Letter To My Albino

Letter To My Albino
Kehangatan dalam Rasa


__ADS_3

...~•~●~•~...


Pagi ini, Ela berniat untuk menanyakan kepada kakaknya atau mamanya dan harus mendapatkan sebuah jawaban.


"Morning ma," sapa Ela di pagi hari yang cerah.


"Morning to sayang,"


"Kak Anir mana mah?" tanya Ela sembari mencari sosok kakak laki-lakinya itu.


"Lagi mandi mungkin," jawab mama sembari memasak sarapan pagi.


Ela duduk di meja makan sembari memperhatikan mamanya dan membatin, 'Kalau ngomong sekarang, pas gak ya waktunya? takut mama syok lagi masih pagi-pagi gini.'


"Kenapa? Lok liatin mama kayak gitu bener, serius banget." pertanyaan mama membuyarkan lamunan Ela.


"Ahahah enggak kok mah, aku cuma hmm, aku cuma penasaran aja."


"Penasaran apa sih? kok mama juga jadi ikut penasaran deh."


"Ih mama mah. Kita pernah gak mah, jalan-jalan sekeluarga waktu kecil dulu ke pantai mana gitu?"


Ela mulai menjalankan aksinya walau bukan ke inti pertanyaan, Ela harus pintar mencari celah pembicaraan supaya tidak salah dalam berucap.


"Pernah kayaknya, pas kamu umur 6 apa 5 gitu."


"Wah, kemana mah?" tanya Ela lagi.


"Ke pantai apa ya? lupa mamah, emang kenapa sih kok tiba-tiba nanyain itu?"


"Aku itu ada tugas foto lawas di pantai gitu mah, jadi ya aku tanya mamah aja deh, ada apa enggaknya foto itu. Siapa tau mamah ku yang cantik ini nyimpen fotonya." Gombal Ela


"Nanti mamah cariin ya sayang."


Ela mengiyakan perkataan mamanya tersebut. Dari belakang tiba-tiba saja kak Anir mengacak-acak rambut Ela sembari bilang, "Morning ma, morning Rain."


"Morning tuuu Aa Anir."


"Mau kemana Rapih banget?" lanjutnya diiringi tanya setelah Ela melihat kakaknya sudah rapih dan wangi.


"Kerja lah, masa iya joging."


"Ya siapa tau kan kak Anir gabut, joging pake celana dasar baju kemeja sama jas."


"Nganeh, Rain kumat lagi mah," ledek kak Anir.


"Biasalah, kemarin habis hujan-hujanan."


"Pantes, raganya belom balik lagi hahaha," Kak Anir tertawa puas.


"Ih, apasih."


Mereka pun memulai pagi dengan perbincangan hangat.


...~•~●~•~...

__ADS_1


Di waktu yang bersamaan, Bimo pagi-pagi ini sudah membantu bundanya membereskan koper-koper untuk di bawa ke Thailand hari ini.


Bunda Bimo datang ke Thailand untuk menghadiri acara opening klinik kecantikan yang ia buka di Thailand, cabang ke 2 klinik kecantikan yang ia punya.


"Kalau udah sampai bilang ya Bun," ucap Bimo khawatir.


"Iya sayang, kamu disini baik-baik aja ya." pesan bunda


Bimo hanya bisa memberi sikap tegak dan tangan homat sembari mengucap, "Siap grak bunda sayang."


Bimo pun mengantarkan bundanya ke Bandara. Bimo menunggu sampai pesawat yang di gunakan bundanya pergi meninggalkan Bandara ini.


Ting...


"Aku gak jadi berangkat hari Bim, karena Bandara di Australia lagi ada kendala. Mungkin di tunda sampai besok. Kamu mau aku temenin gak?" ucap Ryca.


"Boleh, sekarang gua jemput ya."


"Bentar geh, aku belom mandi. Sebentar ya."


"Dasar cewe."


Bimo pun menjemput Ryca karena satu arah jalan. Sesampainya di depan rumah Ryca, Bimo hanya bisa menunggu saja di dalam mobil sembari mendengarkan musik kesukaannya berjudul "Kaikai Kitan - Eve."


"Gua udah di depan rumah lo." ucap Bimo mengirimkan pesan ke Ryca.


15 menit kemudian, Ryca datang mengetuk kaca mobil dan mereka pun berangkat ke rumah Bimo.


"Udah makan belom lo?" tanya Bimo.


