Letter To My Albino

Letter To My Albino
Lukisan Makna


__ADS_3

2 hari berlalu.


Kini adalah hari peresmian Cafe milik Ela. Semua sudah bersiap termasuk mama dan Papah.


Bahkan mereka berdua berangkat lebih dulu Rain's Cafe, sedangkan kak Anir berangkat setelah mamah dan papah pergi.


Menggunakan motor yang biasa Ela pakai untuk menjemput sang pujaan hati yaitu Gea di Panti asuhan umma Lisa.


"Oke, liat dulu." Ela mengecek barang-barang yang ingin dia bawa.


"Lukisan kecil ada empat, lampu, keset, taplak meja, sama hmm ... lah kemana totebag satunya?"


Ela mencari-cari totebagnya yang hilang entah kemana. Padahal tadi pagi Ela sudah menitipkan ke Kak Anir.


Tin ... tin ... tin ....


"Nahkan Valdo udah dateng, totebag satunya ilang gimana ini?"


Ela masih berfikir keras saat menuju pintu luar sembari membawa barang-barang yang ingin ia bawa.


Menutup pintu dengan raut wajah di tekuk bak sedang ada masalah bertubi-tubi. Padahal Ela hanya kehilangan satu totebagnya.


Cklek....


Greek ....


"Maaf ya Val nunggu lama."


"Iya gak apa-apa kok. Kenapa muka kayak gitu? Lagi ada masalah ya?" tanya Valdo langsung.


"Iya."


"Masalah apa?"


"Totebag aku satunya hilang entah kemana."


"Coba fikiran dulu, siapa tau udah di bawa kak Anir atau mungkin mama, atau mungkin emang sudah kamu bawa kemarin ke Cafe."


Ela mencerna ucapan Valdo perlahan-lahan dan setelah perjalanan 5 menit, Ela baru sadar kalau totebagnya itu sudah di bawa oleh sang kakak.


Puk!


Ela menepuk pundak Valdo, bahkan wajah Ela memerah. Menutupi wajahnya di pundak Valdo membuat Valdo sedikit kebingungan.


"Kenapa?" tanya Valdo.


"Aku baru inget kalo totebagnya di bawa kak Anir hehehe."


"Nahkan, kamu malah panik duluan gitu."


"Heheheh, Valdo aku malu." Ela langsung memeluk tubuh Valdo dan menyembunyikan wajahnya di pundak Valdo.


Valdo hanya bisa tersenyum saja melihat tingkah Ela sang kekasih hati.


'Valdo wangi banget sih! Mana enak lagi parfumenya suka deh,' batin Ela saat tak sengaja menghirup udara yang melewati hidungnya.


Selama perjalanan, mereka mengenang-ngenang masa mereka sebelum Valdo menghilang.

__ADS_1


Menjelajahi tiap sudut jalan, tertawa bahkan bercanda bersama.


'Banyak kenangan yang telah kita lewati, tetapi aku suka saat kita bersama dan akan terus bersama,' ucap Valdo selama di perjalanan.


15 menit berlalu, Valdo dan Ela pun akhirnya sampai tepat waktu di Rain's Cafe.


Acara pembukaan Cafe ini pun dimulai, sembari berdoa bersama anak-anak panti, Ela secara resmi membuka bingkai yang tertutup kain putih itu.


Bruk ....


Terlihat wajah Valdo dalam lukisan di kanvas putih itu, sedikit terkejut dengan hasil karya lukisan sang kekasih tetapi Valdo menyukainya.


Saat membuka kanvas bertutur kain putih, terlihat sebuah lukisan seperti anak di sekolah dasar. Tetapi kata Ela lukisan ini miliki seribu makna yang tidak bisa ia ungkapkan sama sekali.


Para tamu undangan pun berdecak kagum melihat hasil karya dari tangan Ela. Bahkan raut bangga pun nampak sekali di wajah orang-orang yang menyayanginya.


"Valdo, Hmmm agaknya bucin akut lo ini La." Gea meledek.


"Ya suka, suka. Yang pasti gua buat lukisan ini penuh dengan perasaan," jelas Ela.


"Ini lukisannya kek anak SD tau Rain," ucap kak Anir saat melihat lukisan yang tak jauh dari samping lukisan wajah Valdo.


"Iya. Sengaja aku buat kayak gitu."


"Kenapa?"


