
...~•~●~•~...
Tepat jam 05.30 Ela sedang berada di dapur rumahnya berniat untuk mengambil minuman. Tetapi saat itu ia mendengar suara seperti pintu terbuka.
Ela melihat ke pintu kamar Mamanya tetapi masih tertutup rapat. 'Mungkin cuma halusinasi aja kali ya,' ucap Ela dalam hatinya.
Tetapi lama kelamaan suara pintu terbuka semakin jelas. Mulai dari terbukanya kunci sampai pintu yang bergesekan dengan lantai rumah.
Deg ... deg ... deg ... deg ...
"Maling?!" gumam Ela.
Ela pun langsung bergerak mengambil sesuatu seperti kayu balok cukup panjang. Mengendap-endap dan berdiri tepat di samping pembatas antara ruang tamu dan ruang keluarga.
Deg ... deg ... deg ... deg ...
'Haduh, tangan gua gemetaran lagi.'
'Haduh jantung gua juga gak bisa diem amat sih?' ucap Ela menenangkan hatinya.
Tap ... tap ... tap ...
Suara langkah kaki semakin mendekat dan semakin sempit pula pernapasan Ela. Entah mengapa itu bisa terjadi.
'Satu ... dua ... ti ... tig-'
"Aaaa!"
Bruk!
Bugh!
Bugh!
Bugh!
"MAMAH! ADA MALING!"
"MAMAH! MAMAH TOLONG!"
Ela berteriak memanggili sang mamah. Tidak lama kemudian ...
Tek ....
Seluruh lampu hidup bersamaan dan mamah Nia pun keluar kamar sembari membawa sapu, bersiap untuk menyerang maling tersebut.
"Eehh udah ampun-ampun."
"Hah? Eeeeehhh!"
...~•~●~•~...
Ternyata orang yang masuk rumah mereka bukanlah maling tetapi kak Anir yang baru saja pulang dari perjalanan bisnisnya.
"Ya abisnya aa kayak maling. Masuk rumah tanpa salam, tanpa kasih tau, tanpa semuanya. Kata mamah juga aa pulangnya besok kok bukan hari ini." Ela membuat pembelaan.
"Iya seharusnya sih pulang besok. Tapi kemarin siang udah selesai, terus aa juga di telfon sama papah langsung pulang kalo udah selesai."
"Karena kamu sama mamah cuma berdua, takut ada apa-apa. Jadi yaudah deh aa pulang pake pesawat jam 23.00 tapi delay satu jam karena cuaca."
"Terus pas sampe Bandara disini sekitar jam 4. Aa sholat dulu di masjid Bandara. Udahnya langsung ke sini."
"Eh pas sampe rumah malah di gebukin kayak maling," ucap kak Anir menutup ceritanya yang begitu panjang.
__ADS_1
"Ya, abisnya aa masuk gak salam. Tiba-tiba ngendep-ngendep kayak maling. Ya siapa coba yang gak takut. Jadi ya aku ambil aja balok kayu ganjelan pintu itu." Ela membela diri lagi.
"Huh ... untung kamu adek. Coba kalo bukan, haduh ... sakit tau mah!"
"Makanya lain kali masuk rumah itu salam, mau ada orang apa enggaknya setidaknya salam," ucap mamah Nia mengobati luka kak Anir.
"Iya Mah, maaf."
Dengan wajah tidak bersalah, Ela kembali ke dapur. Membuatkan teh hangat untuk sang mamah dan sang kakak tercinta.
Sekaligus untuk permintaan maaf, karena Ela sudah membuat kak Anir babak belur.
"Ini tehnya di minum. Mumpung masih hangat," ucap Ela menyodorkan teh.
"Hmm nyogok ya!" ledek kak Anir.
"Enggak, orang tadi mamah minta buat teh, sekalian aja aku buatin."
"Dih ngeles di mana sih kamu?" ucap kak Anir sembari mengacak-acak rambut sang adik.
Percakapan hangat pun terjadi sampai matahari terbit. Kak Anir berniat mengajak Ela ke Rain's Cafe untuk mengecek keadaan disana.
Ela pun menyetujui dan akhirnya tepat pada pukul 10.00, Ela mengajak kak Anir ke Panti Asuhan Umma Lisa untuk menjemput Valdo.
Ela berniat mengajak Valdo untuk ikut ke Cafe tersebut dan sudah pasti kak Anir membolehkannya.
