Letter To My Albino

Letter To My Albino
END


__ADS_3

'Banyak hal yang lucu tapi tidak membuatku tersenyum dan banyak yang menginginkan aku tetapi aku tidak mau.'


'Karena aku sedang menunggu seseorang kembali pulang.'


5 bulan kemudian...


Aku berhasil melawan isi kepalaku, walau terkadang mereka yang memenangkan tubuh ini, tetapi aku sedikit demi sedikit dapat mengobrol fikiranku.


Aku juga berhasil mengerjakan komik indi garapan aku sendiri dan semua pekerjaan aku yang menghandel sendiri.


Mulai dari pewarnaan sampul, gambar hingga teks yang dipakai dan semua itu terinspirasi dari diriku sendiri.


Aku yang memulai hari dengan susah payah hingga akhirnya aku dapat berdiri lagi walau rasanya hampa.


Bruk ...


Aku selesai merilis komik yang aku buat di sebuah aplikasi dan sebagian lagi sudah aku terbitakan melalui teman kak Anir.


Karena aku tak mau ada revisi atau pergantian tokoh karena semua tokoh yang aku buat sudah sesuai dengan versi aslinya hanya namanya saja yang aku bedakan.


"Udah selesai nih bos," ucapku langsung menaruh 5 komik yang telah aku cetak dengan versi judul beragam.


"Wah, cepat sekali. Sampai 5 series judul kau keluarkan?" Tanya bos Ela.


"Iya bos, aku sengaja langsung mencetaknya karena aku tidak mau ada revisi lagi." Ela berkata jujur.


"Mengapa?"


"Karena saya yakin akan beberapa kritik harus mengubah karakter ini itu dan juga teks yang begini dan begitu."


"Saya tidak suka mengganggu pekerjaan saya karena ini tugas saya. Komik ketiga saya yang saya rilis dan komik pertama saya yang memiliki naungan sendiri, " lanjut Ela lagi.


"Wah kamu ini, tapi gak apa-apa bagus. Ini juga kita sudah di kejar deadline pengumpulan data lomba waktu itu."


"Makasih atas bantuannya,mari kita lihat apa judul komik buatanmu." Bosku mulai mengambil komik bagian pertama yang ada di hadapannya.


"LETTER TO MY ALBINO." bos Ela membaca judul komik tersebut.


"Yakin ini?" Tanya bos Ela lagi.


"Iya bos."


Bos Ela mulai membaca bagian sinopsis komik tersebut dan bos Ela sudah menduga kalau komik ini hasil garapan pribadi.


Hasil cerita dan kisah hidupnya saat bersama Valdo. Bos Ela tidak heran dan tidak berkomentar banyak tentang hal ini.


"Sinopsis." bos membacakan sinopsis komik ini.


_______________________________


Letter to My Albino.


"Ku tuliskan surat rindu untukmu disana."


Aku hanyalah wanita bisa, tidak berparas cantik apalagi bertubuh bagus. Tetapi aku selalu menyukai keunikan, keunikan di setiap tempat yang aku kunjungi.


Sampai akhirnya aku bertemu dengan satu pria tampan, yang memiliki wajah putih dan kulit putih seputih awan.


Aku mengajaknya berkenalan hingga akhirnya kami terikat sebuah rasa. Rasa yang bernama suka.


Lantas untuk apa surat itu?


_______________________________


"Sampulnya bagus, sinopsisnya juga bagus. Cuma sedikit kurang kata ajakan saja."


"Iya bos, saya sengaja tidak memasukan kata ajakan," ucap Ela menjelaskan.


"Oh begitu, ya sudah nanti ini ikut sertakan. Berdoalah kamu supaya komik ini dapat juara walaupun bukan juara 1."


"Baik bos."


"Dan satu lagi jangan lupa masukan juga di aplikasi kita supaya seluruh dunia bisa membaca komikmu itu."


"Siapa tau Valdo membaca juga."


Deg!


"Iya bos, saya sudah mempublish beberapa."


"Baguslah, semoga komikmu menjadi trending nomor satu."


Ela hanya terdiam karena hingga saat ini komik buatannya tak kunjung mendapatkan rating.

__ADS_1


Padahal ia sudah mempublishnya dari satu bulan yang lalu. Tapi Ela tidak mau ambil pusing sehingga dia terus membuat komik online untuk sang kekasih hati.


...~•~●~•~...


Satu bulan kemudian, Ela mendapatkan sebuah undangan ke pesta pernikahan Ryca.


Bimo pun sama mendapatkan undangan dari Ryca. Hal ini sedikit aneh karena Ela berfikir Bimo akan bersama Ryca tapi takdir berkata lain.


"Mo? Bukan sama lu?" Tanya Ela saat bertemu di pesta pernikan Ryca.


"Bukan."


"Terus siapa?" Tanya Ela.


"Gak tau gua, dia kenal sama anak ini dimananya aja gua gak tau."


"Oh, Lo dateng sendiri?"


"Enggak sih, bentar lagi cewe gua dateng," ucap Bimo.


"Hah? Lu punya cewe? Siapa?"


Tap ... tap ... tap ...


"Oh my babe, im sorry." perempuan berbaju anggun itu menghampiri Bimo lalu memeluknya.


"Ini pacar gua La." Bimo langsung mengenalkan orang tersebut.


"Hah?!"


"Ela?" Ucap wanita itu.


"Rial ya?" Tanya Ela kembali.


"Iya! hehe ya ampun apa kabar."


Reuni mendadak itu pun membuat suasana menjadi meriah. Bahkan mereka bercanda tawa berdua sedangkan Bimo hanya bisa terdiam saja.


"Kok lo bisa sama Bimo?"