"Lo bawa bekel? ahahahah lucu," ledek Bimo


"Iya kenapa? dari pada beli di luar, gak semua makanan di luar sehat tau. Mending buat sendiri kalo bisa!" ucap Ryca.


"Iya deh, iya. Bagi tapi ya gua."


"Hmmm, sifat kamu gak berubah ya Bim."


Obrolan hangat itu membuat pagi yang dingin terasa hilang, sahabat lama yang akhirnya di pertemukan kembali oleh keadaan Bimo yang tidak menguntungkan.


...~•~●~•~...


Setelah kak Anir berangkat ke tempat kerja, Ela pun bersiap-siap untuk ke kampus pagi ini.


Seperti biasa Ado menjemput Ela di depan rumahnya dan mereka berangkat bersama menuju kampus tepat pukul 10.00 WIB.


Ado dan Ela berangkat bersama ke kampus hari ini bukan karena ada kelas, melainkan untuk mengumpulkan tugas yang kemarin mereka buat.


...~•~●~•~...


Di perjalanan memasuki lorong kampus, jalan mereka di hadang oleh Senior yang merundung Ado waktu itu.


Dia tidak di tangkap karna saat itu ia kabur, tetapi Ela tau kalau senior itu ada disana.


"Ets, hampir aja."

__ADS_1


"Mau apa?" tanya Ela tegas.


"Sett, galak bener lu. Jangan galak-galaklah nanti albino lo ini bisa ilang loh." mencolek dagu Ela.


"Jangan macem-macem deh Ja!" ucap Ado berusaha memberontak.


"Owh, takut. Hahahaha kenapa? Lo takut cewe galak lo ini gua embat? Gak! Gak level sama selera gua."


"Cewe selevel gua juga gak ada yang mau sama lo, dasar coboy kampus!" cetus Ela.


"Sombong banget lu ya?! Hati-hati aja Do, cewe galak lo ini jadi ayam kampus gua hahahaha," ucap senior itu pergi meninggalkan Ela.


Ado hanya bisa mengepalkan tangannya saja, jantungnya berdegup kencang dan tatapan matanya pun sangat tajam. Sepertinya kali ini Ado sangat marah mendengar wanitanya di lecehkan oleh orang yang ia kenal.


Ela merangkul tangan Ado dan itu membuat bara yang sedang memanas di kepala Ado meredup kembali.


"Btw, ayam kampus tuh apaan Do?"


"Bukan apa-apa, gak usah di cari artinya ya."


Ela hanya mengangguk-anggukan kepalanya saja sembari berjalan menuju ruangan dosen.


Setelah mengumpulkan tugas, Ado dan Ela berniat untuk mendatangi sebuah Mall untuk membeli beberapa hadiah kecil.


"Biasanya anak kecil itu suka apa aja yang kita kasih, asalkan berbentuk mainan misalnya, boneka, robot-robotan, mobilan, atau masak-masakan," jelas Ela.


"Kita beli aja beberapa mainan untuk anak-anak kecilnya, terus yang remaja tanggung kita beliin buku atau kita bisa beliin jilbab gitu."


"Iya boleh tuh, satu lagi Do rak sendal jangan lupa."


Rencana mereka pergi ke Mall untuk barang-barang tadi pun gagal, karena mereka yakin harga di Mall pasti sangat mahal.


Akhirnya tujuan terakhir mereka adalah Pasar Tradisional. Jarak dari kampus ke pasar cukup jauh dan hari ini jalan pun cukup ramai bahkan cenderung macet.


Di tengah-tengah kemacetan, tiba-tiba saja Ela melontarkan sebuah perkataan yang membuat hati Ado bergetar.


"Ado?" panggil Ela.


"Iya, kenapa La?"


"Lo janji ya sama gua."


"Janji apaan?" tanya Ado kembali.


Ela memang orang yang sangat random apa lagi kalau ia sedang bermasalah dengan fikirannya sendiri, pasti ada saja pertanyaan aneh yang tidak terduga.


"Janji dulu!" ucap Ela bernada memaksa.


"Iya, Janji." Jawab Ado dengan suara lembutnya.


"Janji ya! Kalo lo..."


Bersambung...


..."Aku hanya berpura-pura kuat di depanmu, tapi nyatanya hatiku terlalu takut untuk menghadapi dunia ini. Bahkan aku pun takut kepada pikirannya sendiri."...

__ADS_1


...-Rain...


__ADS_2