
...POV RIKY...
Setelah pulang dari Rain's Cafe, Riky sengaja mengunjungi rumah Intan untuk mengecek kondisinya.
Riky sudah 4 hari tidak bertemu dengannya karena ia sibuk dengan perusahaan kue. Pesanan membeludak karena promosi yang di keluarkan besar-besaran beberapa hari lalu.
Tin ... tin ... tin ....
Riky membunyikan klakson motornya saat tepat di depan kontrakan Intan.
5 menit sudah Riky menunggu di depan namun tidak ada jawaban, tetapi lampu rumahnya semua terlihat terang.
"Masa iya dia gak ada di rumah?" gumam Riky.
Riky pun langsung menuju Ke depan pintu rumah Intan, sembari membawakan buah tangan untuk menjaga kesehatan Intan dan buah hatinya.
Tok ... tok ... tok ...
"Intan? Intan?" panggil Riky.
"Tumben dia gak angkat telfon gua. Apa dia pergi ya? Tapi ..." ucapan Riky terpotong kala mendengar suara gaduh dari dalam.
Prang!
Bruk!
"Intan!"
Grek!
"Pintunya gak di kunci ternyata."
Riky pun langsung menuju ke dalam, mencari arah suara ya gaduh yang ia dengar tadi.
Tidak lama kemudian, Riky mendengar suara rintihan dari dapur dan betapa terkejutnya ia melihat Intan terbaring lemah di lantai rumah.
Jantung Riky berdegup kencang, ia takut kalau anak yang di kandung Intan tidak baik-baik saja.
Dengan sigap dan cekatan, Riky menggendong tubuh Intan ke sofa ruang tamu. Lalu menyediakan air hangat dan setelahnya Riky memesankan taksi online.
Riky menyentuh pipi Intan, hangat terasa. Begitu pula saat menyentuh dahi Intan, hangat terasa.
"Intan kamu sakit, tapi kenapa gak bilang?" tanya Riky sembari mengompres Intan untuk menurunkan panas di tubuhnya.
"Jangan pergi." Intan mengigau.
"Iya aku gak pergi kok."
Rasa berkecamuk pun muncul kembali mengelilingi isi kepalanya. Bahkan pundaknya pun terasa berat seperti ada beban besar yang sedang menimpa pundaknya.
10 menit kemudian.
Taksi online yang di pesan oleh Riky pun sampai tepat di depan kontrakan Intan.
Riky langsung menggendong Intan masuk kedalam taksi menuju ke rumah sakit terdekat untuk memeriksa keadaan Intan sekarang.
__ADS_1
"Istrinya sakit ya pak?" tanya supir taksi.
"H-mm i-iya pak."
"Dulu istri saya juga pas hamil sakit-sakitan. Kata dokter kalau kandungannya mau di lanjutkan maka nyawa salah satunya harus di korbankan."
"Karena dulu saya menikah masih sangat muda, bahkan kata dokter rahim istri saya belum sepenuhnya kuat untuk mengandung."
"Tapi selama kehamilan dan selama istri saya sakit, saya selalu berdoa agar keduanya selamat dan bisa hidup bersama."
Supir taksi ini bercerita saat perjalanan menuju rumah sakit sembari sedikit menahan tangis, Riky hanya bisa mendengarkan saja.
"Terus pas persalinan gimana pak?" tanya Riky penasaran.
"Karena saya takut untuk membawa istri saya ke dokter, akhirnya saya bawalah istri saya ke bidan dekat rumah."
"Walau masih baru tapi saya yakin bidan ini bakal membantu keluarga saya."
"Akhirnya pas jam setengah delapan pagi saya bawa istri saya ke sana. Niatnya mau ngecek kondisi, eh malah di suruh nginep dan kalau gak salah besoknya istri saya ngelahirin."
"Walau kondisi prematur tapi alhamdulillah sampe detik ini keluarga saya sehat-sehat."
"Intinya, kamu jangan putus asa untuk mengambil keputusan. Berdoa jangan putus, terus juga kalau bisa si ibu jangan stres karena nanti akan berpengaruh."
"Hehe iya pak."
"Bapak ini kayak bukan supir taksi ya, malah kayak dokter ibu dan anak aja, heheheh," ledek Riky.
