Letter To My Albino

Letter To My Albino
Penyesalan


__ADS_3

"Mau ke warung bersamaku?" tanya Ela sembari tersenyum.


Anak laki-laki itu menganguk-anggukan kepalanya dan berkata, "Aku izin ke umma dulu ya teh," Ela pun mengiyakan sembari menunggu di luar.


"Ayok teh, aku udah bilang tadi."


Sembari bergandengan tangan, Ela dan anak laki-laki itu pergu menuju warung untuk membeli beberapa coklat serta jajanan ringan.


"Naik, naik ke puncak gunung tinggi tinggi sekali, kiri kanan kulihat saja ada warung disana," anak laki-laki itu bernyanyi dengan lirik dan nada yang salah.


Ela hanya bisa tersenyum saja, memandang anak laki-laki ini dan dia pun ikut bernyanyi.


"Kiri kanan ku lihat saja banyak pohon cemaraaa."


"Kok pohon cemara teh? kan kiri kanan kita rumah orang sama warung," pertanyaan polos anak laki-laki ini.


"Ahahahha tapi lirik lagunya emang kayak gitu sayangku."


"Iya tah?"


"Kalau teteh boleh tau nama kamu siapa? kok kita belum kenalan ya?"


"Oh iya aku belum kenalan sama teteh Ela ya hehehe, nama aku Ruli."


"Wah namanya bagus, kayak orangnya ya," gombal Ela.


Ruli kecil hanya bisa tersipu malu sembari memainkan bajunya untuk menutupi mukanya.


Sesampainya di warung, Ela bertanya kepada Ruli, "Kamu mau beli apa? ambil aja dan beliin juga untuk temen-temen kamu ya."


Ruli kecil hanya mengangguk-anggukan kepalanya saja lalu memilih beberapa makanan disana.


Ela mengambil minuman coklat 2 serta jajanan pedas untuknya. Sedangkan Ruli sudah memilih jajanan yang cukup banyak sampai akhirnya dia berucap, "udah banyak teh hehehe."


"Udah bu, berapa semuanya?"


"55 ribu."


"Tambah roti ini bu satu pack, sama cici ini satu pack."


"Jadi totalnya 85 ribu."


"ini bu," Ela memberikan uang pas kemudian kembali ke panti.


Di perjalanan kembali ke panti, Mereka berdua bernyanyi bersama sembari bergandengan tangan.


...~•~[Di Panti]~•~...


Ado bergabung bersama anak-anak dan ia pun tersadar kalau salah satu anak kecil yang identik tidak ada disini.


Begitu pun dengan Ela, Ado mulai khawatir karna mereka berdua tidak terlihat disini.

__ADS_1


"Umma, Ela sama Ruli dimana?" tanya Ado panik.


"Lagi ke warung deh kayaknya."


"Dari tadi?" tanya Ado lagi.


"Iya dari tadi, mungkin sebentar lagi kembali."


Tidak lama kemudian suara nyanyian dari luar pagar terdengar dan benar saja, Ela dan Ruli kembali membawa makanan yang cukup banyak.


"Aku pulang umma."


"Teman-teman mau gak? aku di beliin jajanan banyak tau sama teh Ela," ucap Ruli memanggil teman-temannya.


Ela hanya tersenyum memandangi Rulli dan anak-anak panti memakan jajanan bersama.


"Kok langsung dimakan?" tanya umma, seketika anak-anak itu terdiam.


"Gak mau bilang 'terimakasih' ke kak Ela gitu?" tanya umma lagi ke anak-anak panti.


"Oh iya lupa hehehe, makasih teh Ela."


"Terimakasih kembali."


'Entah kenapa senyum anak kecil ini selalu terlihat tulus, walaupun keadaan mereka tanpa orang tua lengkap dan banyak kesulitan tapi... Setiap kata yang mereka ucapkan benar-benar tulus dari hati,' Ela membatin sembari memandangi anak-anak itu dengan tersenyum.


Ado mengajak Ela pulang dan Ela pun mengiyakan perkataan Ado itu. Di perjalanan pulang kali ini, Ela hanya diam saja berdamai dengan perasaannya.


Degup jantung Ela semakin cepat kala ia melihat pundak Ado, 'Duh gua kenapa sih?' batin Ela.


