
'Jangan-jangan bercak di kasur saat itu, adalah perbuatan ku?' ucap Riky terdiam.
"Ke-kenapa kalian datang kemari?" tanya wanita itu.
"Kami sengaja mencarinya untuk mempertanggung jawabkan atas perbuatannya."
"Aku, aku tidak apa."
"Kau tidak apa?! Lantas bagaimana bayi yang ada di kandungan mu itu nanti? Bertanya siapa ayahnya? Dan bagaimana keluarganya?"
"Kau tidak kasian?"
Wanita paruh baya itu memarahi wanita cantik yang sedang mengandung. Lamunan Riky pun seketika membuyar.
"Tunggu ada apa ini? Apa maksudnya?" tanya Riky bingung dengan kondisinya.
"Kau harus bertanggung jawab atas perbuatan mu."
"Aku? Apa benar? Kau tidak salah menuduh orang kan?" tanya Riky lagi.
"Ibu! Sudahlah, biarkan saja dia pergi."
"Pergi? Setelah susah payah aku menemukan dia di lokasi. Sekarang kau malah menyuruhnya pergi?!"
"Apa kau gila Intan!"
Deg!
Air mata yang sudah di bendung itu tak mampu lagi tertahan. Air matanya tiba-tiba mengalir deras membasahi pipinya.
"Maaf bu, dia sedang mengandung, jangan kau memarahinya! Kondisi mental dan batin seorang ibu hamil akan terganggu jika ia terus menerus dalam tekanan."
"Iya! Aku tau tapi ini ulah mu. Aku tidak mau tau, kau harus mempertanggung jawabkan atas apa yang kau lakukan itu Riky!"
Wanita paruh baya itu pun pergi meninggalkan Riky dan Intan berdua di dalam rumah kontrakan kecil yang hanya di huni Intan seorang diri.
Riky membantu menenangkan Intan, sembari mengajaknya duduk bale-bale bambu dan mengusap pundaknya agar tidak terasa berat lagi.
'Andai kau seperti ini dari awal. Apa kau mau mempertanggung jawabkan atas perbuatanmu?' tanya Intan dalam hatinya.
Saat Intan mulai tenang, nafasnya mulai teratur, bahkan senyum palsu pun sudah nampak, barulah Riky bertanya.
"Siapa kamu?"
"Apa kamu bisa menjelaskan semuanya?" tanya Riky lagi.
"Apa kau mau percaya padaku?" tanya Intan.
"Iya aku percaya."
"Apa kau tidak takut merasa di bohongi?"
"Tidak."
"Mengapa?"
"Karena hatiku berkata begitu."
"Baiklah aku akan menjelaskannnya. Jika kau tidak percaya aku punya satu bukti."
Intan pun menjelaskan secara rinci tentang kejadian itu. Bahkan Intan pun meminta maaf kala mengakui dirinya sebagai kekasih dari Riky.
__ADS_1
...~•~●~•~...
"Begitulah ceritanya. Apa kau percaya?" tanya Intan sembari menahan tangisnya lagi.
"Entahlah. Lalu bukti apa yang kau punya?"
"Ini."
Intan menunjukan sebuah voice note yang ia buat demi melindungi dirinya jika terjadi sesuatu yang tidak-tidak dan benar saja rekaman itu terpakai.
Suara melantur namun terdengar jelas nama dan alamat rumahnya.
"Jika kau kurang buktinya. Mari kita buktikan dengan tes DNA nanti setelah anak ini lahir," ucap Intan.
"Aku hanya ingin kau mengakui anak ini, tetapi aku mohon jangan kau ambil anak ini dari ku. Aku mempertahankannya bukan karena aku ingin mencari celah keuntungan. Tetapi aku tau mengugurkan kandungan itu adalah dosa besar."
"Melakukan perbuatannya saja sudah termasuk dosa, jika bukan sesama makhromnya apalagi mengugurkan."
Monolog pernyataan yang di lontarkan Intan membuat Riky tertampar. Baru saja kasusnya selesai, sekarang muncul lagi kasus baru.
Entah ujian macam apa yang harus ia lalui, entah apa yang harus ia katakan pada bapaknya nanti.
Tetapi Riky harus mengambil langkah. 'Aku bukan laki-laki pecundangan yang hanya lari dari kenyataan. Jika dia benar anak kandungku maka aku mempertangung jawabankannya. Jika terbukti tidak, aku rela menjadi ayah sambungnya.'
"Maaf Intan," ucap Riky tertunduk.
Deg!
