
Perjalanan pun dimulai.
Selama di perjalanan, mereka bertiga bercerita tentang kejadian-kejadian selama masa kuliah mereka.
Raffa ternyata masuk di UI melalui jalur mandiri. Wajar, Raffa anak bungsu yang cukup kaya.
"Lo emang masuk di mana sih Fa?" tanya Ela.
"Gua di UI ngambil jurusan arsitektur."
"Wah keren, calon arsitek nih ye hmhm," ujar Ela diiringi godaan.
"Hmm, buatin gua rumah nanti ya Fa kalo lo udah jadi arsitek terkenal."
"Hahahah iya tenang aja, nanti gua buatin."
Kenangan demi kenangan mereka cerita selama perjalanan ini, bahkan Rial pun menunjukkan kemampuannya yaitu membuat suara layaknya toak.
Mereka hanya tertawa mendengar pengakuan Rial yang mengejutkan tapi tidak untuk Raffa dan Ela, karena Rial memang suka berteriak sejak di SMA.
Tidak ada yang baru bahkan mereka tidak berubah hanya saja mereka harus kehilangan satu pasukan yaitu Shipa.
Pukul 14.00, tepatnya sebelum mereka bertiga berangkat.
"Mah, pah, kak aku pergi dulu ya bye."
"Om, tante, kami pergi ya."
Mereka bertiga pamit akan segera memulai perjalanannya.
"Hati-hati ya sayang," ucap mama Nia sembari melambaikan tangan.
Ela pun membalas lambaian itu diiringi senyum manis. "Lo ngapain bawa boneka lah?" Rial menyeletuk tiba-tiba.
"Iya kenapa? Suka-suka gua dong, ya kan Fa," ucap Ela meminta pembelaan ke Raffa dan Raffa hanya menganguk-angguk saja.
Dari ujung jalan rumah Ela tepatnya di turunan yang cukup gelap, ada sepasang mata sedang memperhatikan mereka.
'Perasaan gua ada yang ngeliatin deh dari ujung sana,' ujar Ela sembari menatap ujung jalan itu.
"Ngapa lu?" tanya Rial ikut memperhatikan juga.
"Jadi gak woy?" tanya Raffa di dalam mobil.
"Lah udah naek aja, ayok masuk," ucap Ela menarik tangan Rial masuk ke mobil.
Saat baru meninggalkan perumahan indah, Rial mengucapkan sesuatu yang sama persis dengan Ela.
"Pas gua sampe di rumah lu tadi ya La, gua ngerasa ada yang liatin tau. Kayaknya ada yang mantau rumah lo deh."
"Mana ada, perasaan lu aja kali."
"Tapi gua bener tau La, tapi apa iya perasaan gua aja ya," Rial memikirkan hal itu.
"BTW baju lo, masih bau baru banget ya," ucap Ela mengalihkan pembicaraan.
"Ahahaha ini baju Raffa bukan baju gua," jelas Rial sembari tertawa lepas.
"Pantes."
"Pantes kenapa?" tanya Rial.
"Pantes, tulisan di bajunya agak yaa... gitu deh," ujar Ela tak mau meledek.
"AHAHAHAHA udah gua bilang kan Fa," sela Rial.
"Ngelunjak kalian ini!"
...----------------...
__ADS_1
Grek..
"Assalamualaikum," sapa Riky saat memasuki rumah.
"Waalaikumsalam, kok udah pulang lagi? Gak jadi kah?"
"Gak jadi tante, dia pergi."
"Lah pergi? Sama keluarganya?"
"Enggak bu, kayaknya sama temennya."
"Iya tan, sama temennya kayaknya. Orang bertiga pakek mobil putih gitu," jelas Riky.
"Oalah yaudah tunggu dia pulang aja. Tapi barang yang kalian bawa tadi kok?"
"Itu mah udah beres tante, mission completed pokoknya."
"Alhamdulilah bagus deh."
'Di saat aku datang, kamu yang malah pergi,' ucap hati seseorang di samping Riky.
_______________________________
Tepat pukul 17.00, Ela, Rial dan Raffa sampai di pelabuhan. Mereka beristirahat sebesar untuk meluruskan pinggang dan membeli cemilan untuk di perjalanan nanti.
