Letter To My Albino

Letter To My Albino
Kabar tidak Mengenakan


__ADS_3

...~•~[ Ruangan Dokter ]~•~...


"Silahkan duduk," ucap dokter mengambil berkas di map berwarna merah.


"Apa Riky mengalami suatu hal yang parah dok?" tanya Ado.


"Tidak, tidak terlalu parah. Hanya saja, kepalanya terbentur dan itu mengakibatkan pikirannya terganggu bisa dibilang itu efek dari cedera ringan."


"Tetapi dia akan sedikit kehilangan ingatannya untuk beberapa waktu kedepan, mungkin di kejadian lampau ataupun kejadian sesudah mengalami kecelakaan," lanjut dokter itu menjelaskan.


"Apakah itu amnesia?" tanya Ado diiringi degup jantung yang begitu cepat.


'Jangan sampai nasib Riky sama seperti Ela,' ucap Ado dalam hatinya.


"Kami belum bisa memastikan Riky mengalami amnesia atau tidak. Karena kami masih menunggu nanti hasil periksa tadi keluar dan jika kami menemukan satu masalah, kemungkinan besar Riky mengalami amnesia disosiatif."


"Oh begitu, tapi apa itu efeknya akan lama?"


"Tidak lama, asalkan Riky sering berbaur ke teman-teman dekatnya itu merupakan terapi terbaik untuknya mengingat kembali."


"Oh begitu, baiklah, terimakasih ya dokter."


Ado pun keluar ruangan dokter dengan raut wajah cemas, pertanyaan di kepalanya pun terpenuhi kembali.


'Apa Riky tidak bisa mengingat namanya?'


'Apa Riky akan seperti Ela?'


'Bagaimana cara saya menjelaskan ke umma dan pak Jaya?'


'Apakah ini kondisi yang sangat parah?'


Akh.... (Ado mengusap kepalanya dengan kasar)


Bugh..


Hataman yang begitu keras mendarat di dinding rumah sakit. Ado kesal dan Ado khawatir. Mengapa hal buruk ini selalu terjadi kepada orang-orang terdekatnya.


"Ibu... Apakah aku anak pembawa sial?" gumamnya tersungkur sembari menangis.


Cukup lama Ado tersungkur menangis di sudut rumah sakit ini. Sedangkan di dalam ruangan, umma dan Riky sudah mengobrol bersama. Sedangkan Ela sudah berhasil menyingkirkan suara-suara aneh itu.


"Apa kau tau namamu?" tanya umma.


Riky hanya mengangguk-anggukan kepala saja, Riky tidak lupa hanya saja kepalanya sedikit sakit kala ia bertanya, "Mengapa aku disini umma? Apa yang terjadi padaku?"


Umma hanya bisa menjawab, "Sudahlah kamu tidak perlu ingat apa yang terjadi kala itu."


"Apakah Ela saja yang menemaniku? Eja dan yang lain?" tanya Riky.


"Udah gak usah mikirin yang gak ada. Lebih baik lo fokus sama kesembuhan lo ya Ki, gua kesini sama Rivaldo dan sama Gea juga," jelas Ela.


"Gea?"


"Iya, dari tadi kamu memanggil nama Gea. Tetapi Gea sedang ada pekerjaan yang tidak bisa ia tinggal, mungkin sebentar lagi dia akan kembali."


Riky hanya mengangguk-anggukan kepala saja dan bergumam, "Andai aku bisa bersikap baik ya umma, mungkin Gea gak bakal ninggalin aku."


Riky pun memejamkan matanya lagi, apakah dia pingsan? Tidak. Dia sedang tertidur setelah menangis begitu lama di pelukan umma.

__ADS_1


Tidak lama kemudian pak Jaya datang membawakan 2 tas. Tas pertama berisi pakaian Riky dan tas yang kedua berisi makanan.


"Maaf saya lama, bagaimana kondisi Riky sekarang?" tanya pak Jaya.


"Riky baru saja siuman dan sekarang ia sedang tertidur. Mungkin ia kelelahan karena menangis," jelas umma.


"Terimakasih ya, sekali lagi saya minta maaf kalau Riky sering merepotkan kalian."


"Enggak kok pak, sesama teman harus membantu bukan?" ujar Ela diiringi senyum manis.


"Iya, iya kamu benar."


"Kita tunggu saja kabar dari Valdo tentang kondisi Riky saat ini."


Ado pun mulai berjalan kembali ke ruangan, pandangannya tertunduk lesu, tangannya gemetaran dan...


Bruk...


Ado tiba-tiba saja pingsan dan untunglah ada seseorang yang menolongnya. Seseorang itu memapah tubuh Ado kedalam ruang rawat.


'Mengapa Valdo ada disini?' ucapnya dalam hati.


"Bagaimana kondisi Valdo dok?"


