Letter To My Albino

Letter To My Albino
Persaingan di Dalam Persaingan


__ADS_3

"Awh! Ya ampun ibu kamu baik banget deh, sama kayak kamu," ucap Ela langsung mengambil bekal dari tangan Valdo.


"Ibu kamu jadi buat 2 bekal untuk kita?" tanya Ela lagi.


"Iya, mungkin karena kemarin aku bawain kamu bekel jadi ibu buatin dua deh."


"Hehehe ya ampun padahal kemarin aku juga buat untuk kamu, nanti bilangin makasih ya ke ibu."


"Iya, siap ibu bos."


Makan siang bersama di taman kampus membuat kisah baru yang akan Ela tuang di atas kanvas miliknya.


'Akhirnya gak ada lagi yang ganggu kita ya Do,' batin Ela.


Dari ke jauhan.


Dugh! ( meninju pohon yang ada di sebelahnya.)


'Kenapa hati gua panas gini sih?!' Batin seseorang yang sedang memantau Ela dan Valdo dari balik pohon.


Di tempat lain, tepatnya di gedung 3 lantai 2 ada mata-mata yang sedang memperhatikan Ela dan Valdo. 'Tidak ada yang mencurigakan dari mereka berdua,' batinnya.


Baru saja mata-mata ini melangkahkan kaki, orang ini melihat seseorang lain di balik pohon sedang menatau Ela dan Valdo.


Bahkan orang ini melihat kala seorang di balik pohon itu mendaratkan tangannya ke sebuah pohon besar.


"Orang itu? Apa dia ada niat buruk ke Ela atau Valdo? Gua harus cari tau dan bakal gua laporkan semua gerak-gerik mencurigakan ini ke dia!" Ucap mata-mata ini lalu pergi ke lantai dasar.


...~•~[Gazebo]~•~...


Bimo menuju tempat biasa mereka berkumpul sembari membawa minuman kaleng dingin dan juga berkas tugas-tugasnya.


Tap ....


Bruk ....


'Kenapa Anton pindah ke sini?' batin Bimo masih memikirkan pertanyaan itu mulai dari kelas berlangsung hingga saat dia sampai di Gazebo.


"Hoam ... kok sendirian Mo? Ryca mana?" tanya Anton datang menghampiri.


"Masih ada kelas dia, paling bentar lagi kesini." Bimo bersikap acuh ke sahabatnya ini.


"Oh gitu, Ela mana?"


"Entah, sama Valdo kali." Bimo mulai meneliti ucapan orang yang berada di hadapannya.


"Oh," jawaban singkat namun penuh tanya.


"Lo kenapa pindah kesini?" tanya Bimo langsung menyecar Anton.


"Om gua buka butik disini, gua di tugasin jagain toko dia dan kebetulan gua baru masuk kuliah lagi jadi gua putusin untuk pindah ke sini," jawab Anton tanpa terbata-bata.


"Oh, bukan karena Ela?" Bimo langsung bertanya apa yang ada di pikirannya.

__ADS_1


"Enggaklah, kenapa lo nanya gitu? Lo takut tersaingi?" Tanya Anton sedikit bernada angkuh.


"Gua? Tersaingi sama lo? Hahaha lo bukan level gua untuk bersaing. Lagian Ela udah anggep gua ini kakaknya sendiri jadi gak ada kata bersaing bagi gua!" Jawab Bimo dengan nada angkuh dan bangga.


"Tapi lo menyedihkan ya Mo, selalu ada di sampingnya tapi cuma di anggap kakak dan gak lebih." Anton menyeringai.


"Lebih menyedihkan lagi itu lo Ton, emang selama ini lo pernah di anggap temen sama Ela? Bahkan lo cuma sekedar teman tanpa di pandang!" Ketus Bimo.


Sebenarnya pertemanan antara Bimo dan Anton tidak baik-baik saja sejak mereka berdua mengetahui kalau mereka menyukai orang yang sama.


Ela bukan primadona sekolah, tetapi sifat Ela yang tangguh dan berani membuat beberapa temannya menyukai Ela.


Begitu pula dengan cerita persahabatan mereka. Bimo dan Anton sudah menjadi rival berat saat mereka masih SMP.


...Flasback on....


Bimo yang terlalu condong memperhatikan Ela setiap saat membongkar rahasia yang ia pendam.


