Letter To My Albino

Letter To My Albino
Pertanyaan Penasaran


__ADS_3

Ado melontarkan pertanyaan secara sengaja yang membuat Riky terkejut dan juga sedikit malu untuk mengakuinya.


"Riky, kamu itu sebenarnya melakukan ini semua karena apa? apa saya dulu pernah ada salah kata ke kamu? atau saya salah karena saya lebih dulu di ambil oleh orang tua angkat saya?" tanya Ado penasaran.


"Hahaha, gua malu untuk ngakuin ini semua do. bukan masalah lo lebih dulu di ambil atau lo pernah salah kata ke gua. tetapi ini gara-gara, " Riky menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya.


15 tahun yang lalu,


Tepatnya di hari Gea akan pergi dari panti ini. setiap hari Gea dan Riky selalu bersama kemana pun mereka pergi, selalu bergandengan tangan dan Gea selalu ada untuk Riky apapun kondisinya.


Hari ini adalah hari dimana Gea pergi meninggalkan panti, entah sampai kapan mereka akan bertemu lagi.


Hari itu semua anak sedang bersekolah dan yang ada di ruangan kecil hanya ada Ado, Oby, dan Eja saja.


Gea tau kalau Riky masih ada di daerah panti ini, namun Riky tidak kelihatan sampai Gea akan pergi.


Ado melihat Gea sedikit gelisah, akhirnya ia mencoba menghibur Gea sebisa mungkin dan Oby pun melakukan hal yang sama juga.


Riky ada diruangan itu tepatnya dibalik hordeng pintu. Riky hanya mengintip saja karena dia kecewa sangat-sangat kecewa karena pujaan hatinya harus pergi lebih dulu meninggalkan tempat ini.


Saat di teras Panti, Gea menitipkan sebuah kotak kecil kepada Ado untuk di berikan ke Riky nanti saat dia bertemu dengannya.


Namun hal itu membuat Riky salah paham sehingga Ado menjadi korban kebenciannya sampai saat terakhir Riky hampir membuat Ado sekarat.


Mendengar penjelasan Riky, Ado tersadar kalau selama ini hanya salah faham saja antara mereka berdua.


Ado pun mulai meluruskan cerita dan Ado juga memberi tahu kalau kado yang dia dapat bukanlah untuk Ado melainkan hanya titipan.


(tersenyum) "Jadi selama ini kita salah faham karena sebuah kado kecil ya?" ujar Ado.


Riky hanya bisa menunduk saja sembari tersenyum.


"Kado itu memang ada di saya, tapi itu bukan punya saya dan sampai detik ini pun saya tidak tahu apa isinya."


Mendengar penjelasan Ado, Riky membulatkan matanya. Kepalanya di penuhi pertanyaan yang tidak bisa ia pecahkan.


"Terus kado itu punya siapa?" tanya Riky.

__ADS_1


Ado pun menjawab sembari tersenyum, "Kamu." Jawaban yang singkat itu, memecahkan seluruh pertanyaan yang memenuhi kepala Riky.


"Nanti malam kerumah saya aja ya Ki, saya mau pulang dulu. Takut ibu nyariin," ucap Ado, kemudian pergi mengendarai Sepedah motor baru miliknya.


Rasa puas terlihat jelas di wajah Riky dan ia tak sabar ingin melihat kado apa yang Gea kasih untuk dirinya.


...~•~[Rumah Ela]~•~...


Kak Anir dan Ela sedang berada di Balkon sembari menikmati eskrim yang di beli tadi.


"Tadi Ado?" tanya kak Anir tiba-tiba.


Ela hanya menganggukan kepalanya saja dan tetap menikmati eskrim yang ada di tangannya.


"Tadi sama siapa? bukannya orang itu yang pernah lukain kamu ya waktu dia berantem sama Ado?"


Ela hanya membulatkan matanya dan makannya pun berhenti. Ela membatin, 'Kak Anir kok bisa tau ya?' dengan raut wajahnya yang berkerut. 'Oh iya, aku lupa. kan waktu itu kak Anir bantu buat nolongin.'


...~•~●~•~...


Keesokan harinya, Ado mengajak Ela pergi kerumah Bimo. Selama di perjalanan hanya ada keheningan, tidak seperti biasanya.