"Gak tau, aneh. Tiba-tiba mamah jodohin gua sama dia eh, taunya cocok yaudah deh." Rial menjelaskan


"Lo sama Bimo kenal?"


"Lah ya ini sahabat gua dari SMP."


"Pasti lo dateng kesini karena di ajak sama Bimo kan?" Tebak Ela.


"Enggaklah. Orang yang nikah ini Raffa," ucap Rial jujur.


"Hah? Raffa? Raffa? Gembul? Masa iya?" Tanya Ela terkejut.


"Iya bener, ayok geh masuk kita liat."


Ela, Rial dan Bimo pun masuk ke gedung tersebut, menyaksikan akad nikah yang diucapkan Raffa untuk meminang sang pujaan hati yaitu Ryca.


"Tuh Raffa, bener kan?" Tanya Rial.


"Lah iya, ya ampun gak nyangka gue," ucap Ela hanya bisa menggelengkan kepalanya saja.


'Dunia ini sempit sekali ya. Perputaran jodoh bagi temanku saja tidak jauh-jauh. Apa lagi aku yang tidak tau dia dimana sekarang.'


'Di saat Raffa meminang Ryca, di saat itu pula Bimo menggandeng Rial. Sebuah kejutan yang tak disangka.'


'Dan di satu tempat lain, Cila bertunangan dengan Anton. Aku hanya mendengar kabarnya saja. Kecewa? Tidak. Aku hanya masih membenci sifatnya, tapi aku sudah berjanji untuk tidak ikut campur dengan kehidupan mereka lagi.'


'Kini, aku sendiri. Menatap langit cerah sembari memanjatkan doa di tengah orang-orang mengaminkan pernikahan sahabatku.'


'Aku hanya meminta sedikit amin dari para tamu undangan untuk kehadiran Valdo segera. Tidak banyak kok amin yang aku ambil.'


'Jadi tenanglah, aku juga mendoakan kebahagiaan untuk sahabat-sahabatku.'


...~•~●~•~...


Ting!


Ela menatap layar ponselnya dan betapa terkejutnya ia mengetahui kalau komik buatannya sudah masuk kedalam sebuah top ranking.


"Alhamdulillah, ucapku."


"Kenapa?" Tanya Bimo.


"Komik buatan gua masuk ranking 5 besar top," ucap Ela menunjukan komiknya.

__ADS_1


"My Albino?" Tanya Rial.


"Iya, bener."


"Cerita tentang pacar Ela, yang sekarang ngilang lagi entah kemana," jelas Bimo ke Rial.


"Hah? Serius La?" Tanya Rial tidak tau apa-apa.


Ela hanya menganggukan kepalanya walau hatinya sangat berat ia masih mengukir senyum di pipinya.


"Coba gua liat komiknya, penasaran gini."


Rial membaca komik tersebut. Menggeledah tiap bait dan tiba-tiba Rial curiga dengan satu komentar.


"Jangan Khawatir aku baik-baik saja. pasti kembali."


"Gak nyambung deh komentarnya," ucap Rial membacakan komentar tersebut.


"Iya, namanya juga manusia punya kritikan masing-masing."


Acara ini berjalan lancar hingga semua selesai, Ela kembali ke kediamannya dengan hati yang hampa.


Tubuhnya mulai melemah, perlu energi seperti handphone yang kehabisan daya.


Bruk! (Ela duduk di bangku tempat kerjanya)


Srek ....


_______________________________


...Latter to My Albino....


Hanya dia yang bisa membuatku kembali senyum, hanya dia laki-laki pertama yang bisa aku rindukan selain papah dan Kak Anir.


My Albino (Valdo) itu milikku.


Jangan kau ambil kumohon.


Hari ini hari adalah hari ke 183 kau menghilang. Tangisan sudah tak bisa keluar lagi tapi aku akan selalu setia menunggumu kembali.


Dia yang kusebut pria istimewa, laki-laki yang membungkam hatiku dan juga laki-laki yang kusebut paus putih.


_______________________________


"Hiks ... hiks .... Val balik ya, mereka semua sudah bersama. Lantas mengapa kita berpisah? Berpisah dengan cara yang aku tidak suka lagi."


"Hiks ... Hiks ....Val setiap hari aku buka dan tutup kembali buku ini. Menuliskan kisah lama ku saat bersamamu."


"Manuangkan kata indah di setiap baris lembar kertas ini agar kau tau seberapa menyakitaknnya tiap malam berperang dengan fikiran ini."


"Aku, aku selalu menunggumu kembali."


_______________________________


Dear Valdo.


Kali ini aku tulis kembali surat untukmu.


Aku sengaja menuliskan di atas sebuah rooftop milikku dan ku biarkan surat ini terbang hingga sampai ke dirimu.


Apa kau tau aku selalu bermonolog layaknya seseorang penikmat senja?


Menyedihkan bukan?


Tetapi aku tidak mempermasalahkan hal itu karena kau, karena kau hidupku sekarang menjadi istimewa.


Menunggumu hingga hampir gila dan mencintaimu sepenuh raga.


Lelah?


Sudah pasti, tapi aku akan menagih hutang ini ke dirimu nanti setelah kau kembali.


_______________________________


"Kepergiamu adalah kesedihan terbesarku dan kebahagian ku adalah kau kembali ke tempat dimana kau menemukan aku."


Syut.... (Ela membiarkan surat ini terbawa angin dan pergi jauh dari perkarangan rumahnya)


"Cepatlah kembali," ucap Ela lalu masuk kedalam rumah.


Blam!


...Letter to My Albino....

__ADS_1


...'Ku tuliskan surat rindu untukmu disana.'...


...-END-...


__ADS_2