
Kelas pun selesai, dan ini lah saatnya untuk Ela memberikan makanan yang ia buat untuk Valdo dan begitu pun dengan Valdo.
"La, kita ke tempat yang kata aku itu yuk," ajak Valdo.
"Hah? Sekarang? Gak ke Gazebo dulu?"
"Udah gak usah, ayok."
"Yaudah boleh deh, ayok."
Ela dan Valdo langsung mengarah ke parkiran Kampus, mengeluarkan motor dari parkiran lalu bergegas pergi meninggalkan area Kampus.
Valdo menunjukan arah jalan yang akan di tuju, melewati beberapa tikungan, melewati 2 tanjakan dan akhirnya mereka sampai tepat di sebuah puncak.
Udara segar, sejuk dan damai terasa disini. Bahkan hamparan kebun teh sangat terlihat jelas. Tanaman hijau yang terpampang jelas menyejukan mata.
"Jadi tempat ini?" tanya Ela.
"Iya, disini wisata baru. Aku udah lama mau ajak kamu ke sini tapi aku malah kena musibah," ucap Valdo.
"Ih Valdo, makasih ya."
"Sama-sama Ela," ucap Valdo sembari mengelus kepala Ela.
Deg ... deg... deg....
Jantung Ela berdegup kencang karena laki-laki yang membuatnya nyaman, damai dan perlakuannya sangat lembut hanya Valdo.
Walau terkadang kak Anir selalu melakukan hal-hal yang sama, tetapi berbeda. Valdo memang benar orang yang selama ini ia cari.
Hatinya yang sempat tertinggal kala Ela berada di Singapura dan saat ia kembali, ia malah mengalami hilang ingatan.
Tapi kali ini, Ela sudah mendapatkannya kembali, belahan hatinya yang sempat tertinggal.
"Val, aku punya sesuatu." Ela langsung menyambungkan ke topik utama.
"Apa itu?"
"Tada, ini bekel untuk kamu. Ini asli buatan aku dan tanpa ikut campur tangan mamah ataupun kak Anir.," jelas Ela memberikan bekel yang ia buat dari subuh hari.
"Wah makasih."
"Aku juga punya loh, untuk kamu. Spesial dari aku," sambung ucapan Valdo.
"Oh ya?"
"Iya, ini. Tada!" Valdo menunjukan bekel hasil kreasinya sendiri.
"Wah, makasih Valdo. Aku suka, tapi kok kita kebetulan banget ya?!"
"Karena kita sudah sehati." Valdo menjawab dengan gombal sedikit.
"Ish ya ampun."
Walau panas membakar kulit mereka, tetapi dunia ini serasa milik berdua. Antara kencan, piknik dan healing menjadi satu di siang itu.
"Oh iya, aku lupa." Ela langsung beranjak dari duduknya.
"Kenapa?" tanya Valdo kebingungan.
Ela menarik tangan Valdo untuk menjauh dari sinar matahari dan mereka duduk di bangku dekat pohon yang sudah di sediakan.
__ADS_1
"Jangan panas-panas, nanti kulit kamu kebakaran lagi."
"Hehehe iya, makasih udah merhatiin aku."
"Aku lupa tau Valdo, maaf ya."
"Enggak apa-apa sayangku."
Ucapan reflek dan yang di lontarkan dari mulut Valdo membuat hati Ela berdegup kencang, bahkan rasanya ia ingin pingsan kala itu.
Mungkin Ela terlalu salting brutal, makanya ia hampir pingsan setelah mendengar kata "sayangku."
'Valdo, lu bisa gak sih jangan buat orang salting gini? Duh jantung gua aman gak ya? Pengen loncat terjun payung, guling-guling gua rasanya Valdo!' batin Ela sembari memakan bekal.
Walaupun Ela terlihat tenang tetapi hatinya, fikirannya tidak tenang bahkan jika ini komik, mungkin akan di gambar berbunga layaknya Pangeran bertemu dengan Ratu.
"Enak gak La?" tanya Valdo.
"Ehm? Enak-enak. Enak banget malah," ucap Ela terhadap dari lamunannya.
"Alhamdulillah, bagus deh."
"Kalo punya aku enak gak? Keasinan ya? Kata kak Anir tadi pagi keasinan."
"Enggak asin kok, malah enak. Aku suka yang gurih-gurih gini."