Ado pun heran mengapa Ela diam saja, padahal dia adalah perempuan paling periang yang penah ia temui.


'Bagaimana mungkin aku bisa meninggalkan dirimu disini sendirian? aku sudah berjanji akan menjagamu selamanya tapi kamu juga harus menunggu saat itu ya La,' batin Ado sembari menatap jalan.


"Ado?"


"La?"


Panggilan kompak seperti couple yang sedang ingin mengungkapkan isi hati.


"Lo duluan aja Do, gua lupa mau ngomong apa."


"Kamu kenapa? lagi badmood ya?"


"Enggak."


"Tumben dari tadi diem aja."


"Lagi males ngomong," ucap Ela, diiringi degup jantung yang semakin cepat.


'Aduh, walau jantung ini di dalem tubuh gua, tapi gua takut Ado denger,' batinnya sembari menutupi dadanya dengan hoddie hitam miliknya.

__ADS_1


"Mau beli makan gak?"


"Gak usah udah kenyang," ucap Ela lalu membatin, 'udah langsung pulang aja ya please.'


"Yaudah deh."


...~•~[Kantor Toko Roti Riky]~•~...


Riky membaca perlahan tulisan demi tulisan yang ada buku kecil itu. Diiringi senyum walau terkadang lukiran senyum yang ia keluarkan terasa pahit.


Riky aku akan pergi dari panti ini. Mungkin aku yang pertama meninggalkan kamu dan teman-temannya disini tapi suatu saat nanti aku akan merindukanmu dan aku akan kembali.


Riky, surat-surat yang saya tulis dalam buku ini akan saya titipan ke Valdo supaya dia menyampaikan ke kamu. Aku tidak mau memberikan buku ini ke Eja.


Karena aku tau Eja pasti tidak akan memberikannya padamu. Mengapa? karena Eja pernah bilang kalau dia menyukaiku, tetapi umma bilang kita itu seperti saudara kandung jadi aku hanya menganggapnya kakak kandung saja.


Riky aku juga menganggapmu sebagai kakak kandungku, hanya saja kau lebih spesial dari mereka.


Riky? apa kamu bisa berjanji pada ku kalau kau akan menjaga Valdo dengan baik? aku tau dia sering di ganggu oleh Eja tanpa sepengetahuan dirimu.


Riky? bolehkah aku meminta tolong padamu? tolong sampaikan ke Eja jangan mencari masalah ke Valdo atau nanti akan Aku hajar dia!


Riky, Valdo sahabatku dan sudah seperti adikku sendiri jadi aku mohon jaga dia. Walau dia terlihat aneh, bukankah itu menjadi ciri khasnya sendiri?


Riky, Aku Menyayangimu. Layaknya kakak dan adik begitu pun dengan Valdo.


^^^Oktober 2005^^^


^^^salam manis Gea Vieka^^^


'Jadi gua selama ini salah orang ya? gua malah ada di pihak yang salah dan gua baru sadar, gua bener-bener jahat wajar kalau Ela gak ngeliat gua dan wajar kalau nanti Gea tau kejadian ini terus dia benci sama gua.' batin Riky sembari menatap konyol dirinya sendiri di balik kaca gelap.


"Gua bakal bantuin Ado kali ini."


"Tapi kenapa Eja..."


...~•~[Rumah Ela]~•~...


"Makasih ya Do," ucap Ela langsung lari kedalam rumahnya.


Ado mengiyakan perkataan Ela sambil melihat gelagat Ela yang cukup aneh hari ini.


"Kayaknya ada yang lagi dia tutupi," gumam Ado. Seketika dirinya overthiking.


'Apa aku salah ngomong ya? Apa aku buat Ela jadi badmood? Ela kenapa ya? Ela sakit? astaga kenapa perempuan susah banget di tebak?!' batinnya Ado di sepanjang perjalanan pulang ke rumahnya.


Bersambung...


..."Rasanya seperti jatuh di tumpukan kaca yang tipis, sakitnya muncul sangat lama kemudian menimbulkan bekas luka yang ternyata ada bercak darahnya. Itulah perasaan yang sedang aku rasakan."...


...- Rj...

__ADS_1


__ADS_2