Letter To My Albino

Letter To My Albino
Pertemuan


__ADS_3

...~•~●~•~...


Pukul 05.30


Ini adalah pertama kalinya Ela bangun sepagi ini, entah karena pikiran yang terus menganggu atau memang ia sudah menyetel alarm dalam dirinya untuk bangun cepat.


Hoam ...


"Good morning all," ucap Ela sembari meregangkan tubuhnya.


"Kenapa aku bangun pagi?"


"Karena aku hari ini memiliki sebuah misi! Yeah. Aku harus bersiap-siap sekarang."


Dengan keinginann yang tinggi, Ela nekat untuk mandi pagi di kondisi cuaca berkabut seperti ini.


"Eeeerrh dingin banget ya ampun!"


Byur.


"Eeeerrh di ... ngin .... ba ... nget ...."


Byur.


"Eeeerrh ...."


...~•~[ Dapur ]~•~...


Papa berada di ruang makan sedang meminum teh hangat sembari membaca koran. Sedangkan mama berada di dapur menyiapkan sarapan untuk mereka.


Papa dan mama juga mendengar suara teriakan Ela yang lumayan kencang.


"Lah Rain tumben mandi pagi?" ucap papa sembari mendengarkan ucapan Ela.


"Iya tumben si Ela udah mandi jam segini hihihi. Nekat banget dia mandi di kondisi berkabut gini," ucap mama.


"Dasar, mau janjian sama siapa lah dia?"


"Entah mama juga gak tau."


...~•~[ Kamar Ela ]~•~...


Baru saja Ela melangkahkan kaki keluar menuju kamarnya, udara dingin pun membekukan seluruh tubuhnya.


"Eeeerrh astaga dingin banget," ucap Ela mengigil.


"Lah iya, AC gak di matiin."


"Eeeerrh, Eeeerrh, Eeeerrh."


1 Jam Kemudian.


Ela sudah berhasil mengalahkan rasa dingin yang menusuk tiap tulang-tulang yang ada di tubuhnya.


"Gak ada matahari banget tah?" ucap Ela membuka goreden jendela.


Sreek ....


"Huh ... Pantes gak ada matahari, kabutnya tebel banget."


"Turun aja lah, siapa tau mamah ada mie instan rebus."


Grek!


Tap ... tap ... tap ....


"Hoam, good morning mamah, papah."


"Good morning sayang."


Dreet ...


"Mamah ada mie rebus gak?"


"Mamah udah buat bubur ayam. Masih panas itu, makan aja sana," ucap mamah Nia.


"Oh oke, mamah ku."


"Kamu mau kemana? Pagi-pagi sudah mandi?" tanya Papah menutup koran di tangannya.


"Aku mau ke panti Asuhan umma Lisa pah, udah janjian sama Gea. Nanti aku sama Gea ada acara silahturahmi sama anak panti," jelas Ela entah itu benar atau tidak.


"Oh oke, hati-hati ya sayang."


"Jam berapa?" tanya mamah.


"Hmm sebentar lagi sih mah, enggak deng mungkin sekitar jam setengah delapan gitu."

__ADS_1


"Oh, papa juga mau berangkat loh hari ini. Jangan lama-lama perginya ya," jelas mamah.


"Papah udah mau jalan lagi? Yah ... cepet banget sih?"


"Papah mau bantu kakak kamu ngurus perusahaannya. Lagi ada masalah sama perusahaan dia."


"Oalah, yaudah deh."


"Nanti aku pulang jam tigaan lah."


Mamah dan Papah hanya mengiyakan saja perkataan Ela. Obrolan hangat pun terjadi di antara mereka bertiga, keluarga harmonis yang jauh dari berita miring.


...~•~●~•~...


Tepat pukul 07.30, Ela berangkat menjalankan misinya. Walau udara masih terasa dingin dan tangannya pun sudah seperti tidak ada rasa lagi, tetapi Ela harus pergi untuk menjemput Gea.


Sesampainya di Bandara.


Pov telfon.


"Dimana?" tanya Gea menelfon Ela.


"Parkiran."


"Mobil warna?"


"Eh, parkiran paling luar gak pake mobil."


"Lah lo ngejemput gua gak pake mobil gimana ceritanya?" tanya Gea heran.


"Udah cepetan, gua naek motor metik warna hitam pokoknya."


"Hadeh, oke-oke."


Pov telfon selesai.


Gea membawa kopernya menuju ke parkiran paling luar Bandara. Sembari bertanya-tanya "Bagaimana ia membawa koper berukuran 20 inci di sebuah motor metik."


"Kayaknya yang itu deh," gumam Gea sembari menuju ke motor metik berwarna hitam tersebut.


Puk ....


"Nah udah sampe. Ayok," ucap Ela.


"Sebentar, ini bawa kopernya gimana Ele?"


Agak sedikit tak masuk akal membawa koper dengan motor. Tetapi Ela berhasil mengakali koper tersebut agar buat di bagian depan motor.


Perjalanan pun agak sedikit lambat karena koper yang tidak mau bekerja sama dengan kecepatan motor Ela saat ini.


...~•~●~•~...


