
Setelah Ela pergi dari panti dengan kendaraannya, percakapan hangat Masih terbentuk di dalam panti.
"Mau saya bantu jawab?" tanya Valdo ke Gea.
"Gak usah. Saya mau jawaban langsung dari Ela."
"Kalo boleh tau kamu kenal sama kak Anir dari kapan?"
"Pas waktu di pertemuan rapat besar perusahaan bapak di Batam."
Gea pun menjelaskan kejadian awal pertemuannya dengan Kak Anir.
Perjalanan bisnis selama 3 minggu malah membuat kak Anir terjebak dalam sebentuk rasa.
Saat pertama kali datang ke salah satu perusahaan terkenal di Batam, wanita ini menjadi moderator rapat besar ini.
Publik speaking yang bagus, perawakan ramah, senyum tulus dan pintar dalam menganalisis itulah yang membuat kak Anir memiliki rasa.
Pintu hatinya yang beku terbuka pelan-pelan. Wajah bahagia terpancar jelas bahkan senyum pun melingkar di wajah yang dingin.
"Permisi tuan," sapa wanita itu.
"Iya?"
"Kau di undang makan malam bersama atasan ku di restoran terdekat. Jikalau tuan tidak sibuk, kau atasan ku berharap kau datang."
"Baiklah aku akan kesana."
"Terimakasih tuan, akan aku sampaikan."
"Iya, pembawaanmu tadi bagus sekali. Aku suka. Siapa namamu?" tanya kak Anir tanpa basa-basi.
"Cut Gea, kau bisa memanggilku Gea tuan."
"Baiklah, senang bertemu denganmu."
Perkenalan yang singkat padat dan jelas membuat lakukan senyum dan sebentuk rasa itu muncul.
"Jadi gitu ceritanya," ucap Gea menutup ceritanya.
"Oh, jadi kau incarannya?" ledek Valdo.
"Mana ada. Bu-bukan, kami hanya berteman saja."
"Oh ya? Jika kalian berteman saja mengapa wajahmu memerah?" ledek Valdo lagi.
"Ih Valdo udah lah."
Gea bukan orang yang bisa menyembunyikan rasa sukanya terhadap seseorang. Bahkan jika dia suka, dia akan langsung menyampaikannya.
...~•~[Di Rumah Ela]~•~...
Ela langsung memarkirkan motornya di garasi rumah. Masih terlihat mobil papah Roy di dalam sana.
"Mungkin sebentar lagi," gumam Ela.
"Assalamuallaikum."
"Waalaikumsalam, nah baru pulang. Untung aja papah belum berangkat."
"Hehehe maaf ya mah, pah. Tadi keasikan ngobrol sama Valdo, eh maksudnya umma."
"Hmmm pantesan."
Ela tersenyum malu saja, bahkan raut wajah yang jarang terlihat pun muncul.
__ADS_1
Wajah Ela tiba-tiba saja memerah, bahkan seperti orang yang sedang jatuh cinta.
Papah dan mamah hanya bisa meledeknya saja. Untung tidak ada kak Anir, kalau ada mungkin Ela akan menjadi bulan-bulanannya.
...~•~●~•~...
Papah Roy pun berangkat meninggalkan perkarangan rumah sembari melambaikan tangan ke arah istrinya dan juga anaknya.
"Jadi cuma kita berdua doang?" tanya Ela ke mamah saat masuk kedalam rumah.
"Iya, mau siapa lagi coba."
"Kak Anir kapan pulangnya?"
"Lusa dia pulang katanya."
"Oalah. Yaudah nanti kita pesen makanan aja ya mah. Mamah gak usah masak, lagian kan cuma kita berdua, oke."
"Oke."
Ela pun kembali kedalam kamarnya sembari tersenyum-senyum.
Grek....
"Selamat siang dunia ku."
"Oh astaga, selamat siang Valdo ku. Hari baru telah di mulai kau tau kan?"
"Seharusnya kau tau sih," ucap Ela ke lukisan berwajah Valdo di sudut kamarnya.
Brugh ...
"Hay paus putih! Apa kabar? Semoga kau baik-baik saja oke."
"Valdo, Ado, Rivaldo. Satu orang yang sama, yang sekarang .... hmmmm." Ela tidak melanjutkan ucapannya.
Wajahnya di tutupi bantal sembari berteriak bahagia. Wajah kemerahan pun masih nyata terlihat.
