
"Tolong sembuhkan anak saya ya dokter, apapun yang terjadi tolong sembuhkan dia," pinta ibu Ado membuat hati dokter itu tersentuh.
Dokter pun memberi kan surat rujukan ke rumah sakit terbesar agar Ado segera di tangani dengan baik oleh dokter yang kompeten.
Setelah mendapatkan surat rujukan, Ibu Ado mengurus semuanya demi kebaikan sang putra. 'Tuhan engkau maha baik bukan? Dia satu-satunya, penyemangat hidupku dan dia satu-satunya harapanku. Tolong sembuhkan penyakitnya, aku mohon,' batin Ibu Ado.
Wanita paruh baya itu terduduk di parkiran motor, sembari menangis menatap nasib sang putra sematawayang.
"Siapa? Siapa yang telah menyakitimu nak? Katakan padaku," gumamnya.
...~•~●~•~...
Keesokan harinya.
'Ado masa gak tepatin janjinya sih? Padahal kan gua udah bilang kalo hari ini bakal berangkat bareng,' batin Ela kesal.
Pandangan Ela hanya lurus kedepan, tidak menyapa, menegur ataupun menengok tempat biasa mereka berkumpul.
Ela langsung menuju ke kelasnya dengan wajah mendung menyelimuti aura tubuhnya.
"Lah tumben si Ela nyelonong bae," ucap Bimo memperhatikan Ela.
"Kalo di perhatiin Ela kayaknya lagi pundung deh," ucap Ryca mengamati kondisi Ela.
"Iya kali ya,"
Kelas pun di mulai dan segala macam bentuk tugas pun menanti, Ela heran mengapa Ado tidak hadir.
Mengirim surat saja tidak, sampai kelas selesai Ela tidak bisa berkonsentrasi karena Ado tak kunjung datang.
'Mengapa kejadian ini seperti di buat sih?' Batin Ela, memandang bumamtara dari balik jendela.
Tidak ada satu pun materi yang masuk ke dalam otaknya, tidak ada pula materi yang diingatnya. Pikiran Ela kali ini hanya Ado, Ado dan Ado.
Ela benar-benar tidak mendatangi Gazebo tempat biasa mereka berkumpul. Ela langsung menuju parkiran kampus lagi, sembari menelfon nomor Ado.
"Nomor Ado kok dari tadi gak aktif sih?" Gumam Ela semakin panik.
Ela pun memutuskan untuk pergi ke rumah Ado. Selama perjalanan pikiran Ela terbang entah kemana, memikirkan yang tidak-tidak, itu sudah pasti.
'Apa Ado kayak waktu itu lagi ya?' tanya Ela kepada dirinya sendiri.
"Tapi gak mungkin, kan Riky udah baikan sama Ado. Terus kalo bukan Riky siapa lagi?" Gumam Ela selama di perjalanan.
Pertanyaan demi pertanyaan memenuhi kepalanya sampai dia tidak bisa berkonsentrasi membawa kendaraannya.
...~•~●~•~...
Sesampainya di rumah Ado.
Rumahnya sangat sepi, tidak seperti biasa. Bahkan jemuran yang biasanya ada di depan pun kini tidak ada. Sendal yang berceceran di depan rumah juga tidak ada.
'Lantas kemana Ado pergi?' pertanyaan baru muncul lagi di kepala Ela.
__ADS_1
Ela bertanya ke ibu-ibu komplek yang sedang mengobrol di depan ruko. Ela bertanya "Maaf bu numpang tanya, rumah ini ada gak ya bu orangnya?" dan salah satu dari ibu-ibu ini pun menjawab.
"Kalau tidak salah, tadi pagi Ibu Yo pergi menaiki motor entah mau pergi kemana."
"Oh iya, saya juga melihat. Mukanya serius banget, kayak lagi panik gitu," ungkap ibu-ibu lainnya.
"Oh yaudah kalau gitu, makasih ya bu informasinya."
"Iya sami-sami neng."
'Ado lo kemana sih? Kok tiba-tiba ngilang gitu aja tanpa kabar. Janjinya mau jemput malah sekarang lo bener-bener gak ada,' batin Ela.
...~•~●~•~...
Sesampainya di rumah.
Raut wajah Ela nampak lesu sekali, kak Anir hanya terheran-heran. Rain yang biasanya ceria kini mendung bak ingin hujan.
Padahal cuaca hari ini sangat cerah. Ela tidak bernafsu untuk makan atau pun beraktivitas lainnya. Yang di inginkan Ela kali ini hanyalah kabar dari Ado, Rivaldo Youkute.