"Biasanya dari pelabuhan merak ke pelabuhan bakauheni?" tanya Raffa sembari mencicipi eskrim cokelat di tangannya.
"Gak tau, benar gua cek dulu," ucap Ela sembari mengeluarkan handphonenya.
"Kalo info yang gua dapet dari Internet, sekitar 1-2 jam kalau dari Merak - Bakauheni. Kalo dari Pelabuhan panjang - Pelabuhan Ciwandan sekitar 3 - 4 jam," jelas Ela membacakan informasi yang ia dapat.
"Bagus deh kita cuma kena 2 jam."
"Ayok woy, sebentar lagi kapal udah mau berangkat," ucap Raffa masuk ke dalam mobil. Begitupun Ela dan Rial menyusul dari belakang.
2 jam berlalu.
Akhirnya mereka sampai di Lampung dengan kondisi selamat. Mereka pun langsung pergi menuju rumah tante Arista untuk menginap sebentar disana.
...Pov telfon....
"Halo, tante ada di rumah gak?" tanya Ela saat tante Arista mengangkat telfonnya.
"Ada sayang, kenapa emangnya?"
"Aku mau ke rumah tante sama temen-temen aku, mau nginep sehari aja boleh gak?"
"Kapan?"
"Hari ini, aku baru aja sampe Lampung, masih di Kalianda tapi."
"Oh yaudah kesini aja, tante tunggu ya. Tapi kalo tante gak ada pas kamu sampe, bilang aja ke Bibi ya."
"Oke tante sayang."
...Pov telfon selesai....
"Aman, kita nginep di rumah tante Arista aja."
"Siip bagus deh."
"Lo inget jalan ke rumah tante Arista kan Fa?" tanya Ela lagi.
"Masih dong."
Tek.. ~ menyalakan musik.
π΅π΅π΅
__ADS_1
Perjalanan membawamu
Bertemu denganku
Ku bertemu kamu
Sepertimu yang kucari
Konon aku juga seperti yang kau cari
Kukira kita asam dan garam
Dan kita bertemu di belanga
Kisah yang ternyata tak seindah itu
'Sama kayak aku ya, aku mencari kamu. Konon kamu juga. Aku pamit sebentar ya, pergi ke tempat pertama kali kita bertemu,' ucap Ela dalam hatinya sembari tersenyum lebar.
Kukira takkan ada kendala
Kukira inikan mudah
Kau aku jadi kita
Layaknya konser mereka bertiga, mereka bernyanyi selama di perjalanan.
...----------------...
'Aku akan menunggumu pulang,' ucap Ela secara bersamaan dengan Valdo.
5 Jam kemudian.
Krek.. krekk.. krek..
Rial dan Raffa meregangkan badan mereka ke kanan dan ke kiri.
"Huah, lega bener badan gua La," ucap Rial.
"Sama gua juga Yal."
"Ayok masuk."
"Assalamualaikum tante, bibi aku datang."
"Selamat datang non Ela yang cantik. Minal aidin wal faaiziin ya," ucap bibi menghasilkan Ela.
"Iya bi aku juga. Ngomong-ngomong tante Arista kemana?"
"Dia lagi pergi ke tempat temannya sebentar," ucap bibi sembari memberikan arahan kamar yang akan Raffa pakai.
Kamarnya tepat bersebelahan dengan Ela karena kamar yang di tempati Raffa itu adalah kamar Ela dulu dan kamar yang Ela tempati ini adalah bekas gudang yang sudah di renovasi full.
"Rumah tante lo kek rumah di sinetron itu ya La," ucap Raffa.
"Dih dasar anak sinetron," ledek Rial.
"Ih lu mah dusun, di Amerika gak ada sinetron kan. Hmm makanya sering-sering ke Indo biar bisa nonton sinetron azab."
"Dih, hahahah sinetron azab cetek bener tontonan lu Fa," ledek Ela lagi.
"Ah dasar kalian ini gak tau seni."
"Seni itu yang kayak punya Ela, lukisan atau sebuah pahatan, bukan sinetron azab Raffa," ejek Rial lagi.
"Ahahahaha," tawa puas dari kami.
"Punya kawan gak ada suport, suport nya acan ih sebel."
Bersambung...
__ADS_1