"Ananda Valdo hanya mengalami kelelahan karena faktor tekanan dalam dirinya atau stres."


"Oh iya, satu lagi. Kalau bisa ananda Valdo jangan terlalu sering terpapar sinar matahari karena itu akan membahayakan dirinya sendiri."


"Bukannya matahari baik ya dok?"


"Untuk sebagian besar orang memang baik, tapi untuk masalah kelainan genetik (Albinisme) tidak baik, karena paparan sinar matahari dapat memunculkan sel kanker pada kulitnya," jelas dokter itu.


"Iya sama-sama, kalau begitu saya permisi dulu ya."


Dokter itu pun meninggalkan mereka berdua di ruang rawat itu. Tidak lama kemudian Ado pun sadar. Ado langsung duduk sembari membenarkan pengelihatannya.


"Syukurlah kamu sudah sadar," ucap seseorang yang berada di sampingnya.


"Siapa kau?" tanya Ado kebingungan.


"Benarkan saja dulu pengelihatanmu Val, baru bertanya."


Pengelihatan Ado pun Perlahan-lahan membaik dan saat pengelihatannya sudah sangat jelas, Ado menengok ke samping kirinya.


"Oby? Kirain siapa. Ke-kenapa aku ada di ruangan ini?" tanya Ado kebingungan.


"Aku tadi nemuin kamu pingsan di tangga masuk belakang. Jadi aku bawa aja kamu ke ruang rawat ini," jelas Oby.


"Oh, jadi saya pingsan. Makasih ya Oby telah membantu saya," ucap Ado diiringi senyuman.


"Iya, iya. Tadi juga dokter memberikan peringatan, jangan sering-sering kena matahari, nanti sel kanker di tubuhku aktif."


Ado hanya menundukan kepalanya saja, dia tidak berkata iya ataupun ucapan terimakasih. Diam, hanya itu yang bisa Ado lakukan.


"Kamu kenapa ada disini Bi?"


"Aku lagi temani adik tes kesehatan mata disini, tesnya lama jadi aku pergi keliling dulu deh. Eh malah aku ketemu sama kamu, pingsan lagi."


"Hehehe jadi ngerepotin kamu, aku Bi."

__ADS_1


"Enggak kok, nah itu adikku. Yaudah aku pulang duluan ya Val bye."


Huh... (menghela nafas berat)


'Kayaknya aku bener-bener ngerepotin ibu lagi deh,' batin Ado berjalan ke ruangan Riky.


...~•~[ Ruangan Riky ]~•~...


Sesampainya disana, Riky sudah sadar kembali. Bahkan ia sudah di perbolehkan makan makanan ringan.


"Assalamualikum."


"Waalaikumsalam."


"Lama banget kamu Do, apa ada masalah serius ya?" tanya Ela menatap Ado.


"Enggak kok, maaf ya kalau lama. Tadi saya lagi temani Oby, dia lagi ada disini sama adiknya," jelas Ado beralasan.


Ado tidak ingin Ela atau umma mengetahui kalau dirinya pingsan cukup lama tadi.


"Oalah, Oby ada disini juga toh. Kalau umma tau aja, umma mau ketemu dia."


"Dia udah pulang umma, baru saja."


"Uh jahat lo ini Do, ninggalin Ela sendirian, nangis tuh dia tadi," ledek Riky.


"Eh astaga siapa yang nagis sampe sesengukan hah? nagis sambil meluk umma tuh siapa?" ledek Ela kembali.


"Enggak tau, saya mah gak pernah nagis."


" Ih kamu ini Ki baru sembuh udah bertengkar aja," sahut pak Jaya.


Ado hanya bisa tersenyum simpul saja melihat kelakuan dua temannya ini.


Ado pun mengajak Ela pulang, karena Ado harus membantu ibunya di rumah. Padahal itu hanya alasan Ado saja karena fikirannya sedang terganggu.


"Yaudah umma, Riky, pak Jaya. Saya pamit pulang ya sama Ela."


"Iya nak Ado, makasih atas waktunya ya," ucapan terimakasih dari pak Jaya.


"Udah lo pulang sendiri aja, biar Ela disini sama saya Do," ucap Riky.


"Gak gak boleh. Dah yuk La," ucap Ado langsung menggandeng tangan Ela.


"Assalamualikum, semuanya," ucapan pamit Ela.


Di luar ruangan.


"Kok tangan kamu dingin banget sih Do? kamu sakit ya?" tanya Ela.


"Enggak kok, tadi aku kan habis cuci tangan. Wajarlah kalau dingin,"


"Iya sih."


Bersambung...


..."Mengapa aku harus dilahirkan jika aku ini hanyalah anak kutukan yang membawa kesiapan bagi orang lain?"...


...- Valdo...

__ADS_1


__ADS_2