembari tersenyum.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2