Letter To My Albino

Letter To My Albino
cara melindungi mu


__ADS_3

Tiga hari berturut-turut mereka para mahasiswa baru melaksanakan OMPK, perundungan pun terjadi menimpa Ado selama 3 hari berturut-turut itu.


Tetapi kali ini, keberuntungan memihak ke Ado. Saat dirinya sedang di rundung di gudang parkiran kampus, pemilik kampus ini datang untuk memeriksa keadaan kampus sembari menilai untuk menaiki akreditasnya dan juga penutupan acara OMPK.


Betapa terkejutnya beliau melihat mahasiswa baru di rundung oleh seniornya menggukan air selokan serta pasir yang di mandikan ke maba tersebut.


Dengan tegas beliau langsung memanggil senior itu dan beberapa temannya yang sedang ikut melakukan perundungan, di ikuti pula maba tersebut.


Untunglah koperasi kampus menyiapkan baju kaos berlogo serta celana trening, jadi Ado menggunakan baju itu untuk mengganti pakaiannya yang sudah menghitam karena air selokan.


Ela yang mendengar berita itu langsung menghampiri kantor dekan namun Ado tak terlihat dan tak sengaja ia bertanya kepada orang TU.


"Maaf Bu, Ado di mana ya?" tanya Ela.


"Oh, Ado yang di bully itu ya?"


"I-iya Bu."


"Dia lagi salin di toliet, mungkin sebentar lagi datang!"


"Oh begitu, terimakasih Bu permisi."


Dengan sigap Ela langsung menuju toilet kampus, dia hanya berdiri di lorong toilet itu sembari bermain dengan fikirannya.


'Kenapa Ado selalu jadi sasaran orang itu sih? emang ada apa sama Ado? Jangan-jangan dia punya dendam pribadi lagi sama Ado! padahal mereka sebelumnya belum pernah bertemu kan? huh.. kayaknya gua harus ngelindungin Ado apapun cara nya!'


Ado yang sudah dari tadi berdiri di samping Ela, hanya bisa menatap wajahnya yang sangat serius lalu menepuk pundaknya.


"La! jangan ngelamun ih."


"Ah, Ado lo kenapa? ih baju lo bau banget! sini buang aja ya!"


"Jangan La, saya ga punya ganti lain kalau itu di buang!"


"Ish Ado jorok banget sih... ini udah bau, mending di buang aja dari pada lo kena penyakit."


"Lagian kan masih bisa di cuci atau ga di londry?!"


"Orang londry nya aja pastinya nolak baju lo! dah sini gua buang aja, nanti gua beliin yang baru deh gua janji kok."


"Ta... hmmm makasih ya Ela, saya jadi ngerepotin kamu maaf ya."


"Udah lah ga usah sok sungkan, pokonya lo utang penjelasan sama gua ngerti?"


Ado hanya bisa tersenyum saja lalu menuju ruang dekan itu.


Sesampainya di sana, Ela hanya bisa menunggu di loby kampus saja, entah apa alasan pihak kampus menyuruh Ela menunggu di lobby.


Cukup lama mereka sidang dan tepat pada jam 12.00 WIB Ado keluar ruangan diiringi dengan senior itu dan juga teman-temannya.


Dengan tatapan dingin dan juga penuh dendam, senior itu hanya bisa mengepalkan tangannya lalu menuju ke arah Ado sembari menepuk pundaknya.


"Permainan belum selesai Val! gua bakal ngelakuin apa pun itu ke lo ngerti?!" bisikan ancaman yang diberikan kepada Ado sembari merapihkan baju Ado lalu pergi.


Ela yang melihat pemandangan itu sedikit khawatir kalau senior akan melakukan sesuatu kepada nya.

__ADS_1


Namun Ado menghampiri Ela dengan raut wajah sedikit bahagia tetapi di selimuti dengan luka.


Ado mengajak Ela ke atap kampus namun saat mereka melewati sebuah lorong semua mata tertuju pada Ado dan berbicara di belakang.


Tapi Ado tak memperdulikan itu dan sesampainya di atap Ado duduk di sebuah kursi sembari menatap awan dengan tatapan kosong.


"Do kenapa? kenapa tadi lo di panggil? lo utang penjelasan sama gua tau. cepetan sekarang jelasin itu semua!"


"Tadi waktu saya di bully sama Riky, eh maksud saya senior itu, pemilik kampus ini ngeliat kelakuan senior ke maba dan kalau berita ini sampai menyebar ke penjuru kota bisa-bisa reputasi kampus jadi hancur."


"Terus...?"