"Dasar orang itu ya, buat aku salah tingkah saja!" ucap Ela sembari memukuli boneka paus putih.
...~•~●~•~...
Di tempat lain.
Riky sepertinya menemui seseorang entah siapa. Yang pasti ia datang ke sebuah rumah sederhana dan masih terlihat bangunan lama.
"Riky?!" ucap wanita cantik yang baru saja keluar dari sebuah ruangan.
Sembari membawa perut yang semakin membesar, tatapan takut dan netra berkaca-kaca pun terlihat di wajah wanita tersebut.
Deg!
'Wanita ini?' ucap Riky dalam hatinya.
Jantungnya pun berdegup kencang, bahwa kenyataan yang sebenarnya datang menghujam dirinya kembali.
Wanita ini, dia adalah wanita yang penah dia temui di salah satu club bar yang terkenal di wilayah Jakarta.
Bersama temannya, Riky menghadiri tempat itu berniat untuk menonton sebuah konser musik penyanyi kebanggaannya.
Banyak tamu yang datang, Entah itu laki-laki ataupun perempuan. Entah itu dari kalangan tinggi atau rendah.
Yang pasti mereka di sana berkumpul untuk menonton sebuah konser.
Secara tidak sengaja, teman Riky menyekokinya sebuah bir beralkohol tinggi. Karena tidak terbiasa, dalam sekali teguk, Riky langsung kehilangan kesadarannya.
__ADS_1
Dengan tubuh sempoyongan, Riky berniat jalan keluar menuju pintu. Niatnya yang menuju pintu luar malah di tarik oleh temannya ke sebuah kamar yang ada disana.
Riky hanya berfikir itu kamarnya, namun ada aroma yang berbeda sekali. Bau menyengat dimana-mana, membuat Riky memberontak dan berlari keluar dengan badan yang tidak seimbang.
Mata yang di paksakan membuka, Riky pun berhasil menemukan pintu keluar dari tempat ini.
Bruk!
"Sialan mata ku tidak dapat fokus," gumam Riky masih duduk di pinggir jalan.
"Hey?! Kau kenapa?" tanya seseorang di sampingnya.
"Kau bisa menolong ku? Mataku buram tidak dapat memfokuskan jalan."
"Kau ingin kemana?"
"Kemana saja."
'Dia pasti habis minum keras atau mungkin temannya sengaja menyekok dirinya,' ucap seseorang yang menolong Riky.
Ucapan-ucapan ngelantur pun terucap sepanjang jalan. Bahkan mungkin isi hati Riky yang sebenarnya terungkap.
Tek ....
"Aduh kau berat sekali."
Bruk!
Seseorang ini menaruh tubuh Riky di atas sebuah sofa hotel tempat ia tinggal.
"Apa tidak ada lagi yang mencintaiku? Apa si bre***k itu yang harus selalu di bagian depan? Aku ingin kau kembali."
Begitulah ucapan Riky dengan mata terpejam. Cahaya remang-remang ada di matanya dan terpuruk kembali di atas sofa.
"Siapa namamu?" tanya seseorang itu.
"Aku? Aku Riky Jaya anak pak Jaya pemilik perusahaan roti di Bandung. Tinggal di panti umma Lisa yang baik hati."
"Kau ini minum terlalu banyak. Cepatlah sadar dan pergi dari sini," cetusnya.
"Iya, iya, iya."
Seseorang itu pun kembali ke dalam kamarnya berniat untuk membersihkan badan.
Baru saja ia melepaskan pakaiannya di dalam sebuah keranjang, Riky memeluknya dari belakang.
"Kau cantik," ucap Riky.
"Aku mencintaimu."
Entah apa yang terjadi di sana. Yang pasti wanita itu pergi dari hotelnya saat subuh menjelang.
Sembari menangis membawa koper turun ke bawah, 'Apa yang harus aku katakan kepada orang tua ku?' ucap wanita ini saat menuju pintu luar hotel.
"Sial! Sial!"
'Hiks ... hiks ... tubuhku sakit sekali. Orang gila macam apa itu? Di dalam kondisi mab*k pun masih melawan saat aku memberontak.'
"Apa yang harus aku katakan pada orang tuaku?" gumamnya.
...~•~●~•~...
'Wanita ini, jangan-jangan saat itu bukan mimpi! Jangan-jangan bercak di kasur saat itu?"
Bersambung ....
__ADS_1