Ela hanya di kamar seharian mencari informasi seputar albinisme kembali dan juga mencari tahu penyakit apa saja yang rentan terkena orang-orang yang mengidap albinisme.
...----------------...
Situs Blog Internet.
Kanker kulit, gejala awal yang di alami adalah kemerahan di tubuhnya. Jika warna merah di tubuhnya semakin banyak dan terlihat tidak wajar maka orang tersebut mengidap kanker kulit.
"Tapi kalo di lihat-lihat, dari awal bertemu dengan Ado dia selalu mengenakan pakaian panjang. Kalau pun bukan pakaian panjang pasti jaket atau hoddie," ucap Ela sembari bermain teka-teki yang ada di fikirannya.
"Rivaldo Youkuteeeee lo kemana sih? Gua overthiking tau sama lo," lirih Ela mengacak-acak rambutnya.
"Apa perlu gua ke rumah sakit untuk jenguk Riky? Tapi masa sendirian?" tanya Ela pada dirinya di depan cermin.
"Iya, iya! Gua harus ketemu sama Riky! Siapa tau Riky punya sedikit info tentang Ado yang gak gua tau selama ini."
Ela bersiap-siap untuk pergi ke menjenguk Riky di rumah sakit. Kakak dan mamanya di tidak hiraukan begitu saja, Ela hanya bilang kalau dia ingin menjenguk temannya sakit.
"Pulangnya jangan malem-malem ya La!" ucap kak Anir dari ruang tamu sembari menatap laptopnya.
"IYA!" teriakan Ela dari garasi.
Ela bergegas ke rumah sakit dengan motor kesayangannya. Berkendara dengan kecepatan tinggi, Ela berhasil menerobos kemacetan yang terjadi di jalan.
Karena Ela pergi ketika jam pulang kantor. Jadi wajar saja kalau jalanan macet parah.
"Riky lo harus jawab semua pertanyaan yang ada di kepala gua!" Gumam Ela.
10 menit perjalanan menuju rumah sakit, akhirnya Ela sampai juga di parkiran.
Masih ada 4 lantai lagi yang harus ia lalui. Baru saja ia masuk ke dalam gedung rumah sakit, Ela melihat Gea dan umma Lisa berada di depan ruang resepsionis.
"Gea, umma," sapa Ela.
__ADS_1
"Wah tumben Ela main kesini lagi," ucap Gea.
"Wah nak Ela, Ado mana?"
"Ehmm, anu.. hmm Riky ada di kamarnya kan?" tanya Ela mengalihkan pembicaraan.
"Ada kok, kenapa emang?" tanya Gea.
"Kalian mau naik ke atas lagi?"
"Iya, kami baru aja mau kesana, " ucap Gea.
"Alhamdulillah, yaudah kalau gitu kita bareng ya!" ucap Ela bernada gelisah.
Gea memahami raut wajah Ela dan Gea pun berniat untuk pergi lebih dulu ke kamar Riky bersama Ela.
Umma tidak mempermasalahkan jika harus mengurus ini sendirian dan Gea pun langsung menarik tangan Ela menuju lift rumah sakit.
...~•~[ Di dalam lift]~•~...
"Lo kenapa kok kayak gelisah gitu?" tanya Gea sendari tadi memperhatikan raut wajah Ela.
"Itu.. hmmm Ado," ucap Ela terbata-bata.
"Ado kenapa?" tanya Gea masih santai.
"Ado menghilang."
"Hah? Ngilang gimana?" tanya Gea.
"Udah lah lo gak usah nanya-nanya dulu. Gua kesini cuma mau cari tau apa yang gak gua tau dari Ado," jelas Ela.
"Oke, sorry."
Sesampainya di lantai 4, Ela dan Gea menuju ruang Riky. Di sana terlihat wajah Riky sudah hampir segar kembali dan juga pak Jaya yang setia menemani sang anak tercinta.
"Assalamualikum," ucap Gea dan ela bersamaan.
"Yo, Waalaikumsalam."
"Wah ada nak Ela," ucap pak Jaya saat melihat Ela.
"Tumben lo kesini ngapain La?" tanya Riky.
"Gua kesini mau nanya sesuatu penting Ki sama lo," ucap Ela bernada sendu.
"Perihal?" tanya Riky memperhatikan mimik wajah Ela begitu serius.
Bersambung...
..."Kehilangan, lagi-lagi itu topik yang selalu di bahas. Perihal kehilangan yang sama sekali tidak aku suka. Karena apa? Karena kehilangan bukan kabar yang baik."...
...- Aku...
__ADS_1