
"Apa karna Gea?" Valdo menebak.
"Bukan."
"Terus?"
"Tapi ini karena Intan."
Deg!
'Intan? I-intan Siapa?' Tanya Valdo dalam hatinya.
"Khintan Nirra?" Tanya Ela menebak asal sembari mengerutkan dahinya.
Deg!
"Lo tau Intan La?" Tanya Riky sedikit terkejut.
"Bener? I-iya gua kenal sama Intan. Karena dia dulu mantan sahabat gua," jelas Ela.
"Hahaha lucu ya, dunia ternyata sempit," ucap Riky mengacak-acak rambutnya.
"Emang lo ada hubungan apa sama Intan Ki?" Tanya Ela.
"Gua ... gua ... Intan ngelahirin anak gua La," susah payah Riky mengucapkan kata tersebut.
"Hah?" Ela dan Valdo terkejut.
"Serius lo? Jadi yang hamilin Intan itu lo Ki?" Tanya Ela.
"Iya, seminggu yang lalu, gua ambil rambut anak gua, untuk di jadiin sample trs DNA," jelas Riky masih terpotong oleh nafasnya.
"Dan hari ini gua ambil suratnya di lab, ternyata hasilnya 99,99% itu anak biologis gua. Tapi gua bingung mau bilang ke bapak gimana!" Ucap Riky tertunduk.
"Riky, udah sekarang lo ke tempat umma dulu. Lo minta saran sama umma dan Valdo nanti bakal dampingin lo gimana?" Ucap Ela memberikan solusi.
"Iya boleh."
Valdo, Riky dan Ela pun berpisah di persimpangan itu. Ela kembali kerumahnya sedangkan mereka ke Panti Asuhan Umma Lisa.
Perjalanan Ela sedikit mendapat masalah karena Ela merasa seperti di ikuti oleh seseorang entah siapa.
Tetapi Ela pintar, ia tidak kembali kerumahnya, melainkan ke rumah Pian untuk meminta tolong awasi dia selagi di perjalanan pulang.
Pian ternyata sedang berada di teras, sedang duduk santai di temani secangkir kopi hangat dan sesungguhnya rok*k.
"Ngapain lu?" Tanya Pian.
"Ada yang ikutin gue," ucap Ela hanya memberi instruksi saja tidak dengan suaranya.
"Hah? Siapa?"
"Gak tau gue."
Pian pun langsung menaruh penting rok*k yang ada di tangannya ke sebuah asbak. Mendekati Ela sembari memahami situasi sekitar.
Pian melihat sebuah mobil terparkir di ujung jalan dekat ilalang tinggi. Logikanya ujung simpang jalan tidak mungkin ada mobil yang terparkir di sana.
Pian pun langsung mengajak Ela untuk menunggu di dalam rumahnya, sedangkan Pian ke dalam rumah bersiap-siap sembari menelfon rekan-rekannya.
"Gua liat target, di ujung jalan rumah gua. Ela sama gua, kalian bantu kawan Ela sampai rumah dan gua bakal nyari cara untuk nangkep orang ini." Perintah Pian kepada rekan-rekannya melalui handy talky.
Pian pun langsung menyuruh Ela pergi terlebih dahulu dan Pian akan mengikutinya dari belakang.
"Tapi kalo beneran gua di ikutin orang itu gimana?" Tanya Ela sedikit panik.
"Tenang aja, anak buah gua udah pada gerak semua." Pian menenangkan Ela.
__ADS_1
Pian memang sudah pulang lebih awal dari mereka karena Pian ingin melanjutkan lagi proses penyelidikan.
...~•~●~•~...
Saat ini Valdo dan juga Riky sudah sampai di Panti Asuhan Umma Lisa. Mereka berdua berencana akan menginap disini karena hati Riky masih gelisah.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, eh anak-anak umma. Tumben main kesini?" Tanya Umma menyambut mereka berdua.
Riky hanya tersenyum saja sedangkan Valdo masih mengalihkan topik pembicaraan. "Lagi kangen aja sama umma," ucap Valdo.
"Hmmm, ada apa nih? Yaudah masuk yuk, tadi malem umma dapet sumbangan makanan banyak banget."
"Dari mana umma?" Tanya Valdo.
"Dari donatur tetap, katanya mereka sengaja ngirim makanan ini untuk anak-anak disini. Sekalian doa bersama atas pernikahan mereka."
"Oalah, alhamdulillah. Pasti Kak Anir kan umma?" Valdo menebak.
"Iya bener."
"Yaudah ayok kita makan dulu pasti kalian belum makan kan?" Umma mengajak Riky dan Valdo ke ruang makan.
Makan bersama anak-anak panti membuat hati Riky sedikit tenang, damai bahkan ada sedikit jawaban terbentuk di hatinya.
