Letter To My Albino

Letter To My Albino
Pertunangan


__ADS_3

"Ayok kita berangkat!" Baru saja mereka beranjak dari tempat duduk ini tiba-tiba Pian datang untuk memberikan sebuah kabar.


"La!" Teriak Pian dari belakang.


"Hmm? Ngapa?" Tanya Ela.


"Lo di suruh Anir ke Bandara sekarang! Karena 30 menit lagi mereka berangkat," ucap Pian memberikan sebuah info.


"Oh, iya gua udah tau kok."


Deg!


"Katanya tadi ceklis pas Anir ngechat lo."


"Baru gua hidupin lagi hpnya tadi pas makan," jelas Ela.


"O-oalah yaudah gua balik ke ruangan dulu ya bye!"


"Eh bentar! Kok lo kenal sama kakak gua Yan?" tanya Ela.


"Enggak, gua cuma klien penerbit buku aja. Dah lah gua balik ya." Pian pun lari ke arah ruang UKM.


'Ada yang aneh,' batin Ela.


"Udah ayok sebentar lagi mereka berangkat, " Ajak Valdo.


"Tapi aku gak tau jalan pintasan ke Bandara." Ela menyeringai.


"Oalah, yaudah aku yang bawa motornya."


"Emang bisa?" Ucap Ela spontan.


"Eh, maksudnya hmm..."


"Bisa, ayok." Valdo mengenggam tangan Ela selama menuju ke parkiran Kampus.


Deg ... deg ... deg ...


'Haduh .... anteng ya anteng. Tolong ini mah!' Batin Ela sembari menundukan pandangannya.


Ela paham sekali dengan tubuhnya, jika jantungnya berdegup cepat otomatis wajahnya akan memerah seperti kulit Valdo ketika terpapar sinar matahari terlalu lama.


Parkiran Kampus.


"La?" Valdo menengok ke arah belakang.


Ela masih dengan posisi menundukan kepalanya karena ia malu jika wajah merahnya sampai terlihat oleh Valdo.


"Ela?" Panggil Valdo dengan lembut.


"I-iya Val?"


"Hmmm kenapa bengong? Sini!" Valdo memakaikan helm Ela, merapihkan rambutnya sembari tersenyum.


'Ya ampun Valdo manis banget sih!' batin Ela berbunga-bunga.


Selama di perjalanan, Ela tersenyum-senyum sembari memandang pundak Valdo. Wajah berseri-seri pun nampak terlihat jelas.


Perjalanan pun memakan waktu 20 menit lebih cepat karena Valdo mengendarai motor cukup cepat dan melalui jalan pintas juga.


...~•~●~•~...


Bandara.


Kak Anir, mamah Nia dan papa Roy sudah menunggu Ela disana. Bersama dengan Gea dan juga Umma Lisa.

__ADS_1


"Mana Ela ini?" tanya Kak Anir.


"Sabar lagi di jalan dia."


Tidak lama kemudian, ada teriakan dari arah belakang mereka yang sedang menunggu.


"Mamah!" Teriak Ela sembari berlari..


Ela tersenyum diiringi nafas teregah-engah, "Hehehe maaf ya aku baru dateng."


"Lah katanya sama Valdo, mana Valdo nya?" Tanya mamah Nia.


"Itu di belakang."


Dan Valdo pun menghampiri mereka juga, bersalaman lalu berdiri di samping Umma Lisa.


"Kamu beneran gak ikut sayang?" Tanya mamah Nia lagi.


"Iya Mah, aku ada tugas desain sama Valdo untuk di tampilkan nanti pas pameran, jadi aku gak bisa ikut," jelas Ela.


"Iya tah?" Tanya kak Anir.


"Gak percaya, tanya aja sama Valdo!"


"Yaudah pokoknya kamu hati-hati di rumah ya! Jangan lupa makan, jangan lupa minum vitaminnya, jangan lupa kunci semua pintu gerbang, pintu rumah, jendela."


"Terus juga telfon mamah, papah kalo ada apa-apa. Terus jangan begadang dan Valdo tolong jagain Ela ya selama beberapa hari ini!" Lanjut ucapan mamah Nia lagi.


"Iya siap laksanakan tante." Valdo menjawab diiringi senyum tulus.


"Iya-Iya mamah aku yang cerewet, aku ini udah gede. Aku pasti kunci semua pintu, semua jendela, aku gak bakal telat makan, gak begadang dan aku bakal hati-hati. " Ela mendengarkan perintah mamahnya.