"Iya tah?" tanya Ela sedikit ragu dengan jawabannya.
"Iya Ela."
Begitulah sifat dan sisi baik Valdo, walau pun masakan Ela sedikit keasinan, tetapi Valdo menyukainya dan memuji masakan yang di buat oleh kekasih hatinya.
Berbeda dengan masakan Valdo, masakan yang dibuat oleh Valdo rasanya sangat enak. Bahkan Ela sangat-sangat menyukainya.
"Kamu suka La?" tanya Valdo.
"Suka-Suka, suka banget malah."
"Alhamdulillah, kalo gitu nanti aku sering-sering buat deh untuk kamu."
"Wah boleh!" Seru Ela.
Valdo memperhatikan wajah Ela yang begitu manis kala sedang makan. Valdo tersenyum sembari membatin, 'Dia anak yang sederhana, tak perlu kemewahan untuk membuatnya bahagia. Tapi aku harus selalu membuat senyum di wajahnya.'
Di tempat yang sama dan di waktu yang bersamaan.
Ada seseorang yang sedang memantau mereka berdua, sepertinya orang ini merasa gerah kala melihat mereka bermesraan.
"Sial! Lagi-lagi dia lebih dulu!"
"Suatu saat gua bakal ambil apa yang gua mau, karena lo gak seimbang dengannya!"
Entah apa maksdu dari pembicaraan orang ini, tapi yang pasti ia tidak suka melihat Ela dan Valdo bersama.
...----------------...
Tek ... tek ....
"Alhamdulillah, kenyang." Valdo menutup bekal.
"Iya, alhamdulillah. Makasih ya Valdo atas makanannya."
__ADS_1
"Terimakasih kembali Ela ku."
Ela hanya tersenyum malu-malu, wajahnya sedikit memerah, tetapi jantungnya tidak terkendali.
"Mau ikut gak?" tanya Valdo beranjak dari duduk.
"Kemana?"
"Ayok ikut," ucap Valdo menghandeng tangan Ela.
"Boleh, Emang kita mau kemana sih?" Tanya Ela di sepanjang jalan.
Tetapi Valdo tidak mau memberi tahu kemana mereka akan pergi. Sembari berjalan beriringan Valdo tetap menggenggam erat tangan Ela.
...~•~●~•~...
Akhirnya mereka sampai di sebuah tempat pengerajinan. Walau disini banyak anak-anak tetapi Valdo senang begitu pun dengan Ela.
"Ngapain?" tanya Ela lagi.
"Aku mau buat suatu benda untuk kamu."
"Apa?"
"Udah ikut adik-adik kecik ini buat."
Ela dan Valdo di ajarkan membuat sesuatu yang menarik, sesuatu yang unik bahkan bisa dibilang kenang-kenangan yang tidak akan terlupakan.
Seperti lupa waktu, Ela dan Valdo berada disini hingga sore hari. Sampai kerajinan yang mereka buat selesai dengan sempurna.
"Yey selesai, alhamdulillah."
"Bagaimana? Cantik tidak?" tanya Ela ke anak-anak yang membantunya.
"Cantik sekali."
"Wah kamu hebat kakak, bisa membuat 2 benda walau kamu masih pemula."
"Ahahaha terima kasih, " Ela tersipu malu dengan pujian yang di berikan anak-anak ini.
Begitupun dengan Valdo yang telah selesai membuat kerajinan untuk Ela. Kerajinan ini memang ingin ia buat sejak lama, seperti di film-film.
Tetapi niatnya terurung terus karena dirinya selalu mengalami hal-hal yang tidak terduga.
"Alhamdulillah selesai juga." Valdo mengangkat kerajinannya sembari tersenyum.
"Wah cantik sekali kak, apa itu untuk pacar mu?" tanya anak kecil yang berada di sampingnya.
"Sttt, jangan terlalu keras bicarakan nanti dia tau apa yang mau aku berikan."
"Oh iya, hehehe baiklah-baiklah."
...~•~●~•~...
Mereka berdua pun berpamitan ke anak-anak kecil dan melanjutkan perjalanan kembali ke rumah masing-masing.
Di perjalanan.
"Kamu buat apa tadi La?" tanya Valdo.
"Rahasia dong, kamu sendiri?"
__ADS_1
"Rahasia juga."
Bersambung ....