Tepat pukul 10.00 WIB, Ela dan Gea akhirnya sampai di Panti Asuhan dengan keadaan selamat.


"Gila lo ini La! Ngebut bener udah kek Rosi."


"Sodara gua itu."


"Hadeh, baru kali ini gua ngeliat orang bawa motor pake koper. Eh kebalik hahahaha." Gea tertawa sendiri saat mendengar ucapannya.


"Dih lo yang ngomong lo yang geli aneh hahahah."


Di waktu yang bersamaan, Di dalam panti.


Suara Ela dan Gea terdengar seperti orang yang sedang bertengkar di depan Panti ini. Padahal Gea sedang menyampaikan kritikannya.


"Haduh-haduh, nona nona yang cantik ada apa ini?" tanya umma.


"Umma!"


"Assalamualaikum."


Ucapan Gea dan Ela serempak saat melihat umma keluar dari lobby Panti.


"Waalaikumsalam."


"Gea apa kabar?"


"Hmmm Ela juga apa kabar nih?"


"Hehehehe baik umma."


"Yaudah masuk yuk."


"Liat nih umma, Ela tadi bawa motornya ngebut bener berasa di bonceng sama Rosi aku umma." Gea mengadu.


"Haduh, jangan gitu dong Ela. Gak boleh terlalu ngebut lain kali."

__ADS_1


"Iya umma. Tapi kan kasian juga Gea kalo kelamaan di jalan. Udah dari Aceh sampai ke Bandung lama di tambah lagi ...." ucapan Ela terpotong karena Gea mencubit pipinya.


"Ngeles mulu. Siapa yang ngajarin lesnya hah? Boleh dong sekali-sekali ajarin," ucap Gea kesal.


Walau masih bercanda tawa, Ela memperhatikan sekeliling panti ini. Tidak terlihat ada orang dewasa disini.


Bahkan Eja yang berada disana pun menghilang entah kemana. Ela sedikit sedih dan pertanyaan baru pun muncul dalam benaknya.


'Apa Riky bohongin gua ya?' ucap Ela sembari memasang raut wajah sedih.


Saat bergabung bersama anak-anak panti pun Ela seperti tidak semangat, mungkin rasa kecewa sedang di alaminya.


"Huuuh."


Hembusan nafas berat pun selalu Ela keluarkan agar beban berat di pikirannya hilang.


"La mau gak?" tanya Gea.


"Apa?"


"Ini kue keukarah asli dari Aceh."


"Mau, mau."


Ela pun menyantap makanan ringan ini bersama anak-anak panti kesayangan.


...~•~[ Di Rumah Valdo ]~•~...


Riky sudah dari tadi menjemput Ado, bahkan sudah berada di depan rumahnya dari tadi. Tetapi Ado belum kunjung keluar.


"Oy! Ado lama banget. Keburu panas ini."


"Iya sebentar."


"Bu Ado berangkat ya, Assalamualaikum ibu."


"Waalaikumsalam sayang hati-hati ya."


"Iya bu."


Perjalanan ke panti Asuhan pun kembali di mulai dan rasa tidak sabar, kecewa bahkan sedih berada di tengah-tengah mereka berdua.


Setengah jam perjalanan karena jalan sedikit macet, Riky pun sampai di Panti Asuhan umma Lisa dengan hati yang lega.


"Alhamdulillah sampe juga," ucap Valdo turun dari motor.


"Eh bentar." Riky menarik tangan Valdo lalu membisikan sesuatu entah apa.


Kemudian Riky berjalan sendiri masuk ke dalam panti sembari membawakan belanjaan yang umma pesan kemarin.


"Assalamualaikum umma," ucap Riky menuju taman.


"Waalaikumsalam."


Reflek badan Ela berputar 90° saat mendengar suara Riky dari dalam. Ela berfikir Riky membawa Valdo bersamanya namun saat ia sampai ....


'Valdo gak ada ya? Atau memang dia belum kembali?' tanya ela dalam hatinya.


"Ini umma ku pesananya sudah siap."


"Terima kasih Riky."


Raut wajah Gea pun sama seperti Ela, tegang dan wajah-wajah penasaran pun terlihat jelas.


Sebelum mereka berdua melontarkan sebuah pertanyaan, "Kok?" Riky lebih dulu menyuruh Ela mengambil kue yang umma pesan di motornya.


"Astagfirullahalazim umma Iky lupa ambil kue di motor lagi."


"Lah, ambil sana Ki. Nanti di makan kucing kan sayang."


"La tolong ambilin sih! Gua mager banget."


"Lo ini bisanya nyuruh aja!" cetus Gea.


"Tolong ya La."


"Iya oke."


Ela menuruti permintaan tolong dari teman yang tidak terlalu dekat dengannya itu. Dengan hati kesal, kecewa dan sedih Ela harus berjalan kembali ke arah gerbang.


Dari kejauhan Ela melihat seseorang sedang memperhatikan kondisi, berserakan hitam-hitam layaknya maling, Ela langsung berlari dan menepuk pundaknya.


Sembari memasang raut wajah yang begitu seram, Ela hampir saja melayangkan tangannya ke wajah orang tersebut.


"Ela?" ucap orang yang sedikit mencurigakan ini.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2