
1 jam kemudian,
"Memang gak gampang untuk menyelesaikan 1 lukisan kayak gini, tapi aku suka Do," ucap ku sembari tersenyum melihat lukisan ini telah jadi sempurna.
"Aku menunggumu kembali."
Lukisan sedang itu pun terpampang jelas di kamar Ela yang begitu luas. Warna yang tidak banyak membuat lukisan ini lebih nampak terang dari benda lain di kamar Ela.
"Oh iya paket tadi itu apa ya?" tanya Ela sembari mengerutkan dahi.
"Coba buka lah," Ela pun mengambil paket tersebut sembari membawa gunting dari laci lemari.
Creeek... sreekk..
Treet.. tek..
"Hah?"
Ela menatap paket itu, ternyata paket itu berisi sebuah boneka berukuran sedang. Bukan boneka bear atau pun panda. Tetapi boneka paus putih yang sedang tersenyum.
"Ada suratnya lagi?" gumam Ela melihat kartu surat yang menempel di boneka ini.
"Hai cantik, Apa kabar? Aku harap kamu baik-baik aja ya, Hmm paus ini untuk kamu supaya kamu selalu tersenyum bersamanya."
"Jangan khawatir. Jika kamu rindu peluk saja boneka ini dan temui aku saat sudah kembali."
Ela membacakan kartu surat berwarna biru tua sembari tersenyum manis, 'Pasti ini dari Valdo,' ucap Ela dalam hatinya.
"Ini adalah boneka ke dua yang aku dapat. Boneka ini akan menjadi hadiah terbaik ku," ucap Ela menatap Paus putih ini.
"RY?" ucap Ela saat melihat lambang yang tertera di boneka ini.
"Rivaldo Youkute," ucap Ela lagi sembari tersenyum.
"Awwwwv," Ela memeluk boneka itu sembari tersenyum manis kegirangan.
...----------------...
Dep.. dep.. ~ menutup pintu mobil.
"Alhamdulilah, akhirnya kita sampai juga."
"Ayo kita masuk sayang."
"Iya, bu."
...~•~[ Jakarta ]~•~...
"Emang cuma kita berdua Yal?" tanya Raffa.
Saat ini Rial sedang berada di rumah Raffa, menjemputnya untuk melakukan perjalanan ke Lampung lagi.
"Enggak, nanti gua jemput Ela juga ke Bandung baru nanti kita berangkat."
"Shipa di ajak?" tanya Raffa.
"Kalo dia mau ya ikut bareng lakinya, tapi katanya dia lagi hamil jadi gak bisa. Yaudah kita bertiga aja deh," jelas Raffa.
"Gila Shipa sama lakinya gercep banget hahahaha."
"Iya, bener."
"Mana ya Ela ini gak kirim serlokan. Gimana gua mau jemput coba."
"Coba di telfon lagi," saran Raffa.
"BTW, kawan lo yang mau lo ajak itu gak jadi apa?" tanya Raffa lagi.
"Enggak. Dia lagi sibuk sama cowoknya," jelas Rial.
Raffa hanya menganguk saja, sembari memakan cemilan ringan yang ada di samping mereka berdua.
"Fa, lo punya baju kaos gak sih?" tanya Rial.
"Kenapa Emang?" tanya Raffa yang begitu polos.
Raffa mengira, selama Rial di Amerika banyak perubahan yang terjadi di dirinya. Namun sayang, perkiraan Raffa salah.
"Noh liat ge," ucap Rial.
Rial mengangkat ke dua tangannya dan memperlihatkan dua sudut baju yang sudah basah terkena keringatnya.
__ADS_1
"Ih jorok nmbanget sih cewek!" ucap Raffa syok saat melihat ke baju tepat di ketiak Rial yang basah.
"Ya gimana, mamah tuh suruh gua pakek baju panjang biar rapih katanya."
"Tapi basah-basah gini gak bau ketek gua Fa," seru Rial.
"Ish astaga jorok banget cewe. Ada gak ya kira-kira cowo yang demen ama lo?" gumam Raffa masuk ke dalam rumah.
"Ish jahat banget, dahlah gua mau telfon Ela dulu."
Rial pun mulai menghubungi Ela lagi untuk menanyakan lokasi rumahnya sekarang.
Pov telfon.
Tut... tut... tut...
"Halo," sapa Ela.
"WOY ELA! GUA KEMAREN MINTA SERLOK, MANA KOK GAK DIKIRIM-KIRIM?" tanya Rial begitu emosi.
"Selow gak usah teriak-teriak."
"YA GIMANA GUA TERIAK COBA, LO AJA GAK NGIRIM-NGIRIM. BESOK GUA SAMA RAFFA KE RUMAH LO."
"Iya cerewet, ini gua serlok sekarang ya."
"Ya bagus-bagus."
"Dah gua cuma mau minta serlok aja, bye Ela."
"Hmm."
Pov telfon selesai.
