
...~•~[ Rumah Anton ]~•~...
"Kalian makan malem di rumah dulu yuk, emak juga gak ada diruma. Lagi pergi sama bapak ke rumah sodara di Menggala."
"Jauh ya," ucap Ela.
"Iya lumayan."
"Kapan berangkatnya? Kan tadi pas kita berangkat masih ada," tanya Raffa.
"Iya pas kita berangkat itu mereka juga berangkat."
"Oalah, yaudahlah kita makan malem disini dulu," ujar Rial tanpa rasa dan kata sungkan.
Mereka bertiga makan malam bersama di rumah Anton dan juga menginap di rumah Anton selama semalam.
Krik ... krik ... krik ....
"Suara jangkrik terdengar jelas ya," gumam Ela saat melihat pemandangan luar rumah di malam hari.
Gelap, hanya ada penerangan dari rumah ke rumah. Bahkan kesunyian disini membuat suara orgen di tempat festival sampai terdengar jelas.
"Iya, namanya juga di kampung," sahut Anton mendengar gumam Ela.
"Eh Anton."
"Tradisi di kampung emang gitu La, sabar aja kalau lo gak suka musiknya."
"Iya, gua cuma gak biasa aja denger musik sebesar itu hehehe."
"BTW, Ryca sama Bimo ada hubungan apa ngomong-ngomong? Kok mereka sampe nempel gitu kayak perangko?"
"Belum tau, mungkin mereka udah jadian."
"Kalo mereka udah jadian, lo gimana?" tanya Anton sembari menatap wajah Ela dari samping.
"Ya gak gimana-gimana."
"Dulu kan yang deket banget sama Bimo itu lo, bahkan banyak dari temen-temen anggep kalian pacaran."
"Gak, gak. Gua udah anggep Bimo itu kayak kakak gua sendiri dan gak lebih. Malah dari dulu yang suka sama Bimo itu ya si Ryca kalo lo mau tau."
"Oh ya?"
"Iya, jadi dulu tuh ..."
...Flasback on...
Gua sama Ryca pernah pulang bareng dan di perjalanan pulang muka Ryca tuh merengut aja udah kayak banyak beban.
Gua tegur, "Kenapa Ca?" Nah dari situ lah Ryca mulai nanyain pertanyaan yang sama kayak lo tadi.
Terus gua gak mau persahabatan kita hancur cuma gara-gara tuh orang kan ya. Jadi dari situ gua agak sedikit ngejarak dari Bimo.
Ya ... walau Bimo masih mepet-mepet tapi gua selalu dorong Ryca untuk berani jadi temen Bimo.
...Flasback off...
"Semua berawal dari teman kan, makanya gua mau Ryca lebih unggul kali ini hehehe," jelas Ela.
"Oh gitu," ucap Anton sembari mengangguk-angguk.
"Dah yuk masuk, disini lama-lama dingin nanti lo sakit gawat lagi."
Ela menuruti ucapan Anton dan mereka masuk kedalam rumah, menemui Rial dan Raffa yang sedang adu mulut karena siaran Motogp.
"Gara-gara lu tuh, jagoan gua jatoh," cetus Rial.
"Jagoan gua jatoh gila gara-gara kesenggol ban jagoan lu."
"Mana ada, Jelas-jelas dia terlalu miring akhirnya motornya selip."
"Astaga, ngeributin apa sih kalian?" tanya Ela menghampiri.
__ADS_1
"Jagoan gua jatoh mulu gara-gara dia tuh," cetus Rial sembari memanyunkan bibirnya ke arah Raffa.
"Mana ada!"
"Jangan heran Ton, mereka emang suka debat."
Anton hanya bisa tertawa melihat tingkah Rial dan Raffa yang tidak mau mengalah satu sama lain.
Tepat pukul 21.00
Aku dan Rial beristirahat di kamar yang sama. Sedangkan Raffa dan Anton berjaga di ruang keluarga karena ingin menonton pertandingan bola bersama.
"Emang ada tah lebaran kayak gini pertandingan bola?" tanya Rial ke Ela.
"Mana gua tau, ada kali."
"Aneh-aneh aja, gua kunci ya takutnya nanti si Raffa punya hobi baru lagi tuntip,"ujar Rial sembari mengunci pintu.
"Tuntip apaan?"
"Tukang intip."
"Astaga bahasa baru lagi agaknya hahahaha dasar lo ini Yal. Dahlah yuk tidur besok kita harus balik ke rumah tante Arista, baru sorenya kita balik ke Bandung," jelas Ela.
