Letter To My Albino

Letter To My Albino
Apa akhirnya kita bertemu?


__ADS_3

Tepat pukul 11.00 siang.


"Tante, aku mau Lampung Barat dulu ya. Mau liat tradisi syawalan di sana."


"Oh tradisi topeng ya?" tanya tante Arista.


"Iya tante."


"Yaudah hati-hati ya kalian."


Mereka berempat pun mulai bersiap untuk melanjutkan perjalanan lagi.


Selama perjalanan, Rial, Raffa, Ela mengingat kembali masa-masa mereka saat masih di bangku SMA dulu.


Travelling, kulineran, bahkan bersua foto random di tempat bagus menurut mereka berempat.


"Gua inget banget pas kita kelas 11, kita pernah ke daerah ini terus mobil jadul si Raffa mogok. Akhirnya kita nungguin saudaranya Raffa sampe 2 jam disini kan?" ucap Rial menunjuk tempat sepi.


"Iya bener ya, hahaha tapi gak nyesel gua. Itu jadi kenangan kita selama kita bareng," sahut Ela.


"Hahaha Iya, ya. Jamannya kita masih berformasi lengkap," ucap Rial.


"Hahaha gak nyangka gua, kalo kita udah ilang satu. Siapa nih bentar lagi? Raffa apa Ela?" tebak Rial.


"Lo sih kayaknya Yal."


"Iya bener kayaknya lo sih yang duluan hahahaha."


"Hmm, gua mah nanti. Gua mau jadi Chef terkenal dulu baru kawin."


"Kita tunggu ya Fa."


"Iya bener."


Perjalanan pun tak terasa, karena mereka sudah memasuki kawasan Lampung Barat. Macetnya kendaraan pun sudah terasa.


"Wah alamat 2 jam kita sampe ke acaranya."


"Iya nih, gila macet."


"Hmm, gimana kalo kita parkir di rumah Anton kawan gua," ucap Rial.


"Anton? Kawan lu apa doi lu?" tanya Ela.


"Kawan gila, kawan SMP. Gua tau kok rumahnya."


Rial mengarahkan ke gang cukup sempit hanya bisa di lalui satu mobil dan satu motor saja.


"Itu tuh rumahnya di samping lapangan gede," Rial menunjuk rumah adat khas Lampung.


"Masih ada rumah adat kayak gini Yal?" tanya Ela terkagum.


"Tadinya enggak, cuma pas Anton udah kerja, dia turutin kemauan bapaknya untuk ngubah bangunan jadi rumah adat gitu."


Ekspresi Ela dan Raffa hanya terpelanga melihat bangunan mewah yang khas ini diiringi decak kagum dari mereka berdua.


"Dusun kalian ini, ayok turun. Gua udah chat Anton, dia ada di rumah katanya."


Blam!


"Anton, permisi."


"Assalamualaikum Anton, Anton main yuk," ucap Ela seperti anak kecil memamngil temannya untuk bermain.


"Waalaikumsalam."


"Wah udah sampe aja lo Yal, mas-" ucapan Anton terpotong kala melihat Ela.


"Ela? Ngapain lu disini?" tanya Anton.

__ADS_1


"Kalian kenal?" tanya Rial.


"Ini kawan gua juga waktu di SMP yang di Bandung."


"Oalah, hahahah kebetulan yang tidak terduga ya."


"Sempit ya ternyata bumi ini."


...----------------...


Setelah berbincang hangat sembari bersilahturahmi, Anton mengajak Ela, Rial dan Raffa menuju ke tempat acara yang ingin mereka datangi.


Padahal jarak mereka dari acara masih sangat jauh mungkin masih ada sekitar setengah kilo, tetapi orgen acara tersebut sudah santer terdengar.


Ekspresi tidak sabar pun terlihat jelas di wajah Rial. Karena dia yang mengajak Ela dan Raffa untuk ke acara sekura ini.


"Muka lo biasa aja Yal," ledek Raffa yang dari tadi memperhatikan wajah Rial.


"Gua gak sabar mau kesana Fa," jawab Rial penuh semangat.


"Kok lo gak ajak Bimo sama Ryca ke sini sih?" tanya Anton ke Ela.


"Bimo lagi bantu Ryca buat dekor Cafe cabang mamanya Ryca."


"Di Indonesia?"


"Iya."


"Wah gila, kita harus jadi BA sih. Parah kalo enggak."


