Letter To My Albino

Letter To My Albino
Terjadi Lagi


__ADS_3

"Gimana? Lo udah siap?" Tanya orang itu.


"Saya selalu siap dan akan siap."


"Bagus!"


"Hitungan ketiga kita mulai. Satu, dua, tiga!"


Byur!


Orang itu memulai perlombaan. Saat itu Ela sedang tidak ada entah pergi kemana, hingga Valdo dan orang itu hampir sampai di perbatasan, Ela datang meneriaki mereka dari jembatan.


Tap ... tap ... tap ...


"Valdooo!"


"Valdo balik kesini!"


"VALDOOO!"


"Apasih yang Anton mau hah?"


"Apa-apaan ini? Lomba berenang ilegal di terik matahari?"


"Apasih mau nya? Udah tau Valdo gak bisa kena panas matahari! Kalau penyakitnya muncul lagi gimana?"


Saat itu Ela panik, menunggu Valdo dan Anton kembali ke jembatan cokelat ini.


Ela berjalan bolak-balik di ujung jembatan ini, ebari bermain dalam fikirannya.


Ela tidak mau Valdo hilang lagi, apalagi sampai berbulan-bulan lamanya. Karena sudah di pastikan Ela tidak dapat bertahan.


"Valdoo! Cepet kesini."


Valdo dan Anton masih melanjutkan perlombaan itu. Posisi mereka saat ini sudah berenang kembali ke arah jembatan.


Namun saat di tengah-tengah menuju jembatan, kaki Valdo tiba-tiba saja keram. Tidak bisa bergerak bahkan saat ia berteriak saja, Anton hanya melihatnya dengan mimik wajah menyeringai.


Ela melihat kejadian itu semakin panik dan ia juga harus mencari cara agar bisa memberikan pertolongan ke kekasihnya.


Anton tetap melanjutkan berenang hingga sampai tepat di jembatan. Naik ke atas jembatan dan ...


Plak!


Ela menampar wajah Anton dengan sekuat tenaga. Setelah menampar Anton, Ela langsung menghampiri Valdo yang sudah hampir kehabisan tenanga.


"Ela jangan!" Ucap Anton karena ia sudah memenangkan pertandingan ini.


Tetapi Ela tidak memperdulikannya dan Ela langsung menyeburkan dirinya ke arah Valdo.


Walau ia hanya bisa menggunakan teknik berenang biasa, tetapi Ela bisa membantu Valdo untuk ke daratan segera.

__ADS_1


Ela mulai menyelam, meraih tangan Valdo dan menariknya ke luar dari kepungan air laut ini.


Sedikit perjuangan Ela menarik Valdo karena tekanan air dan juga nafasnya yang semakin memberat.


Hingga akhirnya ada seseorang yang membantu Ela menarik Valdo keluar dari dalam air laut ini. Membawa tubuh Valdo naik ke perahu karet, orang tersebut lalu membantu Ela naik.


"Huah ... hah ... hah ... hah ... hah ...."


"Valdo!"


"Val, Valdo." Ela mengguncangkan tubuh Valdo.


"A-Kak Anir?" Ela menoleh ke arah seseorang yang menyelamatkan nyawa mereka berdua dan ternyata kakaknya sendiri lah yang menyelamatkannya.


"Aa bantu Valdo ya! Tolong!" Ucap Ela memohon.


"Iya, iya. Kita ke tepi sekarang. Aa bantu," ucap kak Anir menenangkan sang adik.


Selama perjalanan ke tepi, kak Anir sudah melakukan pertolongan pertama ke Valdo dan saat sampai di tepi pantai, kak Anir melakukan pompa di dada sembari memberikan nafas buatan.


Tapi Valdo juga tak kunjung sadar atau pun mengeluarkan air air yang sudah terminum.


Tubuh Valdo sudah memerah layaknya kepiting rebus yang baru saja di angkat dari panci. Hanya memerah namun belum ada reaksi.


Valdo pun akhirnya di larikan ke rumah sakit menggunakan mobil kak Anir, bersama Ela dan juga asisten rumah tangga tante Arista.


Ela hanya bisa menangis selama di perjalanan hingga akhirnya mereka sampai di rumah sakit terdekat.


Perawat dan juga Dokter langsung membawa Valdo ke ruang UGD untuk di lakukan pemeriksaan lebih lanjut.


