Letter To My Albino

Letter To My Albino
Mimpi


__ADS_3

Sore itu pun Ela dan keluarga kembali ke kediamannya. Selama di perjalanan Ela memainkan ponsel miliknya, kak Anir hanya bisa mengintip dari samping Ela.


"Ganteng ya kak," ucap Ela menyodorkan foto anak kecil berbadan putih.


Mungkin saja itu Valdo dulu saat masih balita. Ela memandanginya sembari tersenyum-senyum sendiri.


"Siapa? Aa ya," goda kak Anir ke adiknya.


Sembari memberikan senyum genit dan mata di kedip-kedipkan. Tetapi respon Ela seperti jijik dengan sikap kakaknya itu.


"Ih apa sih Aa, geli tau! ganjen banget," ucap Ela dengan raut wajah tidak karuan.


"Dih kan, kakak sendiri di ejek kayak gitu loh astaga jahat."


"Iya, Aa ganteng kok. Tapi lebih ganteng lagi kalo gak kepedean!" cetus Ela langsung mengalihkan pandangannya.


"Hmmmm dasar anak kecil," ucap Kak Anir mencubit hidung Ela.


"Aaaah, sakit tau Aa!"


Belum saja Ela mengadu, kak Anir langsung meledeknya lagi, "Mama, papa."


Puk.. puk.. puk..


Ela memukuli sang kakak dengan sekuat tenaga. Tidak lama kemudian mobil mereka berhenti di pinggir jalan.


Ela dan kak Anir berfikir karena mereka berisik di dalam mobil makanya papa akan meninggalkan mereka berdua di tengah jalan.


Tetapi, Papa berhenti untuk mengajak kami ke sebuah tempat. Seperti Cafe, tapi bukan. Pemandangannya sangat cantik tetapi entahlah.


"Apa ini pah?" tanya Ela.


"Liat lah ini Cafe hujan yang papa buat untuk kamu jalankan nanti setelah lulus kuliah."


"Tapi pah aku kan.." ucapan Ela langsung terpotong oleh papa.


"Kamu juga bisa mempromosikan komik yang kamu buat disini dan kamu juga bisa mendesain tempat ini sesuka kamu," potong papa, melanjutkan ucapannya tadi.


"Bagus tuh Rain idenya, nanti aa juga bantuin deh."


"Nah iya mamah juga bisa collab disini, jadi dagangan cake mamah bisa di taruh disini. Siapa tau kan ada yang mau," saran kak Anir.


"Iya juga ya," ucap mamah.


Ela tidak menjawab mereka bertiga, karena mimpinya bukan seorang pengusaha tetapi seorang komikus terkenal.


Tapi apalah daya papa sudah membuat semua ini. Mau tidak mau Ela harus menerimanya dan mau tidak mau Ela harus menyeimbangkan mimpinya dengan usaha yang papah Roy titipkan.


5 menit kemudian,


"Bagaimana?" tanya papah.


"Oke, tapi aku tetep mau jadi komikus terkenal loh ya!" ancam Ela ke papah dan kakaknya.


"Iya," jawaban kompak dari papah Roy dan Kak Anir.


Mamah Nia hanya bisa tersenyum lebar saja sembari mengusap kepala anak bungsunya. Mereka berkeliling tempat ini, memang belum jadi sempurna tetapi, bentuk seperti ini saja sudah sangat cantik.


Bagaimana nanti sudah jadi? Mungkin akan lebih indah lagi jika guratan tinta di atas canvas karya asli Ela di pajang di dinding tempat ini.


"Rain's Cafe," ucap Ela tiba-tiba.


"Nah bagus tuh, nanti papah ganti papan plang nama di depan."

__ADS_1


"Setuju! aa pun, mamah gimana?"


"Setuju banget dong."


"Eh a-apaa apa ih, orang aku cuma mikir asal-asalan aja kok," ucap Ela seperti gugup.


"Udah La, kita semua udah setuju kok nama tempat ini di ganti jadi Rain's Cafe," ucap kak Anir.


"Ihh, udah yuk pah kita pulang."


Seperti biasa, energi yang Ela keluarkan cukup banyak sehingga tubuhnya tiba-tiba saja melemas dan langsung bersandar di pundak sang kakak.


'Padahal baru sehari tapi energi yang udah di tanaman selama beberapa bulan ini langsung habis seketika,' batin Ela.


'Apa mungkin karena aku banyak ketemu sama orang kali ya, pas di rumah sebelum berangkat, pas di rumah nenek, pas di rumah Oby. Huh.. lelah sekali,' lanjut Ela lagi sembari menutup matanya.


