Letter To My Albino

Letter To My Albino
Menjemput Kebahagiaan.


__ADS_3

Bimo merasakan ada sesuatu di antara mereka berdua sehingga muncullah spekulasi di benak Bimo.


'Oke, persaingan baru di mulai dan permainan baru di mulai!' Batin Bimo paham akan situasi.





...~•~[ 3 Bulan Kemudian ]~•~...


Hari ini tepat tanggal 6 Agustus.


Hari yang sangat di tunggu-tunggu oleh semua keluarga Ela termasuk keluarga pihak mempelai wanita.


Hari ini, kak Anir akan resmi meminang sang pujaan hati yaitu Cut Gea Vieka di Kediaman mempelai wanita.


Banyak para tamu undangan menghadiri acara ijab qobul, termasuk teman-teman Ela pun datang untuk menyaksikan acara ini.


"Huh ..." Kak Anir menghembuskan nafas berat karena gugup, bahkan jantungnya saja berdegup kencang dari semalam.


Kak Anir tidak bisa tidur nyenyak karena memikirkan akan lancar atau tidak acara ijab hari ini.


"Udah jangan gugup, santai, relax," ucap Ela meledek sang kakak.


"Kakak gak gugup cuma ..."


"Cuman apa? Cemas? Hahahaha santai, relax," ucap Ela meledek lagi.


"Mending kami keluar deh La, main sana sama temen-temen kamu."


"Hehehe iya-iya."


Ela pun keluar dari kamar sang kakak tetapi saat membuka pintu, Ela meledek sang kakak lagi, "Santai, relax. Aku mau ke rumah Geol ya hehehe."


"Ngapain?"


"Ngadu, kalo kakak lagi gugup hahahaha." Ela pun langsung menutup pintu dan berlari ke ruang tamu.


"Ela!" Teriak sang kakak dari kamar.


Ela hanya menyeringai saja, karena ia puas telah mengganggu sang kakak hingga emosi.


...~•~●~•~...


Tepat pukul 10.00 am.


"Saya terima nikah dan kawinnya Cut Gea Vieka dengan mas kawin tersebut di bayar tunai," ucapan lantang dari kak Anir membuat semua keluarga terharu.


Kak Anir berhasil mengucapkan qobul dengan satu tarikan nafas saja.


"Bagaimana para saksi sah? Sah?"


"SAH!"


"Alhamdulillahirabilalamin."


'Kedua kalinya aku menghadiri sebuah pernikahan dan kedua kalinya aku bersama orang yang paling aku sayang.' Ela membatin sembari melirik ke arah Valdo.


"Kakak lo resmi jadi suami orang tuh," bisik Pian.


"Lo sendiri kapan nyusul? Jangan jomblo ke lamaan, ntar jamuran hahaha," ledek Ela.


"Hmmm cewe lo ini agaknya tukang ngejek orang ya!" Ucap Pian ke Valdo.


"Gak apa-apa bagus." Valdo tersenyum.

__ADS_1


"Cocok, cocok bener kalian berdua ini!" Pian langsung meninggalkan Ela dan Valdo.


...----------------...


Rasa kebahagiaan ini terasa lengkap karena orang-orang yang Ela sayangi berada di sampingnya.


"Selamat ya kakak aku, selamat ya Geoll. Hehehe nanti tunggal di Bandung ya biar kita bisa belanja bareng," ucap Ela saat bersalaman dengan pengantin.


"Hehehe iya-iya Ele adikku."


"Selamat ya Ge, selamat ya kak," ucapan selamat dari Valdo.


"Nyusul ya cepetan," sahut Gea ke Valdo.


"Hehehe, insyaallah selesain kuliah dulu," ucap Valdo yakin.


"Gua tunggu ya Val ucapan lo," tekan kak Anir.


"Jemput kebahagiaan lo Val cepet-cepet," sambung Gea.


Valdo mengiyakan saja perkataan Gea dan kak Anir tersebut. Setelah itu, mereka pun makan bersama di meja yang sama.


"Bukannya dulu Riky deket sama Gea ya?" Tanya Ryca saat di meja makan tamu.


"Iya, memang." Ela menjawab.


"Tapi kok, si Riky gak dateng?" Tanya Ryca lagi.


"Kayaknya dia lagi ada masalah deh, tapi gak tau apa." Valdo menimbrung percakapan.


"Kamu tau dari mana?" Tanya Ela.


"Sebulan yang lalu aku ketemu Riky di gang deket perumahannya, tapi mukanya agak lesu gitu gak tau kenapa."


"Gak kami sapa?" Tanya Ryca mendeteksi.