Rahasia itu adalah rasa sukanya terhadap Ela. Anton juga sering memperhatikan gerak-gerik sahabatnya dan disini lah dia tau kalau Bimo menyukai Ela.


Gudang belakang sekolah.


"Lo suka sama Ela ya Mo?" tanya Anton.


"Iya, kenapa? Lo juga suka?" Tanya Bimo yang tak suka basa-basi.


"Kenapa harus Ela? Kenapa lo gak suka sama Ryca aja?!"


"Iya gua tau! Tapi Ryca suka sama lo Mo!" Anton mengucapkan kenyataannya.


"Dari pada lo ngurusin hidup gua dan hidup orang lain, mending kita bersaing secara adil aja deh!" Tantang Bimo.


"Oke, siapa takut! Gua bakal buktiin kalo gua yang pantes untuk Ela dan lo harus menjauh dari Ela ketika lo kalah!"


"Gua? Menjauh? Lo gak tau gua sama Ela udah ada hubungan apa! Mustahil untuk Ela jauh dari gua!" Ujar Bimo bernada sombong.


...~•~●~•~...


Tepat kenaikan kelas 9.


Ela perlahan-lahan menjauh dari Bimo begitu pun sikap Ela dengan Anton. Jadi disini belum ada pemenang dari niatan 2 rival dalam ikatan sahabat ini.


Setelah kelulusan SMP.


Sudah di pastikan tidak ada siapapun yang dapat memenangkan hati Ela. Entah itu Bimo atau Anton.


Bahkan saat Ela sekolah di luar kota tempat tinggalnya, persaingan antara kedua orang ini pun masih terikat hanya saja jarak sedang memisahkan.


...Flasback off....


'Gua gak bakal biarin hubungan Ela dan Valdo hancur cuma gara-gara biang kerok ini!' Batin Bimo.


"Gua cuma kasih tau aja sama lo ya Ton, Ela udah ketemu sama orang tepat! So? Lo jangan ganggu dia lagi." Bimo sedikit mengancam.

__ADS_1


"Hak gua, gua punya pilihan sendiri," ucapan Anton sudah bisa di tebak oleh Bimo.


'Akhirnya gua tau arah pertanyaan-pertanyaan lo selama ini!' Batin Bimo.


Bruk!


"Hay!" Sapa Ryca memecahkan ketegangan di antara mereka.


"Lama amat kelas kamu Ca?" Tanya Bimo.


"Iya tadi prak ... eh?" ucapan Ryca terpotong kala mendengar ucapan aneh dari mulut Bimo.


"Kenapa?" Tanya Bimo.


"Tadi kamu ngomong apa?" tanya Ryca lagi.


"Lama amat kelas lo Ca?" Bimo mengulang pertanyaannya.


"Tapi tadi gak kayak gitu deh," gumam Ryca memasukan buku-buku ke dalam tasnya.


"Oh iya! Hari ini kan Cafe mamah baru launching, gimana kalo kita nongkrong disana? Sekalian makan cuci mata." Ryca mengajak Bimo dan Anton.


"Boleh-boleh." Bimo exaited.


"Kamu Ton? Ikut ya!" Rengek Ryca.


"Iya deh boleh," Anton pun setuju.


"Terus Valdo sama Ela gak di ajak?" Tanya Bimo lagi.


"Mereka gak bisa katanya, mereka mau ikut kak Anir pergi ke Bandara."


"Oh gitu, yaudah kita berangkat sekarang aja!"


"Iya ayok."


'Lagi-lagi gua hilang kesempatan untuk ngobrol bareng Ela!' Batin Anton saat menuju parkiran.


...~•~[Tempat Ela dan Valdo Berada]~•~...


"Alhamdulillah kenyang, hehehe makasih ya Valdo," ucap Ela tersenyum.


"Iya sama-sama sayang."


Deg ... deg ... deg ....


Ela hanya tersenyum saja karena jantungnya tidak bisa berdetak sangat cepat sekali.


'Duh kayak gini, gua harus siap-siapin kuping agar terbiasa dengan panggilan sayang!' Batin Ela.


Wajah berseri-seri pun muncul bahkan wajah Ela cenderung memerah. "Ayok kita berangkat!" Baru saja mereka beranjak dari tempat duduk ini tiba-tiba Pian datang untuk memberikan sebuah kabar ...


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2