Dan akhirnya jam keberangkatan mereka pun di mulai, Ela melambaikan tangan ke keluarganya sembari tersenyum manis.


Hatinya sedih sekali karena ini pertama kalinya Ela berpisah dengan keluarganya. Bahkan kak Anir merasakan hal yang sama.


Jika bukan karena niatannya sudah bulat untuk melamar sang kekasih, mungkin dia tidak akan pergi.


Mungkin jika Ela sedang tidak kuliah, semua keluarga mereka datang ke Aceh bersama. Tapi ini bukan perpisahan tetapi awal menjemput kebahagiaan.


"Huh ... berapa hari ya mereka disana?" tanya Ela dengan raut wajah lesu.


"Memangnya keluarga kamu akan melakukan perjalanan kemana?" Tanya Valdo.


"Ke Aceh."


"Untuk?"


"Kak Anir tunangnan sama Gea. Kakak sudah membuat keputusan beberapa hari yang lalu. Tapi aku baru tau tadi pagi. Huh ... sudahlah ayok kita pulang Val."


"Iya ayok kita pulang."


...----------------...


Beberapa hari lalu.


Kak Anir menemui Gea dan dia pun menyampaikan niat baiknya untuk melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius.


Kak Anir juga menyampaikan bahwa ia akan menemui orang tua Gea bersamaan saat Gea akan kembali ke tempat asalnya.


Gea sedikit tidak percaya tapi Gea memperbolehkan niat baik kak Anir tersebut.


...~•~●~•~...


Pagi hari ini sebelum Ela berangkat kuliah.

__ADS_1


Tap ....


"Mamah masak apa?" tanya Ela.


"Masak kesukaan kamu dong."


"Wah apa?" Tanya Ela exaited.


"Ini, omlate balado."


"Wah, makasih mamah."


Tidak lama kemudian kak Anir turun dari kamarnya, sudah berpakaian rapih dan juga aroma parfumenya sudah memasuki seluruh ruangan di rumah.


"Mau kemana kak?" tanya Ela sembari sarapan pagi.


"Mau ke ambil buah tangan."


"Hah? Buah tangan untuk acara apa?"


"Hari ini, mamah, papah sama aa mau ke Aceh. Mengantarkan Gea sekaligus melakukan acara tunangan."


"Ih kok gak kasih tau?" Tanya Ela sedikit kesal.


"Ini barusan di kasih tau," ucap kak Anir santai.


"Kamu ikut pokoknya!" Ajak kak Anir.


"Aku gak bisa ikut, aku lagi banyak tugas kelompok. Kalo di lepasin gimana nilai aku? Nanti malah aku ngilang lagi."


"Iyaudah, kalo gitu nanti pas pernikahan kakak aja kamu datengnya," ucap Kak Anir lagi.


"Iya deh oke."


"Tapi kamu gak apa-apa sendirian di rumah Rain?" Tanya Papah.


"Enggak apa-apa lah, kan anak papah ini jagoan! Gak takut sendirian dan gak penakut," jawab Ela santai.


"Tapi hati-hati ya sayang, " ucap mamah Nia.


"Iya mamah, jangan khawatir. "


...----------------...


Kabar bahagia ini pun sampai tepat di telinga Riky, walau dadanya sedikit sesak tetapi begitulah takdir kehidupan.


"Lucu ya!" ucap Riky meratapi takdir yang ia alami.


"Kenapa takdir kehidupan sering ngajak bercanda? Tapi gak ada sama sekali yang tertawa! Hahaha lucu," ucap Riky saat sedang duduk di taman mantap langit berawan.


'Sebentar lagi aku akan menjadi ayah, tapi setelah melakukan tes DNA. Tapi bagaimana aku bilang ke bapak?' Batin Riky masih berkecamuk dengan pikirannya sendiri.


Huuuuh... (Riky menghela nafas berat.)


'Dia sudah mendapatkan kebahagiaannya dan begitu pula dengan diriku.'


...----------------...


Kembali lagi ke tempat Ela dan Valdo berada.


"Riky gimana kabarnya? Kok dia tiba-tiba ngilang," tanya Ela penasaran.


"Entahlah aku pun sedikit khawatir dengan dia, tapi aku yakin dia baik-baik saja."


Ela dan Valdo takut akan kejadian yang lalu terulang kembali, Riky pergi entah kemana dalam ke apaan emosi sehingga dirinya mengalami sebuah kecelakaan. (part Pelangi di Bulan Juni)

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2