Malam pun tiba.
Setelah selesai sholat berjamaah, Riky mengajak umma untuk mengobrol bersama dan Valdo pun ikut andil dalam perbincangan mereka.
"Kenapa Ki?" Tanya umma begitu lembut.
"Umma, aku butuh pendapat dari umma." Riky sedikit gugup.
"Apa itu?"
"Hah? Kamu serius?" Tanya umma lagi.
"Iya umma, ini." Riky memberikan surat hasil tes DNA.
Umma terkejut atas pengakuan Riky hari ini. Umma pun bingung harus bersikap seperti apa.
Disatu sisi anak adalah rezeki yang di titipkan tuhan ke mereka, tetapi di sisi lain tanpa adanya pernikahan anak ini lahir ke dunia.
"Dimana dia sekarang?" Tanya umma.
"Di rumah bidan Sri."
"Besok umma akan kesana."
"Tapi umma, bagaimana Iky bilang ke bapak? Bapak belum tau umma, aku bingung." Riky akhirnya menyampaikan kegelisahan hatinya.
"Kamu bicaralah dengan beliau baik-baik, minta maaf kepadanya, dan cari waktu yang tepat saat mengajak beliau mengobrol hal penting ini."
"Iya umma."
"Sudah sekarang kalian beristirahat lah disini dulu. Besok kalian akan melanjutkan aktivitas lain lagi."
"Iya umma."
...~•~[Rumah Ela]~•~...
Pukul 20.00 WIB.
Ela mengecek semua kamera CCTV selama tiga hari ini dan semua dalam keadaan baik-baik saja.
Tidak ada yang mencurigakan dan juga tidak ada yang mengintai rumah mereka. Ela sedikit lega karena kediamannya sekarang dalam kondisi baik-baik saja.
__ADS_1
Ela pun turun ke dapur, mengambil beberapa roti dan juga teh hangat lalu membawanya ke kamar.
Di kamar Ela.
Tek ... (Menaruh piring di meja)
"Siapa sih orang yang ngikutin gua itu tadi?" Tanya Ela ke dirinya sendiri.
Ting! (Notifikasi chat pribadi)
"Siapa? Oh kak Pian eh maksudnya Pian." Ela membuka isi chat tersebut.
POV chat.
"Gua dapet info tentang orang yang ngikutin lo tadi La."
^^^"Hah? Siapa Yan?"^^^
"Asisten Anton. Karen gua liat mobil itu terparkir di perusahaan Anton."
^^^"Serius lu? Jangan asal nuduh nanti lo kena pasal loh."^^^
"Gua seius Ela."
"Nih." (Mengirimkan foto)
^^^"Hah? Iya bener, tapi masa iya Anton yang nyuruh buat ngikutin gua? Untuk apa?"^^^
^^^"Dan kotak hitam waktu itu juga apa bener Anton yang nyuruh juga? Gua masih belum percaya Yan!"^^^
"Yaudah nanti kita buktiin sendiri, lo ikut gua dalam penyelidikan."
^^^"Oke, gua bakal ikut lo."^^^
POV chat selesai.
'Apa iya sahabat sendiri yang ngelakuin ini?' Batin Ela.
'Apa iya sahabat sendiri itu musuh dalam selimut? Kalo iya gua bakal kecewa banget. Karena Anton sahabat paling dewasa menurut gua.'
'Sahabat yang paling pengertian, sahabat yang bisa di andalkan. Tapi kalo kenyataan membuktikannya ... gua kecewa,' lanjut batin Ela lagi.
...----------------...
Keesokan harinya.
Valdo memberi tahu ke Ela kalau dirinya, Umma dan Riky akan ke rumah Bidan untuk menjenguk Intan.
Ela pun akan ikut ke sana, dari pada ia di rumah sedirian lebih baik ia ikut pergi menjenguk walau pun Intan pernah menjadi musuhnya.
Di perjalanan.
Riky bertukaran dengan Ela karena Riky akan pulang terlebih dahulu dan akan menyusul nanti. Sedangkan Umma, Valdo dan Ela melanjutkan perjalanan mereka.
Perjalanan memakan waktu cukup lama 35 menit dan akhirnya mereka sampai di rumah Bidan Sri.
Memarkirkan motor dan masuk ke dalam, untuk menjenguk Intan. Saat di dalam, proses untuk bertemu ibu dan anak sedikit sulit.
Karen prosedur yang ada di tempat Bidan ini. Cukup lama mereka menunggu, 15 menit kemudian mereka di perbolehkan menjenguk ibu dan anak.
"Assalamualaikum," salam dari merek bertiga.
"Waalaikumsalam, siapa ya?" Tanya Intan saat belum melihat wajah Ela.
Deg!
Bersambung...
__ADS_1