Letter To My Albino

Letter To My Albino
Janji Tunas Rasa


__ADS_3

"Janji dulu!" ucap Ela bernada memaksa.


"Iya, Janji," jawab Ado dengan suara lembutnya.


"Janji ya! lo gak akan pernah ninggalin gua sendirian di sini. Gua takut, gua ... gua gak mau kehilangan lo, So you have to be with me until we graduate and forever."


Perkataan Ela seketika membuat perasaan Ado kacau, Ado tidak yakin apa dirinya bisa terus bersama Ela.


Ado hanya diam tidak dan menjawab perkataan Ela. Terlalu sulit untuknya menjawab perkataan itu.


Umma pernah berkata, "Kamu kalau mau janji sama seseorang itu harus di tepati ya, kalau kamu tidak bisa menepati janjimu, nanti kamu akan mendapatkan dosa. Karena janji adalah hutang yang harus di bayar."


'Kan Ado diem lagi, apa gua salah ngomong ya? atau memang Ado bakal ninggalin gua sendirian disini?' batin Ela yang terus menatap pundak Ado.


Mereka berdua sama-sama bermain dalam fikirannya. Raut wajah sedih Ela seketika nampak di spion motor dan itu membuat Ado berfikir dua kali.


"Iya, insyaallah. Tapi aku gak janji ya La," Jawaban Ado membuat hati Ela tenang.


"Iya," jawaban singkat diiringi senyum manis.


Akhirnya hati mereka bisa sama-sama tenang sekarang, perjalanan menuju panti pun tidak terasa padahal jaraknya lumayan jauh dari pasar.


"Assalamualikum."


"Wa'alaikumsalam," jawab umma menyambut mereka berdua.


"Umma ini Valdo ada mainan untuk anak-anak kecil disini, ini beberapa pakaian dari Ela dan juga kami beli rak sepatu untuk diluar."


"Tapi maaf umma, umma gak tersinggung kan kalau kita beliin rak sepatu sama beberapa pakaian ini?"


"Ahahaha siapa yang tersinggung nak Ela, umma malah seneng kalau Anak muda kayak kalian bisa perhatian sama panti ini dan anak disini."


"Umma juga udah lama ingin membeli rak sepatu ini, tapi karena beberapa kendala jadinya belum kesampaian. Makasih ya Valdo, Ela." lanjutnya


"Terimakasih kembali umma," ucap Ela diiringi senyum manis.


Kebetulan panti ini sedang sepi, mungkin saja anak-anak panti sedang bermain di taman belakang.


Tidak lama kemudian terdengar suara langkah kaki anak-anak mendekati Ado dan juga Ela, tetapi anehnya ada suara perempuan dewasa mengikuti langkah anak tersebut.


"Yey... ngeng... tunggu aku," suara anak-anak mendekati Ado, Ela dan umma.


"Hey! kalian jangan lari-lari nanti terjatuh loh."


Ado sedikit kebingungan karena umma sama sekali tidak pernah mempekerjakan orang lain untuk mengurus panti ini, kecuali satu orang satpam saja.


Tapi Ado menampik pikirannya, 'Mungkin adik umma datang berkunjung.'


Srek... (membuka hordeng berwarna biru.)

__ADS_1


"Aa Valdo," ucap anak-anak tersenyum bahagia.


Ela juga memiliki satu anak kecil yang dekat dengannya, hanya saja ia sedikit malu-malu untuk mendekat.


"Teh Ela ... Apa ... kabar?" tanya anak laki-laki bertubuh gembul dengan wajah tersipu malu.


Ela sedikit geli kala dirinya di panggil dengan sebutan "teteh" tapi ia juga senang akhirnya ada satu anak kecil yang berhasil mendekatinya.


Bruk!


"Sudah aku bilang apa jangan lari-lari, sekarang malah jatuh kan."


"Huaaaaaaaa umma," tangis anak kecil lainnya yang masih berada di balik hordeng biru.


"Sudah tidak usah menangis, liat nih umma..." ucapannya terhenti kala melihat Ado.


Seorang wanita cantik menatap ke arah Ado dan juga Ela. Umma yang melihat kejadian tatap tatapan itu hanya bisa tertawa kecil.


"Aku mau turun," ucap anak kecil yang di gendong oleh wanita itu.


