Letter To My Albino

Letter To My Albino
Rumus Fisika


__ADS_3

'Muka Bimo gak bisa di kondisiin dasar Bimo ini, gak ngerti situasi banget,' umpat Ela dalam hatinya.


Hem ... hem ... hem ...


Suara deham dari belakang mereka berempat. Siapa lagi kalau bukan Riky tiba-tiba saja ikut menimbrung di tengah-tengah obrolan mereka.


"Ada bahasan apa kali ini?" tanya Riky sok akrab.


"Apa hayo?" tanya Ela.


"Gak mau, gak mau nebak."


"Idih apaan sih kamu Ki, sok imut." Cila meledek.


"Nah kan, sepupu gua udah ikut biang-biang ini."


"Mana ada gua biang! Lo kali biang. Gua sama Cila emang temen lama kali lo itu sokap," cetus Ela.


"Ih temen kamu galak bener sih Cil, kenapa ya Valdo mau?"


"Karena gua cantik, baik, imut, lucu gak kayak lo di tolak Gea hahaha," ledek Ela.


"Mana ada gua di tolak. Gua cuma kasian aja sama kak Anir, jadi gua ngalah."


"Oh ya? Hmm gua punya bukti sih kalo lo di tolak hahaha."


"Mana?"


"Nih ada di hp gua hehehe,"


Cila, Bimo dan Ryca hanya bisa diam kala Perdebatan cukup besar ada di tengah-tengah mereka.


Perdebatan yang hampir serupa saat Ela bersama Gea dan Saat Kak Anir bersama Ela. Orang-orang itu yang suka mencari masalah dengan Ela.


"Kalian ini gak bisa akur bener ya," sahut Valdo saat masuk ke ruangan.


"Valdo! Liat tuh si biang kerok ngeledek aku terus!"


"Lah lo duluan yang mulai."


"Mana ada? lo yang mulai geh! Valdo belain aku geh," rengek Ela menghampiri Valdo.


Merangkul tangan Valdo sembari membutuhkan dada. Mengangkat wajahnya sedikit lalu membuangnya ke arah sebelah kanan.


"Dih Mentang-mentang ada yang bela sombong lu!"


"Udah ih, Kamu ini juga Riky gak mau ngalah sama cewe. Debat terus gak cape apa?"


"Gak!" jawaban kompak dari Ela dan Riky.


"Hmpt ... hahahaha," tawa pun seketika pecah.


Karena niatan Valdo melerai keadaan malah tidak bisa terlerai.


'Hadeh,' keluh Valdo dalam hatinya.


...~•~[ Ruangan Khusus ]~•~...


Kak Anir dan Gea akan menemui mamah Nia dan juga papah Roy. Degup jantung Gea tidak bisa terkendali bahkan rasanya ingin lepas dari raganya.


"Gugup banget, kita mau nemuin mamah papah. Bukan nemuin presiden kok."

__ADS_1


"Bu-bukan masalah gugup, tapi aku ... aku ... aku gak bisa jelasin."


"Iya, iya. Sini mana tangannya?" ucap kak Anir menawarkan tangannya.


"Ayok kita temui mama dan Papah. "


Tok ... tok ... tok ...


Grek!


"Silahkan masuk tuan," ucap asisten papah.


"Makasih pak."


Tap ... tap ... tap ....


"Mah, pah, aku mau ngenalin cewe yang kata aku waktu itu."


"Wah Mana orangnya?" tanya mama Nia begitu bersemangat.


Gea mengumpat di balik tubuh besar kak Anir sembari menahan gugup yang terus menerjang.


"Ini mah, pah." Kak Anir menggandeng sang pujaan hati.


"Halo tante, halo om. Aku Gea."


"Wah cantik banget, ini bukannya temen Rain ya?"


"Iya Mah, ini temen Rain dan juga temen Valdo."


"Wah, kamu tinggal disini?" tanya mamah Nia.


"Wah jauh."


"Asli Aceh?" tanya Papah.


Karena papah Roy tau betul kalau di Aceh semua perempuan mengenakan hijap atau penutup kepala sedang kan Gea tidak.