"Karena di dalam lukisan itu, memiliki seribu makna yang gak bisa di ulang dan gak boleh di lupa lagi. Pastinya makna itu hanya aku dan tuhan aku yang tau."


Ela menjelaskan lukisan itu dengan mata berbinar seperti ia sedang jatuh cinta kepada lukisannya sendiri.


"Gua tau." Gea menyahut.


Tetapi Ela tidak menjawabnya, Ela hanya bisa tersenyum sembari memandangi lukisan indah yang ia buat.



'Iya. Itu aku dan Valdo.'


'Pertemuan awal kami di sebuah jalan pulang dan kejadian awal kami selalu berdampingan dengan pohon serta bangunan-bangunan yang ada di disini.'


'Kisah yang selalu aku buat bersama Valdo selalu berada di jalan, jalan dan jalan. Karena pertemuan kami berada di bumi yang sama dan kota yang sama.'


'Begitulah perumpaannya dari lukisan ini, lukisan hasil karya ku yang ingin aku persembahkan untuk kalian semua. Termasuk untuk orang yang aku tuju.'


"Makasih ya Rain," ucapan Valdo membuat jantung Ela berdebar-debar.


Mungkin rasa ingin pingsan pun ada saat itu. Tetapi Ela harus memasang wajah stay cool agar harga dirinya tidak jatuh tepat di hadapan Gea.


Mengapa?


Karena mungkin saja Gea akan meledeknya kembali seperti biasa bahkan bisa jadi mereka akan seperti kucing dan guguk yang sedang berperang.


Tamu undangan kali ini menghadirkan Bimo, Ryca, Cila, Riky, umma dan anak-anak panti lainnya.


Serta kolega-kolega kak Anir bahkan teman-teman papah Roy pun datang. Walau sederhana tetapi mereka sangat menikmati waktu bersama ini.


...~•~●~•~...

__ADS_1


Ruang Vvip.


Cila, Ela, Bimo, dan Ryca sedang berkumpul membahas seputar kejadian-kejadian masa remaja mereka berempat.


Sedangkan Valdo, Kak Anir dan Gea sedang bersama mama Nia dan papa Roy.


"Dah lama ya gua gak ketemu si Cila," ucap Bimo sembari memakan shandwich miliknya.


"Iya, lama banget kan ya."


"Kemana aja kamu?" tanya Ryca.


"Aku di Jogya sekarang. Bantu mamas ngajar di pesantren." Cila menjelaskan.


"Oalah, jadi kamu masuk Pesantren sekarang?" tanya Bimo.


"Bukan, aku mah kuliah di universal islam Yogyakarta tapi sekalian ngajar di Pesantren mamas."


"Wah, jurusan apa?" tanya Ela.


"Tarbiyah."


"Hmm bagus, bagus."


"Oh iya, BTW umma Lisa itu mbak kamu?"


"Iya, teh Lisa itu sepupu aku dan Riky itu sepupu angkat aku dari anaknya paman Jaya."


"Oalah ..." jawaban kompak dari Ela dan Ryca.


"Kompak amat lu berdua! Tumben?" sahut Bimo.


"Ngomong-ngomong Anton gimana kabarnya?" tanya Cila lagi.


Uhuk ...


Bimo tiba-tiba tersedak makanan yang baru saja ia telan. Mungkin Bimo baru sadar kalau temannya ini menyukai Anton sejak lama.


"Anton baik kok. Kemarin pas aku balik ke Lampung, aku ketemu Anton di kampungnya."


"Oh ya?"


"Iya, aku kesana sama teman-teman SMA terus kami juga nginep semalem di rumah Anton karena kami ke kampungnya mau liat festival adat Sekura."


"Wah enak ya."


"Dia juga nanya kamu tau Cil, dia kangen sama kamu katanya."


"Karena kamu gak pernah mau temenan sama kita lagi semenjak kejadian itu," lanjut Ela lagi.


"Bukannya gak mau, tapi aku malu tau! Bahkan sampe sekarang aku masih malu," ucap Cila dengan raut wajah memerah.


"Udah lupain aja. Lagian itu kan masa lalu masa iya mai di inget-inget terus," ujar Ryca.


'Mana mungkin gua lupa kejadian itu Re, secara gua ada di lokasi. Gua bakal selalu inget kejadian lucu jika gua ada di tempat,' batin Bimo sembari menahan tawa di wajahnya.


'Muka Bimo gak bisa di kondisiin dasar Bimo ini, gak ngerti situasi banget,' umpat Ela dalam hatinya.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2