
...POV INTAN...
Sebelum semua merenggut kebahagiaan ku, aku merupakan anak bungsu dari dua bersaudara.
Kakakku bernama Cantika tinggal jauh dari kami tepatnya di Kalimantan. kami memang terpaut usia sangat jauh.
Bahkan bisa di bilang kami terpaut usia 10 tahun, lucu ya. Seperti anak yang tidak di inginkan.
Setelah aku berusia 11 tahun, aku tinggal bersama nenek dan masuk SMP terdekat dari rumah nenek.
Aku merangkai, menulis bahkan mengikuti semua lomba puisi yang ada. Mengikuti berbagai macam kegiatan dan mengikuti keorganisasian.
Tetapi saat ospek berlalu, aku melihat laki-laki yang aku sukai malah melirik anak baru yang cukup cantik.
Siapa lagi kalau bukan Ela. Aku benci kepadanya bahkan bisa di bilang aku selalu melakukan berbagai cara untuk menjatuhkannya.
Sampai akhirnya aku dan dia bersama di titik terbawah, akhirnya dia pergi dari sekolah ini. Rasa penyesalan pun datang.
Bahkan bisa di bilang aku ingin sekali mengobrol berdua, menghampirinya dan meminta maaf langsung ke dia.
Tetapi kata teman-temannya Ela harus melanjutkan SMA di luar kota dan niat aku pun terhalang kembali.
3 tahun berlalu, malah kejadian tak terduga datang kepada ku saat aku selesai menonton konser di sebuah Club malam.
...~•~●~•~...
Sembari menangis aku keluar dari kamar hotel ku dan pergi meninggalkan hotel ini sejauh mungkin.
Berdamai selama sebulan membuatku terpuruk. Bahkan kuliah aku pun berantakan karena mentalku sedikit terganggu.
Datang ke psikologi, bertanya-tanya untuk meringankan beban di hati namun masih saja tetap berat.
Sampai akhirnya aku bertemu seorang ustazah bernama Lisa, dia memberikan aku sebuah perumpamaan-perumpaan untuk menenangkan hatiku.
Dan benar saja ceramah yang ia berikan membuat hatiku tenang. Setelah selesai berceramah, aku dia ajak ke sebuah panti untuk melihat dan berinteraksi dengan anak-anak kecil langsung.
"Assalamuallaikum."
"Waalaikumsalam, Umma!" ucap anak-anak panti datang menyerbu umma Lisa sembari memeluknya dengan pelukan hangat.
"Kenapa sayang-sayang umma?"
"Dia tadi nakalin aku, terus tante Cila marahin dia."
"Terus kamu juga di malahin kan cama tante Cila," sahutan demi sahutan anak kecil disini membuat hati Intan menjadi lebih tenang.
Puk ...
Tepukan pundak yang menyadarkan Intan dari lamunannya.
"Terimalah takdir yang telah terjadi. Maafkanlah dirimu sendiri dan berdoalah meminta yang terbaik untuk kehidupanmu selanjutnya."
"Apa ayah anak ini akan menjadi jodohku?"
"Belum tentu, tapi tidak ada yang tau. Jadi berdoalah meminta yang terbaik."
__ADS_1
"Iya, terimakasih umma."
"Datanglah kesini jika kau ada waktu."
"Iya umma, aku akan datang."
Setelah hari itu, aku dapat melanjutkan hidupku kembali. Kuliah seperti biasa bahkan aku sekarang memiliki seorang kekasih.
Bernama Bimo. Dia merupakan teman Ela tapi aku takut dia akan memutuskan aku jika dia tau kalau aku sedang mengandung.
Walau bukan anak dia, tetapi dia pasti akan kecewa nantinya jika dia tau aku sedang mengandung.
Dan mungkin saja dia akan mengira kalau aku mencari sasaran untuk di jadikan penanggung jawab atas kehamilanku.
Padahal aku tidak berniat menikah sampai waktu yang menentukannya.
"Kamu hamil? Anak siapa? Kita gak pernah berhubungan!" tanya Bimo ke Intan.
" .... "
"Jawab An***! Jangan buat gua bersalah!"
"Yang pasti bukan anak kamu," jawabku dengan nada sedikit berat dan susah untuk di keluarkan.
"Sialan! Aku udah percaya ke kamu tapi kamu malah! Haih! Yaudahlah kita putus!"
Bruk!
"Ambil aja semuanya!" Bimo menaruh barang-barang yang ia beli di atas meja.
Dan inilah awal terjadinya Bimo kecelakaan parah sehingga butuh perawatan selama beberapa bulan.
"Aku harus gimana?" tanya ku sambil memeluk erat tubuhku.
Aku pun memutuskan untuk pulang dengan raut wajah kacau, pikiran berantakan dan semua yang aku cita-citakan menjadi runtuh seketika.