'Sudah pasti dia tidak mau menerima anak ini dan aku,' ucap Intan dalam hatinya.
"Aku akan menunggu mu sampai persalinan. Apa pun yang terjadi, aku akan bertanggung jawab. Sekali pun itu bukan anak ku aku akan berusaha menjadi ayahnya."
Deg!
"Tapi aku akan melakukan tes DNA terlebih dahulu. Bukan bukti untuk ku tetapi ..."
"Iya tidak apa, lakukanlah."
"Bolehkah kau menemani aku bulan depan ke rumah sakit?" tanya Intan lagi.
"Boleh, untuk cek up ya?"
"Iya, karena besok kandungan ku sudah menginjak 6 bulan."
"Iya aku akan menemani mu. Hubungi saja aku, mana ponselmu."
"Ini."
Riky memasukan nomernya ke dalam ponsel milik Intan. Setelah meyakinkan Intan, Riky pergi kembali ke panti.
Dia tidak bisa lama-lama di kontrakan ini, karena ia tak mau sampai ada berita miring yang hadir menimpa Intan.
...~•~●~•~...
30 menit perjalanan dengan hati berkecamuk, kepalanya berat sekali entah mengapa.
Sesampainya di Panti Asuhan umma Lisa, Riky langsung menuju ke umma. Untunglah umma sedang mengobrol bersama Gea dan Valdo di ruang bermain.
Riky mengambil bantal sofa dan meletakkannya tepat di samping umma.
"Ada apa Ki?" tanya umma lembut.
__ADS_1
"Gak apa-apa umma, aku sedang kelelahan saja."
Umma mengelus kepala Riky dengan lembut, batin Riky pun tersentuh dalam tidurnya.
'Andai aku bisa bercerita lebih tentang apa yang terjadi ke umma. Mungkin rasa berat di hati ku ini akan hilang.'
'Umma, maafkan aku jika aku selalu merepotkanmu dan maafkan aku belum bisa membanggakan mu.'
...~•~●~•~...
Sore menjelang maghrib.
Riky mengantarkan Valdo kembali ke rumahnya. Tetapi Valdo merasa ada yang tidak beres dengan sahabatnya ini.
"Kenapa Ki?" tanya Valdo.
"Hmm? Gak kenapa-kenapa kok."
"Tumben, setelah kamu pergi tanpa bilang mau kemana ke saya, umma dan Gea. Sikap kamu malah sedikit berbeda."
"Ada masalah? Kalau mungkin kamu belum bisa menceritakannya sekarang, ceritakanlah kapan saja saat kau ingin."
"Iya Val, makasih."
'Tapi kali ini gua gak bisa cerita ke siapapun Val sampe gua ngebuktiin kalo anak yang di kandung Intan itu asli anak gua,' batin Riky selama di perjalanan.
Mengantarkan Valdo tepat sampai depan rumah, Riky menyakinkan Valdo kalau dirinya baik-baik saja.
Perjalanan pun berlanjut. Pergi menuju rumah aslinya bersama pak Jaya.
Matanya kosong, wajahnya pucat bahkan penglihatan Riky di sepanjang jalan hanya satu warna saja yaitu abu-abu.
...~•~●~•~...
Tubuhnya bergetar kala sampai tepat di depan rumahnya. Tak kuasa membuka pintu rumah yang sudah mulai menghangat keharmonisan di dalamnya.
Greek....
"Assalamualaikum, aku pulang."
"Waalaikumsalam, tumben baru pulang Ki?"
"Iya pak, di jalan macet."
"Oh, kenapa? Ada masalah ya di perusahaan?" tanya pak Jaya kala melihat wajah sang anak begitu lesu.
"Enggak kok pak, Iki kurang tidur aja."
"Yaudah sana istirahat, jangan begadang. Biar nanti bapak yang urus masalah di perusahaan. "
"Iya pak makasih."
Ucapan tulus yang keluar dari mulut orang-orang yang ia sayangi membuat hatinya semakin sakit, kepalanya semakin memberat.
'Apa takdir yang terbaik untukku?' tanya Riky dalam hatinya sembari menatap langit-langit kamar.
'Aku ... Aku telah mengecewakan semuanya. Semua orang yang telah menitipkan cita-cita besar kepadaku.'
'Maaf umma, maaf bapak, maaf ibu,' ucap lirih Riky dalam hatinya.
Air mata yang tidak ingin ia keluarkan pun tiba-tiba saja mengalir dan tangan kanannya pun langsung menutupi matanya agar air mata itu tidak terus berjatuhan.
__ADS_1
Bersambung ....