"Enggak om, saya di angkat sama orang tua saya yang sekarang dan kami juga baru 4 tahun ini tinggal di Aceh. Karena ayah sakit jadi harus berobat di Batam selama dari saya di angkat menjadi anak."


"Oh, siapa nama orang tua mu?"


"Cut Mila, ibu angkat saya dan Teuku Yahya ayah saya."


"Oh kamu anak Yahya, saya tau betul keluarga kamu. Jangan-jangan anak kecil yang dulu pernah bertemu dengan saya itu kamu."


"Mungkin om."


"Kamu pernah tinggal di Bekasi kan 2 tahun kalau gak salah. " Papah Roy menebak.


"Iya om benar."


"Wah bagus Nir. Nanti om titip salam ya sama ayah kamu."


"Iya om, nanti saya sampaikan."


Papah Roy yang begitu sulit akrab dengan orang baru sepertinya menerima ke hadiran Gea dengan lapang dada.


Sama saat papah menyambut Valdo dengan begitu santai, bahkan mengobrol hal yang berat saja mereka masih satu frekuensi.


Mamah Nia pun asik mengobrol dengan Gea sampai kak Anir yang berada di dekat mereka tidak di hiraukan lagi.

__ADS_1


'Alhamdulillah mereka sefrekuensi,' ucap Syukur Kak Anir.


'Tapi betapa serunya nanti di rumah kalo ada Gea, ada Ela. Terus mereka debat gak ada ujung. Haduh nambah rame agaknya.'


"Kak Anir," panggil Ela dari lantai dasar sembari melambaikan tangan.


'Anak yang ekspresif banget Ela ini,' ucap kak Anir begitu dalam saat mentap sang adik yang masih berkumpul bersama teman-temannya.


"Wajar kalo Valdo suka sama anak itu ya," gumam Kak Anir.


...~•~●~•~...


Malam pun tiba.


Yang tersisa disini hanya Gea, kak Anir, Ela dan valdo saja. Teman-teman Ela dan juga anak-anak panti sudah pulang sebelum adzan asar.


Pembukaan Rain's Cafe berjalan dengan lancar bahkan semua tamu undangan suka dengan makanan dan menu yang ada di Cafe ini.


Berletak tidak jauh dari perkotaan, perumahan, bahkan tidak jauh dari jalan utama. Membuat Cafe ini menjadi Cafe strategis untuk di kunjungi.


Rain's Cafe, akan menjadi sebuah kisah baru di hubungan mereka saat ini. Ada yang sedang melangkah kan kaki ke jenjang yang lebih serius. Ada pula yang baru merajut kasih bersama kembali.


"Uh cape ya!" keluh Ela.


"Ginilah kalo kerja, cape banget tapi lumayan cuannya."


"Iya bener."


"Tapi kamu juga harus inget La. Hukum dan rumus fisika." Gea memberikan perumpamaan.


"Lah apa hubungannya Geol?!"


"Ya ada hubungannya. Semakin kamu membuat gaya di suatu benda, semakin banyak tekanan yang dihasilkan."


"Jadi gitu, jangan banyak gaya intinya."


"Oh, gua mah gak kepikiran sama sekali. Gua cuma mikir nabung, untuk beli alat buat komik yang lebih bagus."


"Biar cita-cita gua sama Valdo terkabul," lanjut Ela.


"Emang cita-cita kalian apa?" tanya Gea.


"Menjadi komukus terkenal," ucapan kompak dari Ela dan Valdo.


"Oalah pantes, lo buat di hightligt comingsoon. Ternyata lo buat komik," ucap Gea.


"Dia udah ada 3 komik yang di rilis, 10 udah ke jual dan komik baru terbaru, masih di buat."


"Spesial," lanjut kak Anir lagi.


"Ih jangan di bocorin dulu geh A!"


"Iya-Iya Enggak di bocorin kok, cuma di spill tipis-tipis."


"JANGAN!"


Ela mungkin malu jika Gea dan Valdo tau apa komik yang sedang ia buat dan tertuju untuk siapa komiknya itu.


"Sttth, jangan kepo dan jangan nanya-nanya oke." Ela langsung mempungkas ucapan sebelum mereka berbicara.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2