Selama di perjalanan menuju ke rumah, aku baru sadar kalau besok merupakan hari pernikahan kakak tapi aku terpaksa tidak hadir demi melindungi dia dari omongan tidak enak.
Aku pun memutuskan mencari sebuah kontrakan yang tidak jauh dari kampus tapi semua sudah habis.
Aku pun memutuskan untuk mencari sebuah kontrakan dekat dengan tempat kerjaku dan dapatlah sebuah rumah lama namun masih teramat dengan baik.
Jadi aku pun tinggal disana selama 2 bulan lebih. Orang tua ku marah, bahkan kakakku juga marah karena aku tidak ada di tempat.
Semua keluargaku menyudutkan diriku, menatap dengan tatapan tajam bahkan aku sepertinya sudah tidak di anggap lagi menjadi anak serta keluarga mereka.
Satu minggu kemudian.
Barulah orang tuaku dan kakakku tau kalau aku telah hamil di luar nikah. Entah dari mana mereka tau, yang pasti semua keluarga ku menyeretku untuk pulang dan menjelaskan semuanya.
Ayahku menangis melihat satu putrinya gagal ia didik, gagal menjadi ayah yang baik dan ibu pun beranggapan sama.
"Siapa? Siapa Tan?"
"A-aku gak tau," ucapku berbohong.
__ADS_1
"Bohong! Siapa yang hamilin kamu Intan?"
"Aku gak tau bu, aku gak tau, aku gak tau!"
Entah tekanan seperti apa yang ada di dalam tubuhku, rasanya kepalaku berat sekali hatiku sesak, bahkan aku tidak bisa mengobrol emosiku.
Aku pun langsung pergi keluar meninggalkan rumah ini tanpa berpamit lagi, kembali ke tempatku. Tidak tetapi menemui ustazah Lisa.
Aku meminta bantuan dirinya, aku meminta solusi dan aku menangis sejadi-jadinya di pelukan umma Lisa.
'Hangat sekali pelukannya. Kayak pelukan ibu dulu saat aku masih kecil,' batinku berkata demikian.
Bahkan aku merasa gejala babyblus mulai muncul di diriku, depresi bahkan tekanan darah ku sering menurun tiba-tiba.
Aku mencari dia dari segala sumber. Aku mengetahui kalau dia di kampus yang sama denganku dulu dan aku pun langsung mencari tahu lebih dalam lagi.
Aku pun mengetahui kalau dia sedang mengalami cidera entah apa di sebuah rumah sakit besar.
"Hahaha kamu ini Do ngada-ngada aja!" suara yang tak asing terdengar dari bawah tangga.
"Tapi emang bener toh?"
"Iya bener sih tapi gak gitu konsepnya!" ucap orang yang tak asing lagi bagi Intan.
Siapa lagi kalau bukan Ela. Ela bersama laki-laki putih itu menuju sebuah ruangan Vvip untuk menjenguk seseorang.
"Ela ngapain dia disini? Bukan orang kulit putih itu orang yang sama di parkiran ya? Mereka pacaran?" tanya Intan heran.
Tetapi aku langsung menampik pertanyaan itu dan fokus kembali ke misiku.
Tok ... tok ... tok ...
'Kayaknya ruangan ini yang di masukin sama Ela tadi deh.' Intan menebak.
Benar saja saat Valdo membuka pintunya, 'Bener ini ruang Riky tapi kenapa Ela ada disini juga?'
"Maaf? Apakah anda tadi mengetuk kamar ini?" tanya Valdo dengan suara lembutnya.
"Iya, apakah ini benar ruangan Riky Jaya?" tanyaku dengan posisi menundukan kepala.
"Iya benar, ada apa ya?"
"Bagaimana kondisinya saat ini? Apakah dia sudah sadar?" tanya perempuan ini lagi.
"Dia baru saja melewati masa kritis dan kami sedang menunggunya sadar," jelas Ado.
"Baiklah, terimakasih atas penjelasannya. Tolong sampaikan salamku untuknya ya," titipan dari ku dan aku pun langsung pergi meninggalkan dia.
...----------------...
Setelah Riky sembuh, di saat ini lah akhirnya orang tua ku menemukan keberadaan Riky Jaya. Dia, dia adalah orang yang telah memperkaosku saat aku menolongnya.
Tapi aneh. Saat dia bertemu denganku, bukannya dia marah atau membenciku, dia malah terbuka dan dia layaknya suami yang siap siaga sampai detik ini.
"Apa keberuntungan itu nyata?" tanyaku pada diri sendiri di depan sebuah cermin.
__ADS_1
"Aku akhirnya bertemu lagi dengan dia. Dia ayah dari anak yang aku kandung."
Bersambung ....