
Acara pembukaan Rain's Cafe berjalan sukses dan sangat nikmat, banyak canda tawa melengkapi mereka yang datang.
Dan hari ini waktunya mereka mengakhiri libur panjang. Mengejar kelulusan kembali dan mengukir kisah di kampus bersama orang terkasih.
Tin ... tin ...
Kali ini Valdo yang menjemput Ela untuk berangkat kuliah bersama.
"Mah, pah, kak, aku berangkat ya. Bye, assalamualaikum. "
"Waalaikumsalam, hati-hati ya sayang," ucap mamah Nia dari dapur.
Tap ... tap ... tap ...
Greek....
Ela langsung berjalan menuju Valdo. Membuka gerbang sembari berkata, "good morning Valdo."
"Morning too Ela."
"Cantik banget, mau kemana? Kita kan cuma ke kampus aja."
"Ih emang gak boleh?"
"Boleh tapi jangan cantik-cantik nanti banyak suka," ucap Valdo sedikit menggoda.
"Hmm, kamu cemburu ya?"
"Enggak, aku gak cemburu cumakan aku khawatir aja kalo kamu sampe di ganggu-ganggu."
"Hehehe yaudah yuk berangkat!"
Perjalanan ke kampus pun akhirnya di mulai kembali. Udara sejuk membuat suasana tenang damai dan nyaman.
"Rivaldo Youkute," ucap Ela.
"Iya kenapa?"
"Jangan pergi lagi ya!"
"Iya, Ela."
Ela pun tak segan untuk memeluk tubuh Valdo seperti anak kecil yang terpaksa berpegangan dengan orang yang membawa kendaraan.
"Habis dari kampus nanti kamu ke mana?" tanya Valdo.
"Aku ke Cafe, kamu temenin aku ya!" pinta Ela.
"Oke siap ibu bos."
20 menit perjalanan mereka berdua menuju kampus, akhirnya mereka sampai tepat pukul 08.00
Masih ada waktu tersisa 15 menit untuk mereka bersantai di tempat biasa. Gazebo kenangan mereka berempat.
...~•~[ Gazebo ]~•~...
Terlihat di ujung tempat biasa sudah ada penghuninya. Siapa lagi kalau bukan Bimo dan Ryca sedang menunggu kehadiran mereka berdua. Ela dan Valdo pun datang menghampiri mereka.
"Morning!" ucap Ela.
"Huaaaa pasangan baru kita sudah datang," ucap Ryca.
"Apa kabar?"
__ADS_1
"Alhamdulillah, baik."
"Kalian ini kayak gak ketemu berbulan-bulan aja. Padahal kemarin baru ketemu," sahut Bimo.
"Hmm, namanya juga basa-basi Bim," cetus Ryca.
"Heheheh iya deh."
"Tau nih Bimo, mau juga tah lo di basa-basi in?"
"Ih ogah banget, gak level gua sama lu La!"
"Soknya lu Bim!"
Bugh!
Ela memukul pundak Bimo kesal. Perbincangan hangat pun di mulai, membicarakan banyak hal yang sedang di tutupi pihak kampus.
Entah masalah apa dan entah siapa yang menyebarkan luas, yang pasti kampus mereka sedang di terpa isu tidak menyenangkan.
"Kalian tau gak sih? Kampus kita lagi bermasalah," ucap Bimo si up to date tentang gosip kampus.
"Enggak? Emang apaan?"
"Gua denger-denger pihak kampus lagi memanipulasi biaya administrasi para mahasiswa," jelas Bimo.
"Maksudnya?"
"Gua baru tau kalau kampus kita punya fakultas yang menggunakan jas putih dan lab. Gua baru sadar, padahal kita udah di kampus ini satu tahun."
"Hah? Maksdu lo farmasi? Atau peternakan? Atau Gizi?" tanya Ryca.
"Gua juga kurang tau apa. Tapi yang pasti itu Fakultas mereka memakai lab, gua gak bisa nebak itu jurusan apa."
"Emangnya pihak kampus kenapa Bim?" tanya Valdo penasaran.
"Biaya UKT mahal, biaya tiap praktek mahal, tapi fasilitasnya gitu-gitu aja."
"Terus juga katanya pas sidang biaya UKT anak-anak koboi kampus gak di kasih tau. Tiba-tiba besoknya UKT mereka naik tiba-tiba tanpa ada kejelasan," jelas Bimo.
"Terus? Bakal ada demo dong?" tanya Ela.