"Terus senior itu langsung di DO dari kampus dan untuk saya, mereka ngasih keringanan untuk bayar alma sama kartu mahasiswanya."


"Wah gila di balik musibah terdapat keuntungan yang wah."


Ado hanya tersenyum saja sembari menatap awan dengan kosong lagi.


"Do kalau lo ada masalah cerita aja sama gua, siapa tau gua bisa bantu oke. Kalau memang lo ga bisa cerita ke siapa pun lo coba berdoa sama tuhan lo dengan bersungguh-sungguh."


"Iya, makasih ya La. Kamu baik banget sama saya, terima kasih."


Ela hanya tersenyum saja dan tak lama kemudian bel kampus berbunyi untuk melaksanakan penutupan acara OMPK ini.


Semua maba berkumpul di lapangan dan dekan serta pemilik kampus meminta maaf secara resmi atas kejadian itu.


Mereka juga memperketat kerukunan, kedisiplinan serta sebisa mungkin mereka dekat dengan mahasiswa nya.


"Ela..." panggil Bimo.


"Kenapa Ela?"


"Ikut gua yok! ga boleh nolak titik."


"Kemana?"


"Ke suatu tempat, kita naek angkot aja ya tadi gw udah bilang kak Anir untuk ga jemput jadi lo harus ikut gw oke."


"Iya, iya."


Ela sengaja mengajak Ado ke sebuah butik milik tantenya untuk membeli beberapa baju ganti


Cukup 15 menit saja mereka sampai di lokasi dan Ela langsung menarik tangan Ado untuk masuk ke butik itu.


"Nah ini baju khusus laki-laki, lo pilih aja baju yang lo mau kalau masalah bayar gampang lah."


"T-tapi Ela ini mahal."


"Pokoknya lo pilih aja gua tunggu di kasir oke."


Sementara Ado sedang memilih baju, Ela langsung menuju kasir dan menelfon tante Aris untuk meminta potongan harga.


Tante Aris mengiyakan saja dan tak lama kemudian Ado datang membawa dua baju saja.


Ela sedikit kesal dengan Ado karna ini adalah kesempatan emas untuk orang yang matre, namun Ado malah mengabaikan kesempatan ini.

__ADS_1


"Sini taruh di sini dulu Do."


Ado langsung menaruh baju yang dia bawa ke kasir dan Ela menuju baju laki-laki itu untuk mengambil beberapa baju lagi serta celana dasar.


"Sudah, ini aja kak?" tanya orang di kasir.


"Iya ini aja, jadiin satu ya semuanya mba."


"Baik."


Ado hanya bengong saja melihat Ela membawakan baju yang banyak menurutnya.


Tapi menurut Ela, baju yang ia beli ini tidak banyak karna kakaknya membeli baju lebih banyak dari ini.


"Nih bawa, untuk lo semua oke."


"Ini kebanyakan tau Ela."


"Ini ga banyak tau do, dah ini bawa semua untuk salinan lo pas kuliah nanti."


"Terima kasih ya Ela, maaf ngerepotin nanti saya ganti deh duitnya."


"Lo mau ganti duit? boleh, tunggu sebentar."


Ela melihat jam di hp nya lalu memikir beberapa detik dan mulai mengetik sesuatu dan mengirimkan chat itu.


"Kayak mana saya mau ganti nya la, ini banyak banget."


"Udah ikut aja yok, kita naik angkot sekali lagi oke."


Ado hanya bisa mengikuti kemana saja Ela pergi dan sampailah mereka di gang yang Ado kenal.


'Ini kan gang mau ke rumah? apa jangan-jangan Ela tau rumah saya ya? kok bisa?' batin Ado


Namun gang yang Ela lewati berbeda, di mana gang yang Ela lewati ini menuju taman tempat kedua kali bertemu.


'Eh, kok taman ini? jadi Ela sering ke sini dong?' batin Ado yang masih mengikuti Ela dari belakang.


"Nah sudah sampai," berhenti di tukang eskrim kacang merah.


"Oh, kamu mau kacang merah? tapi masih kurang bayarnya."


"Beliin aja gua ini dan lo ga perlu ganti-ganti duit untuk beli baju lo itu. Simple kan?"


"Oke, mang beli 2 ya" pesan Ado.


"Wokeh."


Dari kejauhan tempat mereka beli eskrim ada seseorang yang sedang memantau mereka berdua.


Bersambung...


..."Aku tidak perlu banyak teman dan banyak yang mengenaliku, aku hanya butuh orang yang membuat aku merasa 'Ada' saat sedang terasingkan."...


...-Author...

__ADS_1


__ADS_2