Rial kembali menatap handphone dengan serius sembari bergumam, " Kayaknya Raffa sama Ela harus tau kemampuan gua yang baru deh hehehe."
"Apaan?" tanya Raffa tiba-tiba memberikan kaos berwarna hijau tua, bertulis 'Love mother, love father.'
"Ahahahaha baju siapa nih?" ledek Rial.
"Baju gua itu," ucap Rial tersipu malu.
"Ahahaha bacaannya alay banget ih ahahaah," Rial tertawa puas.
"Ish lo ini Yal, jangan gitu. Ini dari kakak sepupu gua yang di Bandung tau. Hadiah ulang tahun gua waktu SMP."
"Udah sana ganti baju, abis ini kita jemput Ela."
"Iya, iya cerewet."
Setelah Rial berpakaian rapih dan Raffa sudah membereskan barang-barangnya, Mereka berdua pamit untuk pergi ke Lampung bersama.
"Mah pergi ya."
"Pergi ya tante."
"Iya hati-hati ya sayang, kalau udah sampai bilang. Oke."
"Oke mah."
...~•~[ Rumah Ela ]~•~...
Ela sedang menyiapkan satu koper kecil untuk ia berlibur selama 2 hari di Lampung, bersama sahabat lamanya.
Bruk..
"Mau kemana?" tanya kak Anir.
"Ke Lampung, Rial udah di jalan, mau jemput aku."
"Oh, nanti tapi berangkatnya, nunggu papa sama mamah pulang."
"Iya Aa."
"Apa nih?" tanya kak Anir saat melihat boneka paus putih di samping koper.
"Boneka lah," jawab Ela menatap sang kakak.
"Iya Aa tau, maksudnya itu boneka dari siapa? kan kamu gak suka boneka."
"Dari Valdo."
"Ihh masa iya, tau dari mana kamu?"
__ADS_1
"Itu ada lambangnya 'RY' masa gak liat. Tuh di buntutnya," Ela memberi tahukan letak lambangnya.
"Masa iya, bisa aja Riky Yahya, Rein Yulia, Rahayu Yuna, Rio Ya-"
"Ya apa? Ya toyba? Udahlah kak Anir gak usah ngada-ngada, sini paus putinya," rengek Ela mengambil boneka itu dari tangan sang kakak.
"Eits, gak nyampe."
Pertengkaran pun dimulai.
Kak Anir memang suka mengejek dan menjahili sang adik, sedangkan Ela yang begitu emosional selalu terpancing akan kelakuan sang kakak.
Bahkan sampai papa Roy dan mama Nia datang pun mereka tidak menyadarinya.
Brak...
Bruk..
Deng...
"AA ANIRRRRR!"
"Blwek," Ledek kak Anir menjulurkan lidahnya serta mata naik ke atas.
"Aaaaaa, KAKA ANIR MAH LOH!!"
Mama dan papa yang mendengar hal itu hanya bisa diam di depan pintu masuk. Mereka tidak ada di tempat tetapi suaranya sampai ke garasi.
"Anir!" ucap papa.
"Hehehehe mamah, papah."
"Mamah, kak Anirnya tuh!"
"Ih ngadu! ngadu!" gumam kak Anir sembari meledek Ela.
Pertengkaran pun akhirnya berakhir dan suasana Kembali damai.
Brumm..
Tin.. tin..
"Mobil siapa itu?" tanya mama Nia.
"Itu mobil Rial deh kayaknya mah," ucap Ela langsung menghampiri suara klakson mobil.
"Oy ELA!" teriak Rial di depan gerbang.
"Kan bener, Ayok masuk-masuk."
Grekkk..
"Masuk dulu yuk," ajak Ela.
"Boleh, boleh." ucap Rafa setelah memarkirkan mobilnya tepat di depan rumah Ela.
...~•~[ Ruang Tamu ]~•~...
"Mama, Rial dateng."
"Halo tante, saya Rial, ini Raffa."
"Halo tante," ucap Raffa langsung mengambil tangan mama Nia.
"Wah Halo, ini teman SMA nya Ela ya?" tanya mama Nia.
"Iya tante."
"Emang mau kemana kalian? Eh iya, ayok duduk, duduk."
"Makasih tante, kami mau ke Lampung paling 2 harian. Kami mau ke Lampung Barat."
"Emang ada apa disana?" tanya papa.
"Halo om, disana lagingadain acara sekura ghik tuping (Pesta topeng adat khas Lampung) gitu om," jelas Raffa.
"Oh, yaudah. Tapi hati-hat di jalannya. Biasanya di sana macet kalo lagi ada festival."
"Iya om, terimakasih infonya."
Rial dan Raffa berbincang sedikit dengan mama Nia, sedangkan kak Anir hanya bisa mengintip dari lantai dua rumahnya saja.
Kalau Ela sedang bersiap-siap sembari berpamitan dengan lukisan yang baru saja ia buat.
__ADS_1
"Aku pamit dulu ya, gak lama kok cuma 2 hari aja. Kamu baik-baik ya disini bye-bye."
Bersambung...