Kak Anir menarik Ela untuk tidak ikut karena tubuhnya masih basah dan Kak Anir menyuruh Ela membersihkan tubuhnya terlebih dahulu di toilet rumah sakit.


Ela hanya bisa menurut saja, di bantu asisten tante Arista. Mengganti pakaiannya dan duduk kembali di ruang tunggu.


"Hiks ... hiks ... hiks ...."


"Kak, kalau Valdo kayak waktu itu gimana?" Tanya Ela memeluk sang kakak.


"Enggak La, enggak. Valdo bakal baik-baik aja kok." Kak Anir menenangkan Ela.


Ela menangis di pelukan sang kakak hingga akhirnya dokter memanggil mereka. Kak Anir melarang Ela untuk ikut dan Ela hanya bisa menunggu saja di ruang tunggu.


Menundukkan kepala sembari mengigit bibir bawahnya sendiri karena menahan tangis, Ela tidak bisa tenang.


Hatinya berkecamuk bahkan hatinya sakit sekali kala sahabatnya benar-benar menjadi musuh terbesarnya.


"Lo jahat banget Ton!" gumam Ela.


Setelah Valdo selesai di periksa oleh perawat, Ela boleh menemani Valdo di dalam.


Ela menatap Valdo penuh dengan cinta, matanya berkaca-kaca dan mungkin saja tangisan Ela tumpah.

__ADS_1


Ela meminta maaf karena lagi-lagi ia tidak bisa menjaga Valdo dengan baik tetapi saat air mata Ela jatuh begitu deras, tangan Valdo meraih wajah Ela.


"Jangan nangis ya cantik, aku gak kenapa-kenapa kok." Valdo membuka pembicaraan.


"Valdo?!" Ela tersenyum dan langsung bangkit dari duduknya. Memeluk tubuh Valdo sembari meminta maaf kembali.


"Badan kamu merah lagi Val."


"Gak apa-apa La, aku cuma kepanasan aja."


"Aku gak mau kamu pergi lagi. Aku minta maaf gak jaga kami dengan baik."


"Enggak La ini emang resiko aku."


"Aku sayang kamu Val, jangan pergi lagi ya tolong. Jangan ngilang lagi ya oke," pinta Ela ke Valdo.


Valdo hanya menganggukan kepalanya saja sembari tersenyum walaupun sebenernya tubuh Valdo saat ini terasa panas.


Sakit, dan seperti mengeras karena paparan sinar matahari di laut itu. Tubuhnya juga terasa pedih tetapi ia tak mau sang kekasih sampai menangis lagi.


'Aku sudah berjanji menjaga senyummu. Jadi jangan sampai aku membuatnya menangis lebih lagi setelah ini,' batin Valdo.


'Tetapi ... mungkin saja aku akan pergi ke jauh dari tempat ini selama beberapa bulan untuk menyembuhkan tubuhku.'


'Dan aku berharap sel yang dulu sudah di buang tidak muncul kembali.'


"Jangan nangis ya sayang. Masa iya bidadari kayak kamu nangis gitu aja?"


"Aku takut kamu pergi."


"Enggak, aku gak akan pergi sayang."


'Aku akan menjagamu hingga akhirnya nafasku, itu lah janjiku dari dulu dan aku akan selalu menemani mu dalam keadaan apapun,' ucap Ela dalam hatinya.


Ela menggenggam erat tangan Valdo hingga sang kakak datang menemui mereka berdua.


Kak Anir juga menyampaikan kalau Valdo akan mendapatkan rujukan ke rumah sakit utama.


Valdo pun memahami akan kondisi tubuhnya sendiri sehingga ia sudah tidak lagi terkejut dengan rujukan yang akan datang.


Kak Anir membantu Valdo penuh kali ini tetapi saat Ela pergi keluar dan hanya ada kak Anir yang berada disini.


Valdo meminta sebuah bantuan ke kak Anir untuk merehasiakan apa yang sedang terjadi di dirinya.


Dan Valdo juga meminta ke kak Anir jika nanti dia pergi lagi selama beberapa bulan, tolong jaga senyum Ela.


"Tolong jaga Ela ya kak, maaf jika saya belum bisa menepati janji yang saya ucap waktu itu."


"Iya, cepatlah sembuh dan ..."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2