
...~•~[ Rumah Sakit ]~•~...
Ado mengecek pintu luar ruangan, menengok ke arah kanan tapi tidak ada siapa-siapa dan saat menengok ke arah kiri wajah yang tak asing pun terlihat kembali.
Perempuan cantik bertubuh mungil ini sepertinya pernah ia temui tapi Ado lupa dimana ia pernah melihatnya. Perempuan mungil ini hanya bisa menunduk sembari mengelus perutnya yang semakin membesar.
"Maaf? apakah anda tadi mengetuk kamar ini?" tanya Ado dengan suara lembutnya.
"Iya, apakah ini benar ruangan Riky Jaya?" tanya perempuan itu dengan posisi menundukan kepalanya.
"Iya benar, ada apa ya?"
"Bagaimana kondisinya saat ini? apakah dia sudah sadar?" tanya perempuan ini lagi.
Pikiran Ado mulai berkeliaran dan pertanyaan demi pertanyaan pun muncul dalam benaknya.
"Dia baru saja melewati masa kritis dan kami sedang menunggunya sadar," jelas Ado.
"Baiklah, terimakasih atas penjelasan mu. Tolong sampaikan salamku untuknya ya," ucap perempuan mungil ini dan ia pun bergegas pergi meninggalkan Ado secara terburu-buru.
'Mengapa perempuan itu seperti ketakutan?' tanya Ado dalam hatinya.
Ado segara masuk ke dalam ruangan lagi dan melanjutkan tugasnya sembari menjelaskan siapa yang mengetuk pintu ruangan ini.
"Siapa tadi Do?" tanya umma.
"Temennya Riky kayaknya umma."
"Kok kayaknya?" tanya Ela penasaran.
"Tadi dia nanya, 'apa benar ini ruangan Riky Jaya?' Terus juga dia bilang lagi 'sampaikan salamku untuknya' dan bisa jadi itu temen Riky kan?"
"Iya bener juga."
"Perempuan ya Do?" tanya umma.
"Iya, tapi dari tadi dia hanya menundukan kepala saja jadi aku tidak bisa melihat wajahnya secara penuh," Ado menuturkan apa yang dilihatnya di depan ruangan tadi.
"Mengapa kamu tidak mengajaknya masuk?" tanya umma lagi.
"Dia tiba-tiba saja pergi umma setelah Ado menjelaskan bagaimana kondisi Riky sekarang."
Umma hanya mengangguk-anggukan kepala dan terdiam seketika saat ada sesuatu yang bergerak dari sudut mata umma, tapi umma tidak menghiraukannya.
"Titip Riky sebentar ya Do, La, umma mau sholat dulu."
"Oh iya aku juga umma," ucap Ado.
__ADS_1
"Mau saya imam kan umma?" tanya Ado lagi.
Umma hanya mengiyakan saja perkataan Ado. Sebelum melakukan sholat wajib, umma pasti selalu melaksanakan sholat sunnah terlebih dahulu.
Walaupun umma hanya bisa meninggalkan Riky sebentar seperti ke toilet atau pun ketika waktunya adzan memanggil, pasti umma selalu setia menemani Riky kembali.
"Huaaaa." (Ela meregangkan tulang belakang sembari memejamkan mata)
"Riky lo gak kasian tah sama umma? Kasian umma selalu jagain lo agar cepet bangun. Tetapi lo malah gak sadar-sadar," bisik Ela yang sedang duduk di samping Riky.
Ela memperhatikan wajah Riky dari samping dan membatin, "Gila kalau di perhatiin hidung Riky mancung banget ya, gak kayak hidung gua."
Sesuatu bergerak lagi dan kali ini sangat terlihat jelas walau dari sudut mata. Ela merasa jari Riky seperti bergerak dan pandangan Ela pun beralih ke tangan Riky.
"Tadi kayaknya tangan Riky gerak-gerak deh," gumamnya.
Ela serius memperhatikan tangan Riky dengan wajah yang begitu serius, sampai umma dan Ado selesai sholat pun ia tidak tahu.
Ado memperhatikan wajah Ela yang begitu lucu, tatapannya serius namun kepalanya di penuhi pertanyaan-pertanyaan yang harus terjawab.
"Kenapa La?" tanya Ado yang sudah berdiri dari tadi di samping Ela.