"Hahaha, saya cuma membagikan sedikit ilmu. Karena kayaknya kalian pasangan muda, jadi perlu banyak ilmu."
"Sama-sama den. Ini kita sudah sampai."
Pak supir pun membantu Riky mengeluarkan Intan dari dalam mobil dan Riky kembali menggendong Intan masuk ke dalam ruang UGD.
Dokter pun memeriksa keadaan Intan dan Riky mengurus ruang perawatan untuk Intan.
Untunglah ruang kelas A atau Vip masih tersisa satu. Jadi setelah dari UGD Intan di bawa ke ruangannya tepat di lantai 3.
...----------------...
"Hah ... haus," ucap Intan ketika sadar dari pingsan.
"Kamu haus? Ini aku beliin minum."
"Riky? Kita di-"
"Udah minum dulu, nanti aku jelasin."
"Makasih."
Riky bak seorang suami yang siap siaga, selalu ada dan selalu menemani Intan. Bahkan malam ini pun Riky tidak pernah meninggalkan ruangan ini sama sekali.
"Kamu sakit, kenapa gak bilang?" tanya Riky.
"Aku udah gak apa-apa kok."
__ADS_1
"Udah gak apa-apa gimana? HB kamu rendah banget 7,6 sedangkan ibu hamil gak boleh sampe HB rendah."
"Aku lupa makan."
"Seharian gak makan?"
"Iya, aku cuma minum susu khusus ibu hamil dan itu pun pagi, aku gak inget makan sama sekali seharian."
"Kamu ini Tan, jangan sampai kamu sakit kayak gini lagi ya, kasian anak di kandungan kamu." Riky memberikan perhatian lebih ke Intan.
"Iya Ki, maaf."
"Udah pokoknya kamu harus istirahat dulu disini selama beberapa hari. Biar aku yang tanggung dan setelah pulang dari sini, kamu harus hubungin aku jangan ada kata sungkan."
Deg!
'Apa kamu sudah mengakui anak ini?' tanya Intan dalam hatinya.
'Aku senang bila kamu mengakui anakmu, aku merasa aman sekarang.'
Riky juga menjelaskan bagaimana kondisi anak yang ada di dalam kandungan Intan itu.
"Kata dokter, Kondisinya sangat sehat bahkan detak jantungnya terdengar jelas sekali tadi."
"Terus pas kamu belum sadar tadi, aku ngobrol sama anak kita. Dia gerak-gerak tau, kayak ngerepon pembicaraan aku."
Deg ... deg ... deg ... deg ....
Seketika jantung Intan berdegup kencang kala Riky berucap "Anak kita." Rasa bahagia pun memuncak di dalam diri Intan.
Usaha yang dibuat ibunya tidak sia-sia, akhirnya Riky dapat mengakui kalau anak yang di kandungannya benar-benar anak Riky.
'Aku berani melakukan tes DNA anak ini agar kau percaya kalau aku tidak salah sasaran.'
'Tapi ... betapa jahatnya aku, membohongi Bimo dan Ela, menyakiti hati Bimo karena dia tau kalau aku mengandung saat sedang berpacaran dengannya.'
'Aku memang jahat, tapi aku pastikan kali ini aku dan ibuku tidak salah mengambil langkah.' Intan membatin saat Riky sedang mengobrol dengan calon buah hatinya.
"Riky?" panggil Intan.
"Iya?"
"Gimana kamu ngomong sama orang tua kamu? Apa mereka marah? Apa mereka bakal suka aku? Apa mereka bakal usir kamu? Apa mereka bakal membenci aku?" pertanyaan yang sudah datang sejak awal kandungannya pun terucap semua.
"Aku belum bilang dan aku belum memastikan. Karena aku akan bilang setelah anak kita lahir."
"Iya tidak apa, kamu akan memberitahu mereka setelah membuktikan kalau anak ini asli anak mu lewat tes DNA iya kan?"
"Iya, apa kamu keberatan?"
"Tidak, aku tidak akan keberatan. Kau mengakui anak ini saja sudah lebih dari cukup bagiku," ucap Intan sembari mengelus perutnya dengan wajah berseri.
"Aku akan selalu mencoba ..."
Bersambung ....
__ADS_1