"Tegur tapi dia bilang 'gak apa-apa cuma kurang enak badan aja.' Jadi yaudah aku langsung pulang karena aku abis beli pecel untuk ibu." Valdo menjelaskan secara detail.


"Yaudah nanti kita cari tau setelah pulang dari sini, " Bimo menyahut setelah makanannya habis.


"Nah ide bagus tuh!"


"Tapi gua gak suka sama orang itu, jadi gua ikut kalian aja untuk jaga-jaga," ucap Bimo secara terus terang.


"Iya-Iya, paham gua Mo!" Ela memahami perkataan Bimo.


...~•~●~•~...


3 hari setelah ijab qobul dan resepsi, Ela dan teman-teman lebih dulu pulang ke Bandung karena Ela harus kembali kuliah.


...~•~[ Bandung, Bandara Internasional ]~•~...


"Akhirnya sampe juga kita di Bandung ey!" Ucap Bimo meregangkan tubuhnya, begitu pula dengan yang lain.


Krek ... krek ... krek ...


"Alhamdulillah, Makan dulu yuk laper banget tau," ajak Ela.


"Iya sama, ayok kita kulineran!" Ucap Ryca.


Ela dan Ryca pun kompak pergi duluan keluar Bandara. Sedangkan Bimo dan Valdo mengikuti saja dari belakang.


Memesan taxi hingga sampai di Cafe milik mamah Ryca, makan siang dan beristirahat disana hingga sore hari.


"Makanannya enak-enak juga ya Ca, jadi suka," ucap Bimo tidak berhenti makan.


"Lo mah semua makanan masuk, makin bakwan wishcas aja lo makan kali kali," sahut Ela sembari mengaduk eskirim miliknya.

__ADS_1


"Ih gila, di kira kucing kali gua!"


Mereka berempat hanya tertawa saja sembari melihat wajah Bimo yang semakin hari semakin berisi.


Setelah itu, Bimo, Ela dan Valdo berpamitan pulang karena hari semakin gelap. Menggunakan mobil jemputan Bimo, mereka bertiga pergi dari Cafe Ryca.


Selama di perjalanan, Ela hanya diam memandang arah jalan luar sampai akhirnya ia melihat seseorang yang sedang duduk termenung di arah gang rumah mereka.


'Siapa itu? Kok kayak Riky?' Batin Ela memicingkan matanya.


"Dah sampe La," ucap Bimo.


"Wah cepet bener," ucap Ela langsung turun.


Menuruni semua barang-barangnya, kemudian berterimakasih atas tumpangannya.


"Saya juga berhenti disini ya Mo. Makasih atas tumpangannya," ucap Valdo.


"Lah kenapa?" Tanya Bimo.


"Kan deket, searah malah."


"Oh iyaudah deh, gua balik ya bye."


Mereka berdua melambaikan tangan hingga mobil Bimo tidak terlihat lagi. Valdo membantu Ela memasukan kopernya ke dalam rumah.


Karena Valdo takut jika kejadian yang di ceritakan Pian waktu itu sampai terjadi ke diri Ela.


"Makasih ya Valdo," ucap Ela tersenyum.


"Iya sama-sama." Valdo mengusap kepala Ela.


"Oh iya kamu mau ikut aku sebentar gak?" Tanya Ela.


"Kemana?"


"Tapi kamu capek gak?" Tanya Ela lagi.


"Enggak terlalu, emang mau kemana sih sayang?" Tanya Valdo menganalisis.


"Udah ikut aja yuk sebentar, aku penasaran soalnya!" Ela langsung menutup pintu kembali, mengunci dengan rapat lalu menuju ke garasi.


Mengeluarkan sepeda motornya ke luar gerbang, lalu menggembok pagar rumahnya.


Ela pun melajukan motornya ke tempat ia melihat seseorang sedang duduk merenung.


6 menit kemudian, rasa penasaran Ela pun hilang. Karena apa yang ia lihat tadi benar-benar nyata.


Bahkan fikiran Ela pun sedikit lega. Bersama Valdo, Ela mendekati Riky yang sedang duduk termenung di bawah pohon dekat pangkalan ojek.


"Riky? Kenapa?" Tanya Ela.


Deg!


"Hah? Eh kalian, gua gak kenapa-kenapa kok." Riky menjawab dengan nada gelisah.


"Serius? Coba cerita ke kita, siapa tau gua atau Valdo bisa bantu," ucap Ela menenangkan Riky.


"Apa karna Gea?" Valdo menebak.


"Bukan."


"Terus?"


"Tapi ini karena Intan."


Deg!

__ADS_1


'Intan? I-intan Siapa?' Tanya Valdo dalam hatinya.


Bersambung ....


__ADS_2