"Hah? Eh, udah selesai?" tanya Ela dengan raut wajah panik.
"Kenapa kok panik gitu sih mukanya?"
"Ehehehe, e-enggak itu tadi tangan Riky kayak gerak-gerak gitu. Jadi aku penasaran makanya aku perhatiin tangannya," jelas Ela.
Otot reflek Riky mulai bereaksi, Ado pun segera berlari mencari dokter atau perawat untuk memberitahukan kalau Riky sudah ada pergerakan dan sudah mulai bereaksi.
10 menit kemudian, dokter dan perawat cantik pun datang untuk memeriksa kondisi Riky. Dokter pun mulai mengecek matanya, denyut jantungnya dan juga alur pernafasannya.
Baru saja dokter selesai memeriksa dan meminta bantuan ke perawat untuk mengeceknya lagi, Riky membuka matanya sembari memanggil satu nama acak yang ada di kepalanya.
"Ge a." ucap Riky terbata bata.
"Ge... a."
"Dokter pasien sudah sadar, kita harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut," ucap perawat disampingnya.
"Iya, kita lakukan pemeriksaan sekarang."
Pemeriksaan kali ini cukup lama namun tidak sampai memakan waktu berjam-jam, hanya beberapa menit saja dokter dan perawat itu selesai memeriksa Riky.
Grek..
Dokter pun keluar ruangan, "Untuk keluarga pasien, bisa ikut saya sebentar ke ruangan?" tanya dokter.
__ADS_1
"Saya aja ya umma," pinta Ado.
"Iya Do."
Ado mengikuti dokter itu ke ruangannya, sedangkan Ela bersama umma menunggu intruksi dari perawat yang masih ada di dalam ruangan.
Grek..
"Apakah keluarga pasien ada yang bernama Gea?" tanya perawat.
"Maaf sus, Gea sedang pergi rapat. Apakah saya bisa menggantikan Gea? Saya ibunya Riky," pinta umma ke perawat.
"Oh boleh ibu, silahkan. Pemeriksaan sudah selesai kok, tetapi kalau bisa mba Gea bisa hadir di sini," jelas perawat cantik ini.
Ela terkagum melihat keramahan dari sang perawat. Jarang ada perawat yang seramah ini, biasanya perawat lain bersikap galak dan sedikit jutek. (Walau tidak semua)
Ela membuntuti umma masuk ke ruangan, sedangkan perawat kembali ke ruangannya untuk menyerahkan hasil pemeriksaan hari ini.
Riky sudah siuman ternyata. Dirinya sedang melamun kearah kaca hitam tembus pandang, memperhatikan bunga-bunga cantik nan indah di padukan dengan air pancuran yang cantik.
Walaupun belum boleh duduk sempurna, tubuh Riky tetap bisa duduk setengah berbaring. Raut wajahnya terlihat sedih dan matanya terlihat sayu.
"Apa yang kamu fikirkan Ki?" tanya umma sembari mengelus pundak Riky.
"Umma, Iki boleh peluk?" tanya Riky dengan mata yang berkaca-kaca.
"Boleh, sini-sini anak umma. Ada apa sayang?" tanya umma memeluk erat Riky.
"Aku ketemu bunda," ucap Riky dengan suara sedikit serak.
"Bunda ninggalin aku umma, aku takut."
Kejadian yang mengharukan ini membuat Ela teringat sesuatu, seperti pernah ia rasakan tapi tidak tau pasti kapan. Ada wajah yang tergambar dalam ingatannya dan ada pula suara-suara aneh itu lagi.
Tiiiiiingg...
'Sial, suara aneh itu lagi!' batin Ela sembari menutup telinganya.
'kenalin nama aku Rain.'
'Aku Valdo.'
'Jangan takut aku ada disini kok tenang aja.'
Suara yang samar terdengar itu tiba-tiba menghantui Ela lagi. Ela hanya bisa menunduk diam di dalam ruangan berAC ini sembari menutup telinganya berharap suara itu tidak lagi terdengar.
Bersambung...
__ADS_1
..."Gambaran yang menyakitkan adalah ekspetasi kita tidak sesuai dengan realita. Tetapi serpihan puzzel dalam ingatan lebih menyakitkan dan lebih menyedihkan jika kau merasakannya."...
...- Rain...