Sepi, itulah susunan saat di perjalanan. Papa pun menghidupkan musik agar tidak seperti dalam sebuah box kosong karena suasana mulai sepi.


Kak Anir mengusap pundak adiknya sembari menatap luar jendela begitu sepi, tetapi suara takbir ada dimana-mana.


Tatapan kak Anir pun tiba-tiba tertuju pada sebuah benda, tidak itu orang tapi? Entahlah. Kak Anir tidak tau itu apa yang pasti dirinya sangat fokus pada hal itu.


Bahkan sampai lampu merah mulai berwarna hijau pun kakak Anir masih fokus ke pandangan yang ada di depannya.


Sampai kak Anir memutarkan kepalanya ke arah belakang dan pertanyaan demi pertanyaan pun langsung memenuhi fikirannya.


'Apa itu? Bukan. Gak mungkin, tapi bisa aja," ucap kak Anir menebak siapa yang ia lihat tadi.


10 menit kemudian,


Keluarga kecil ini sampai di kediamannya. Kak Anir pun mulai membangunkan adik kecil yang masih tertidur di pahanya.


Mamah sudah membukakan pintu gerbang dan saat mamah menuju ke arah depan pintu, ada sebuah buket bunga tulip putih tepat di depan pintu.


Ada tulisan tertera di dalam buket tersebut dan tulisannya seperti ini.


_______________________________


...Hai Rain,...


...Minal ‘aaidiin wal faaiziin, mohon maaf atas kehilangan ku saat ini. Aku tau aku salah tetapi semoga kita akan bertemu lagi nanti ya....


...Di tempat kita pertama kali bertemu. Aku merindukanmu dan surat yang kamu berikan secara tidak sengaja waktu itu aku sudah menerimanya....


_______________________________


"Rain ini untuk kamu," ucap mamah.


Ela masih setengah sadar bahkan jalannya pun di tuntun oleh sang kakak sampai di depan pintu rumah.


"Hoaam, apa mah?" tanya Ela seperti mimpi.


"Ini ada bunga untuk kamu,"


"Mana?" tanya Ela lag, padahal mamah Nia sudah menunjukan buket itu.


"Ini," mamah Nia langsung menyerahkan buket bunga tersebut.


Ela hanya mengambil bunga itu dari tangan mama, tetapi dia tidak melihat apa isinya, bahkan tubuhnya pun seperti melayang saat menaiki tangga.


Kak Anir selalu standbye di belakang Ela untuk berjaga-jaga kalau adik kecilnya ini salah langkah.


Grek..

__ADS_1


"Hoam, assalamualaikum," ucap Ela sudah sampai di kamarnya.


Srek..


Ela menaruh buket itu di atas meja dan tubuhnya pun ia baringkan di kasur empuk miliknya. Dan pastinya Ela melanjutkan tidurnya lagi.


Grek..


Kak Anir mengecek sang adik, ternyata sudah tertidur lagi tanpa bebersih dahulu.


"Besok aja deh jelasinnya,"


Blam..


...----------------...


"Siapa?" tanya seseorang menuju pintu.


Grek..


"Ngapain lo disini?"


"Gua mau minta maaf sama lo."


"Duh kalo lo mau minta maaf sama Ado sana jangan sama gua. Gara-gara lo Ado ilang tau gak?"


"Iya gua tau, gua minta maaf ya."


"Gua bakal bawa kembali Ado," lanjutnya.


"Untuk apa? untuk lo siksa lagi?"


"Enggak gitu La."


Keesokan harinya,


Ela melihat seseorang sedang di siksa di lapangan. Tubuhnya diikat dan banyak bekas campuran di tubuhnya.


Ela tidak menyangka kalau itu adalah Valdo dan yang menyiksanya itu adalah kakaknya sendiri Eja.


"EJA!"


"GILA LO YA! APA SIH SALAH ADO SAMA LO?"


"Kenapa? Suka-suka gua dong, mending lo main sama kita aja gimana?" goda Eja.


"Eja, saya peringatin kamu jangan sentuh Ela!" tegas Valdo.


"Hahaha naj!s, budak-budak kayak kalian tuh pantas untuk dapat hukuman ini tau?!"


"Ucapan laki-laki sampah, ucapan yang lo omongin kemarin gak bisa lo jaga dan gak bisa laksanakan."


"Ucapan mana? gak denger."


"Maaf, lo kemarin minta maaf ke gua, sampe dateng dan sujud di hadapan gua tapi? tapi apa yang lo lakukan ini keterlaluan Ja!"


"Lah ya suka-suka dong hahaha."


"Dasar BAJ***AN!"


Brugh!


"Aww!" lirih Ela sembari mengusap lengannya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2