"Iya."
...----------------...
Pukul 06.30
"Hoam, good morning epribadi," ucap Ela sembari meregangkan tubuhnya.
"Buh orang ini tidak makan tempat ya," gumam Ela saat melihat tubuh Rial terlentang memenuhi separuh ranjang ini.
"Udahlah biarin aja, Gua mau liat udara pagi disini kayak mana."
Tek ....
Grek ....
'Ya ampun mereka berdua tidur disini,' ucap Ela dalam hatinya saat melihat Raffa dan Anton tertidur di kasur alas depan tv.
"Harus pelan-pelan nih buka pintunya," gumam Ela mendekat ke arah pintu.
Te ... k....
Gr ... ee... k....
"Wah berkabut."
"Dingin juga ya disini," ucap Ela sembari mengusap-usap kedua lengannnya.
Cukup lama Ela berdiri di sini sampai akhirnya Raffa menyadari bahwa pintu utama terbuka.
Raffa langung menuju ke arah luar dan melihat ternyata Ela yang berada disana.
"Ngapain? Dingin loh, eeeerrh."
"Eh Raffa, selamat pagi Raffa."
"Pagi juga."
"Hemm, hah .... Hemm, hah."
"Lo alergi dingin?" tanya Ela.
"Enggak, cuma gua bangunnya ke pagian. Biasanya gua bangun pas matahari udah nongol dikit."
"Astaga dasar pemalas," ledek Ela.
"Sunyi banget ya disini."
"Iya, tadi malem aja suara jangkrik kedengar jelas banget kan."
__ADS_1
"Iya tenggeret juga ada. Banyak pokoknya, feel di kampungnya kerasa banget," ucap Raffa.
Percakapan hangat di pagi hari ini pun membongkar kesunyian yang meliputi tubuh mereka dan hati Ela.
'Sampai kapan aku harus menunggu?' batin Ela.
"Jadi abis dari rumah Anton kita ke?" tanya Raffa memecahkan lamunan Ela.
"Balik ke rumah tante Arista terus kita makan, istirahat sebentar sorenya balik lagi ke Bandung."
...----------------...
Pagi-pagi seperti ini enak sekali rasanya jika meminum teh hangat di padu roti panggang.
Setelah kabut hilang, cahaya matahari bersinar dan Suara keramaian mulai terdengar, barulah chef pemula kita bangkit dari alam mimpinya.
"Pagi, pagi."
"Siang, ratu tidur," ejek Raffa.
"Masih pagi Fa jangan nyari gara-gara. Hoaaam."
Bahkan Anton saja yang tidurnya lebih larut dari Rial malah lebih dulu bangun.
Puk .....
"Masak sana Yal, kita laper."
"Asal gak ada campur tangan bekas garuk aja," ejek Raffa.
"Lo kangen ya?" Tanya Rial begitu semangat.
"Dih iyuh, gak sama sekali malah."
"Udah sana masak, cuci tangan dulu jangan lupa," ucap Ela memutarkan badan Rial.
"Oke."
Tek ... Tek .....
Seengg....
Gluduk ... gluduk ....
Seeengg ....
Bak atraksi, Anton, Raffa dan Ela hanya bisa terpelanga melihat ketangguhan Rial dalam memasak.
15 menit kemudian.
Masakan pun jadi. Walau hanya masakan yang harus di hangatkan terlebih dahulu, Rial memasak nasi goreng bumbu rendang serta tempe tepung hangat yang begitu krispi.
Saat Raffa memasukan suapan pertama, hawa jatuh cinta dan kesunyian yang datang menikam dirinya tadi hilang seketika.
Begitupun dengan Ela, merasakan seperti makanan yang mamanya buat setiap ia bangun pagi.
Nasi goreng hangat, menggugah selera penghilang rasa sepi di hati. Begitulah Ungkapannnya saat kau baru memakan suapan pertama.
"Gimana Enak?"
"Hmm biasa aja, tapi lumayan dari pada yang dulu," ucap Raffa menambah porsi kembali.
"Halah sok gak enak tapi nambah."
"Gimana Ton, La, enak?"
Ela hanya bisa memberikan ibu jadinya sembari tersenyum walau masih menginyak makanan.
"Enak banget," ucap Anton menyukai masakan Rial.
Cukup di akui, Selama setahun belajar menjadi chef, Masakan Rial mulai enak dan berasa.
'Bahkan bisa di bilang hampir sama dengan masakan yang ada di hotel,' batin Ela memakan nasinya.
__ADS_1
Bersambung....