"Lo tumben diem aja Do, kenapa?" tanya Ela memecahkan keheningan.


"Gak apa-apa kok La," ucap Ado.


"Do gua boleh nanya gak sama lo, tapi maaf ya kalo pertanyaan gua nyinggung perasaan lo."


"Iya, santai aja La. Emang mau nanya apaan?" tanya Ado lagi.


"Gua sebenarnya pengen nanya ini dari lama tapi gua gak enak sama lo, mungkin sekarang gua bisa nanya."


"Lo ini albino ya Do?" Ela melanjutkan pertanyaannya.


Ado hanya menganggukan kepala saja karna dia masih fokus ke jalanan yang cukup padat.


"Hmm, kalau albino itu sebenarnya penyakit? atau kelainan genetik atau mungkin faktor bawaan do?"

__ADS_1


"Kalau kata umma, saya mengidap albino karena kelainan genetik."


"Biasanya albino ini ada penyakitnya gitu gak sih? ehmm maksudnya kayak gak bisa kena sinar matahari gitu?" tanya Ela penasaran.


Seketika Ado membulatkan matanya, dia hanya diam beberapa menit kemudian menjawab pertanyaan Ela.


"Hmm katanya sih ada, tapi sesuai sama orang yang ngidap albinisme itu. kan, albinisme ada beberapa macam dan tingkatannya juga."


"Kalau lo Do ada di tingkatan yang mana dan albinisme macem apa?" tanya Ela lagi.


Ela benar-benar penasaran dengan dunia albinisme karena menurutnya orang yang mengidap albinisme itu adalah orang-orang yang unik bagi dirinya.


"Kalau saya ada di macam dan tingkat yang umum, maksudnya rata-rata albino yang ada di indonesia gitu."


"Albino juga kelainan yang langka, wajar kalau orang melihat orang lain yang kena albinisme itu sedikit aneh bahkan di luar negeri banyak sekali diskriminasi terhadap anak-anak atau orang dewasa yang mengidap albinisme ini."


Ela hanya diam mendengar penjelasan panjang lebar dari Ado. Ela juga tidak menyangka bahwa albinisme sering mengalami diskriminasi.


Ela pun membatin, "Pantes Ado kayak disingkirkan gitu sama anak-anak kampus, Ado juga ngalamin banyak kesusahan pasti selama dia sekolah. Tapi perundungan kemarin yang terjadi kepada Ado itu bene-bener sadis."


"Kenapa gitu kamu tiba-tiba nanyain tentang albino?" tanya Ado mulai penasaran.


"Engga apa-apa, semalam pas baru mau tidur tiba-tiba keinget sama cowo yang pernah gua srempet pas pulang dari ujian PTN." jelas Ela


"Terus dia bilang kalau dia sensitif cahaya matahari, apa mungkin dia ngidap Albinisme ya? duh gua bener-bener gak enak banget sama tuh cowo, ngerasa bersalah banget guaDo." lanjut Ela lagi.


Ado hanya tersenyum saja mendengar penjelasan Ela, karena yang Ela tabrak dulu itu adalah dirinya namun Ela belum sadar akan hal itu.


Sesampainya dirumah Bimo, Bunda menyambut Ela dan Ado yang baru datang. Bunda juga memberitahukan kalau, "Ayok masuk, itu di dalem ada Ryca baru datang juga."


Bunda Bimo sedikit tercengang kala melihat Ado yang begitu putih, bahkan putihnya melebihi dirinya.


"Ini Bunda sedikit bingkisan dari ibu," ucap Ado sembari menyerahkan bingkisan untuk menjenguk temannya.


Ado dan Ela langsung menuju taman belakang tempat bisa mereka kumpul dan betapa terkejutnya Ado melihat sosok yang sudah lama tidak pernah bertemu dengannya...


Bersambung...

__ADS_1


...Perbedaan bukanlah alasan untuk memutuskan tali pertemanan, *Bukankah semboyan kita "Bhineka tunggal ika?" Lantas mengapa masih ada diskriminasi terhadap orang-orang yang terlihat berbeda dari kita (berkulit eksotis)....


...- Ela D'naisy*...


__ADS_2