"Kayaknya sih gitu. Gua juga denger kalo koboi kampus kita ini banyak, apa lagi dari fakultas itu. Kemungkinan besar mereka bakal ngadain rapat besar dari seluruh fakultas."
"Dan kalau memang tembus, kampus kita bakal di demo sama semua mahasiswa."
"Seru agaknya," ujar Ela menyungingkan senyumnya.
"Kayaknya sih iya," sahut Bimo terlihat bersemangat.
"Apasih Kalian kok malah suka demo-demo gitu," ucap Ryca tidak suka.
"Gini Ca, kita mahasiswa yang bebas bersuara, mengaspirasikan suara kita demi membantu teman lain."
"Jadi kita harus dukung gerakan ini, agar apa? Agar pihak kampus gak memandang remeh mahasiswi nya."
"Ketika Bimo bersuara, disitulah wanita tergila-gila," ujar Valdo.
"Huahahahaha," tawa pun pecah mengelilingi mereka.
Bahkan suasana tegang pun tidak lagi terasa. Momen ini lah yang di tunggu-tunggu Ela, berkumpul lagi bersama, menyuarakan suara yang tidak selalu di dengar.
Tidak lama kemudian, Pian teman Bimo datang membawa sebuah kabar berita panas di pagi hari.
__ADS_1
"Mo!"
"Ngapa lu lari-lari?"
"Hosh ... hosh ... hosh ... Itu! Itu!"
"Apasih?" tanya Bimo kesal.
"Lo ini bukannya salam, malah itu-itu. Kenapa sih?"
"Koboy kampus pada keluar!"
"Hari ini semua mahasiswa mau demo," lanjut Pian lagi.
"Kok mendadak?" tanya Ryca.
"Entah, mungkin ini memang genting kali. Mereka lagi siap-siap nunggu rektor, Wr 1, 2, 3, dateng sama direktur kampus dateng."
"Kok lo bisa tau?" tanya Ela lagi.
"Hari ini para pejabat penting di kampus pada dateng ya, makanya mereka mau demo hari ini?" tanya Valdo.
"Iya, jam 10 nanti mereka bakal datang, nah disitu lah mereka bakal keluar."
"Oh gua ngerti strategi mereka," sahut Bimo.
"Apa?" tanya kompak dari Ela dan Ryca.
"Mereka sengaja keluar belakang biar bisa ngepung pihak kampus," jelas Valdo.
"Iya kan?" tanya Valdo sembari tersenyum.
"Haih Do, Do. Gua baru aja mau bilang lo udah duluan." Bimo memalingkan wajahnya.
"Hehehe, kalo sepenangkapan pikiran saya sih gitu."
"Ooh," ucap kompak Ryca dan Ela lagi.
Merek berlima pun menghabiskan waktu bersama di Gazebo ini sembari memakan beberapa cemilan dan juga beberapa makanan berat.
Tepat pukul 09.57 WIB, Rektor datang diiringi mobil WR 2 dan seling 10 menit biro mahasiswa, WR 3 dan WR 1 datang bersamaan.
Seperti kebetulan yang di rencanakan, tapi sudah biasa. Begitulah para atasan kampus yang selalu di junjung tinggi.
Dan yang terakhir tepat pukul 10.25 WIB, Direktur universitas datang dengan beberapa pengawal.
'Ih sok banget sih astaga, pake pengawal segala,' umpat Ela dalam hati.
"Bentar lagi kampus penuh sama mahasiswa demo sih," ucap Pain sembari mengaduk-aduk mangkuk mie instan yang sudah habis.
"Tuh liat geh gerbang udah mau di tutup aja. Biasanya geh gerbang di tutup pas jam 11 malem," ucap Bimo terheran-heran.
"Mungkin pihak kampus mau rapat besar-besaran kali," ucap Valdo memprediksi.
"Kayaknya sih iya."
"Hua hua hua hua! Jangan mau kita di tindas dengan pejabat tinggi yang hanya bisa memeras uang dari kita! Jangan jadikan biaya sebagai penghambat cita-citakan!" Suara demi suara lantang terdengar dari luar gerbang menuju halaman kampus.
"Kami disini sebagai harapan terbesar orang tua kami! Jika kalian para petinggi kampus tidak bisa mengendalikan biayanya, untuk apa kalian membuka fakultas baru?"
"Kami ingin keadilan. Jangan memakan biaya itu untuk kepentingan diri pribadi! Jangan sampai kamu viralkan berita ini karena kalian para pihak kampus menunda pembayaran!"
Deg!
__ADS_1
" Gua gak salah denger?" tanya Pian.
Bersambung....