"Kalian ini kayak gak pernah kenal aja ya," Ledek umma.


"Ini Valdo ya umma?"


Umma hanya menaikkan pundak saja seperti jawaban, "tidak tahu." Ela hanya bisa menatap wanita itu yang terlihat kebingungan.


"Astaga Valdo, lama kita gak ketemu ya. Lo pasti lupa nih sama gua," ucap wanita itu sembari duduk di samping Ado.


"Hah? Emang kamu siapa?" tanya Ado.


"Kan bener lupa, Gua Gea. Anak pertama yang di ninggalin tempat ini."


"Oalah Gea, maaf saya gak ciren sama kamu Ge."


"Ini pacar lo ya Val? akhirnya Valdo punya cewe juga hahaha." ledek Gea.


"Gua Cut Gea Vieka, temen Valdo saat kita masih tinggal di panti ini," ucap Gea sambil mengulurkan tangannya untuk berkenalan.


"Gua Ela," jawaban singkat seperti biasa yang Ela lontarkan.


Setelah Perkenalan singkat, mereka bertiga menyusun beberapa rak untuk di luar dan beberapa rak lagi di taman belakang.


Ela dan umma memasang rak untuk bagian depan sedangkan Ado dan Gea memasang rak di taman belakang.


"Lo di rundung ya sama Riky?" ucap Gea secara blak-blakan.


"Enggak kok," jawab Ado menampik perkataan Gea.


"Udah gak usah bohong! gua udah tau semua dari umma."

__ADS_1


"Sekarang Riky udah berubah kok Ge, dia juga udah minta maaf ke saya."


"Lo udah kasih kotak waktu itu ke Riky?"


"Udah kok, mungkin Riky sudah membaca semuanya."


"Emang lo sama Riky kenapa sih? kok bisa pertemanan kalian bubar dan lo malah jadi korban Riky?"


"Ceritanya panjang dan gak perlu di ulang, saya sama Riky sudah berdamai. Jadi cerita ini hanya saya dan Riky yang tau."


"Huh.. Valdo, Valdo, sifat baik lo itu gak berubah ya."


Ado tidak mungkin bercerita ke Gea kalau selama ini persahabatan mereka hancur gara-gara kotak yang Gea berikan untuk Riky. Kejadian selama 15 tahun ini hanyalah sebuah kesalahan pahaman yang tidak sudah menemukan titik terang.


"Gua bisa gak ya ketemu sama Riky?" tanya Gea menatap kosong ke arah taman belakang.


"Bisa, Kita bisa undang Riky datang kesini kan?" Ado memberikan saran.


"Iya, tapi... Huh.." (menghela nafas)


"Kenapa?"


"Beberapa bulan yang lalu gua ketemu sama cowo, dia baik banget sama gua Val, dia masuk ke kriteria cowo gua. Tapi gua masih bingung sama perasaan gua sendiri ke Riky,"


"Bingung gimana maksudnya?"


"Gua takut sikap Riky lebih brutal lagi ke lo atau ke orang lain."


"Gak mungkinlah Ge."


"Gua bingung Val."


Ela menatap dari kejauhan punggung mereka berdua, ada sedikit rasa aneh di dalam diri Ela yang ia sendiri tidak tau apa.


Seketika Ela membayangkan diri seperti tuan putri yang ditinggalkan pangeran untuk melakukan perjalanan perdamaian dan di tengah jalan, pangeran itu malah terikat hati oleh kembang desa yang anggun nan cantik.


'Gua kenapa sih njir? kok jantung gua bedegup kencang? rasa apa ini? padahal itu hanya teman lama Ado tapi kok gua malah bereaksi berlebihan gini sih?' tanya Ela membatin pada dirinya sendiri.


"Teh Ela kenapa? mau coklat ini?" ucap anak laki-laki yang di pangku Ela.


"Enggak kenapa-kenapa kok sayang, apa kamu suka coklat? mau teteh belikan lagi?" tanya Ela diiringi senyuman paksa.


Anak itu hanya mengangguk-anggukan kepala saja dan wajahnya terlihat sangat berseri-seri.


Bersambung...


..."Padahal jarak kita sangatlah dekat, tapi mengapa aku selalu merasa kau sangat jauh dari ku."...


...-An๐Ÿƒ...

__ADS_1


__ADS_2