...~•~[ Rumah Valdo ]~•~...
"Ya ampun masih pagi udah wangi aja. Mau ke mana sih Val?" tanya ibu.
"Aku mau ikut Ela ke Rain's Cafe bu."
"Berdua aja?"
"Oalah, pantes subuh-subuh udah wangi. Ternyata mau jalan toh," ledek sang ibu.
"Enggak loh bu."
"Mentang-mentang udah gak ketemu hampir 3 bulan langsung aja jalan, hmmm," ledek sang ibu membuat wajah Valdo memerah.
Bukan karena terbakar panasnya matahari. Tetapi karena tersipu malu dengan ucapan sang ibunya.
Setelah sarapan pagi, Valdo pun berangkat ke panti menggunakan ojek online, karena ibunya melarang untuk Valdo membawa motor sendiri lagi.
...~•~[ Panti Asuhan Umma Lisa]~•~...
"Nah ini Panti Asuhan yang kata aku itu a," ucap Ela.
Blam!
Blam!
Mereka berdua pun turun dari mobil dan langsung menuju ke dalam menemui umma.
"Assalamualaikum umma!" sahut Ela dari lobby.
"Waalaikumsalam Ela sayang."
Umma pun menghampiri Ela sembari memeluk tubuhnya. Umma sedikit terkejut kala melihat donatur tampan datang ke tempat ini.
"Eh aa donatur, masyaallah. Lama ya gak ketemu, bagaimana kabarnya?" ucap umma menyambut kak Anir.
'Hah? Donatur tampan? Dih sejak kapan kak Anir ganteng? Bisa-bisa ngefly nih kakak.' Ela mencibir sang kakak dalam hati.
__ADS_1
"Alhamdulillah baik umma."
"Umma kenal?" tanya Ela.
"Iya kenallah. Dia ini donatur tetap di panti ini, umma udah lama banget gak liat, kalo gak salah terakhir aa donatur tampan ini kesini sekitar 1,5 tahun yang lalu lah," jelas umma.
"Oalah." Ela hanya memasang raut wajah tidak percaya.
Tidak lama kemudian Gea pun datang menghampiri suara yang sangat ia kenal. Suara sedikit cempreng namun lembut.
"Kan udah ku duga si Ele ini dateng lagi," ucap Gea dari balik hordeng.
Sreek....
"Gea?" ucap kak Anir saat melihat Gea.
"Eh? Kalian kenal?" tanya Ela kebingungan.
Baru saja Gea ingin bertanya tentang kak Anir secara detail ke Ela, Kak Anir malah datang ke panti ini bersama Ela.
Deg ... deg ... deg ...
"Ha-hai," sapa Gea kaku.
'Haduh udah ke empat kali gua ke temu sama ini orang. Apa jangan-jangan ucapannya bener lagi ya?' ucap Ge dalam hatinya.
"Kenal," pertanyaan Ela pun terjawab langsung dari mulut kak Anir.
"SIAPA?" tanya Ela.
"Dia yang mau aa kenalin ke kamu, mamah, sama papah," jawab kak Anir santai.
Deg ... deg ... deg ... deg ...
'Haduh jantung gue, gak ada yang denger kan ya?' Gea mulai panik kala mendengar ucapan kak Anir.
"GEA? Oh jadi inceran kakak ini Gea? Oh, seriusan Gea?" tanya Ela berulang-ulang.
"Iya Rain."
"Hah? Serius? Lo bakal jadi kakak ipar gue? Hah masa iya?" ucap Ela tidak percaya.
"Wah bagus kan La. Kalian juga udah saling kenal, jadi gak ada canggung-cangungan lagi," ucap umma.
"Iya sih umma, bener. Tapi Gea?"
"Lo sama kak Anir ada hubungan apa?" tanya Gea.
"Kakak gua. Kan tadi gua udah bilang, elo yang bakal jadi kakak ipar gue? Yang bener?"
"Hah? Ya gak tau," ucap Gea langsung pergi ke dalam.
Namun langkahnya tertahan kala kak Anir berbicara seperti ini. "Ini udah yang ke 4 kalinya loh. Masa iya cuma kebetulan?"
Deg ... deg ... deg ... deg ...
"Gak tau," ucap Gea langsung menuju taman belakang dan di susul dengan Ela.
Bersambung ....
..."Ternyata bumi ini sempit ya, jodoh yang tidak terduga dan tidak disangka."...
...-Ela...
__ADS_1