Ela hanya tertawa mendengar ucapan Anton sembari bertolak pinggang.


Duk.. duk.. duk.. tererettett..


"Gila suaranya nambah nyaring," ucap Ela karena ia tidak terlalu suka musik 'jedag jedug.'


Ela berfikir musik seperti itu identik dengan mobil angkutan yang brutal, yang suka ngebut-ngebutan di jalan.


"Bentar lagu juga kalian nyaman sendiri kok sama musiknya."


Huu.... waa...


"Gila rame ya ternyata," ujar Rial.




Begitulah nampak dari acara tradisi sekura Lampung ini. Bukan topeng ala-ala seperti di luar negeri, bukan pula topeng ala-ala di film romansa.


"Coba yuk," ajak Rial ke kedua temannya itu.


Belum sempat mereka menjawab ajakan Rial, Rial sudah lebih dulu menghilang dan berbaur di keramaian ini.


"Udah ngilang aja dia!" ujar Anton kagum.


"Lah iya, dasar cewok ini," ucap Raffa mengikuti Rial.


Sedangkan Ela menikmati suasana yang ada disini, bersama Anton melihat dan tidak lupa berkulineran jajanan jaman dulu.


"Jajan yuk La," ajak Anton.


"Ayok."


Hari itu mereka berempat berpisah di tempat ini. Bahkan mereka tidak tau satu sama lain pergi ke arah mana dan sedang apa.


Tiiiiit...


"Hah?"

__ADS_1


Ela membulatkan matanya kala melihat seseorang berbadan putih melepaskan tuping yang ia kenakan.


'Valdo?' ucap Ela dalam hati.


Ela mengejar orang tersebut demi menghilangkan rasa penasarannya. Saat ia tepat berada di belakang orang itu..


Puk..puk..


Tepukan pundak tertuju ke orang yang berada di hadapannya. Walau di tidak saling menghadap tetapi degub jantung Ela semakin cepat.


'Apa akhirnya kita bertemu?' tanya Ela dalam hatinya.


"Iya mba?" tanya orang berkulit putih ini di hadapannya.


Ela pun mengangkat pandangannya ke wajah orang tersebut dan.


...----------------...


Srekk..


Membuka kertas yang sudah kucal dan sedikit lusuh. Sembari membaca tiap bait yang tertulis di kertas itu.


Aku juga tau kalau kamu orang yang aku tabrak saat pulang setelah ujian PTN waktu lalu.


Aku juga menebak kalau kau adalah orang yang sama saat di pernikahan Shipa teman SMA ku dulu.


Aku merindukanmu, Valdo. Rivaldo Youkute, teman terbaik ku dan sahabat yang selalu aku rindukan.


"Cepatlah kembali, aku ingin bercerita banyak tentang semuanya."


Trap..


"Apa ini?" ucap Riky mengambil kertas.


"Aw.. Romantis banget sih isinya gemes, hahahaha," ledek Riky.


"Kalo mau ngeledek pergi sana Ki, saya lagi sibuk."


"Sibuk? Hmm sibuk, oke, oke," ujar Riky sedikit meledek.


"Panti yok!"


"Yaudah ayok."


_______________________________


Tepat pukul 17.30 semua lagu di hentikan karena sudah mau memasuki waktu maghrib.


Empat sekarang ini pun saling mencari keberadaan masing-masing karena mereka saling berpisah tadi.


"Dimana lah Rial sama Raffa ini?" tanya Ela mencari kesana-kemari.


"Udah kita tunggu di gang ini aja, pasti nanti-"


"OYY!" panggilan khas dengan suara teriakan seperti di telfon waktu itu. Siapa lagi kalau bukan Rial.


Rial datang diiringi Raffa yang selalu ada di sampingnya. Mereka berdua membawa beberapa makanan dan juga beberapa tuping unik.


Mungkin saja Rial yang memakai tuping itu. Wajah Rial begitu berseri-seri selama di perjalanan.


"Lo lama banget sih Yal, laper tau gua."


"Maaf La, gua lagi kulineran tadi sama Raffa."


"Raffa kok, Jelas-jelas lo ninggalin gua di warung cilor," jelas Raffa.


"Cocok banget ya La," sahut Anton.


Ela hanya bisa menggunakan kepalanya saja.

__ADS_1


Bersambung...


Pesan Autor: Hargai setiap tradisi di kota tempat kalian berada.


__ADS_2