Letter To My Albino

Letter To My Albino
Akankah Terulang Kembali?


__ADS_3

"Iya, cepatlah sembuh dan segera kembali."


Kak Anir berjanji akan menyembuhkan Valdo kali ini, tetapi setelah hasil pemeriksaan selesai, mereka tidak tau apa yang akan terjadi nanti.


...~•~●~•~...


Di tempat lain.


Ela menemui Anton karena ia ingin bertanya apa maksudnya melakukan pertandingan ilegal itu.


"Anton!" Panggil Ela dari jauh.


Anton memutar balikan badannya sembari tersenyum lebar ke arah Ela.


Plak!


Ela menampar wajahnya lagi, lagi dan lagi. Emosional memuncak kala itu bahkan acaranya tidak tertahan lagi.


"Maksud lo apasih Ton?"


"Gua pikir selama ini lo temen baik gua, sahabat gua, tapi apa? Nyatanya lo malah jadi orang terjahat menurut gua!"


"Gua jahat? Enggak? Dia yang mau ikut La! Terus gua salah? Enggak dong."


"Enggak? Lo salah banget dasar an***g lo ya, kenapa sih hah?" Tanya Ela menggebu-gebu.


"Karena gua suka sama lo La!"


"Dan gua enggak! Apa lagi setelah ngeliat sikap lo ini gua semakin gak suka sama lo Ton!"


"Kenapa? Gua kurang apa sih La? Gua selalu bisa dapet apa yang gua mau, tapi kenapa lo enggak?"


"Karena gua bukan orang yang ngeliat lo hanya dari materi! Gua gak suka sama lo karena sikap lo Ton!"


"Bukan karena lo bisa dapetin semua yang lo mau terus lo ngehancurin kebahagiaan gua demi diri lo sendiri? Itu sama aja lo manusia paling rendah di mata gua!" Ela kali ini benar-benar marah.


"Gua gak ngerti sama pemikiran lo La," ucap Anton mulai bergetar hatinya.


"Gua juga gak ngerti sama pemikiran lo yang terlalu kekanak-kanakan."


"Dan satu lagi ya Ton, gua gak suka sama lo bukan karena hal ini aja. Tapi ada yang udah nunggu lo dari lama dan seharusnya lo bisa ngejar hal itu!"


Deg!


Anton terdiam menatap kosong ke arah Ela, tangannya sedikit gemetar dan pikirannya mulai seperti benang kusut.


"Siapa?" Tanya Anton memelankan suaranya.


"Cari tau sendiri!"


Ela lalu pergi meninggalkan Anton sendiri di tempat itu. Ela berjalan pulang diiringi air mata yang terus saja mengalir.

__ADS_1


Kak Anir yang sedang mencari sang adik akhirnya menemukannya juga namun dengan kondisi menangis.


"Kenapa?" Tanya kak Anir lembut.


"Gak apa-apa."


Kak Anir memeluk tubuh ialah begitu berat sembari mengusap pundaknya lalu berkata, "Udah gak usah khawatir, semua akan baik-baik aja kok."


"Hiks ... hiks ... hiks ... iya kak."


"Udah ya, sekarang kita pulang, besok kita balik ke Bandung langsung oke."


Ela hanya menganggukan kepalanya saja dan menuruti ucapan sang kakak.


...~•~●~•~...


Ela, Valdo dan Kak Anir kembali ke Bandung menggunakan mobil yang Kak Anir pakai.


Valdo sudah cukup sembuh namun belum dengan efek yang ada di kulitnya.


Valdo selalu bilang dia sudah membaik namun sebenarnya kondisi Valdo belum sepenuhnya membaik.


...~•~●~•~...


Setelah beberapa jam perjalanan, Kak Anir menaruh Ela terlebih dahulu untuk pulang ke rumah.


Ella sedikit heran karena tidak biasanya dia diturunkan di rumah lebih dahulu biasanya Valdo yang lebih dulu dihantarkan ke rumah.


Namun ternyata dugaan Ella salah karena sebenarnya nggak ada ingin membawa Valdo ke suatu tempat entah ke mana itu.


bersama ibu Valdo, ke Anir membawa mereka mungkin saja ke sebuah rumah sakit.


"Bu maaf atas kejadian ini, saya akan bertanggung jawab untuk mengobatinya hingga sembuh total."


"Saya benar-benar kecewa, sudah saya katakan berhati-hati di bawah teriknya sinar matahari. Tetapi kejadian ini membuat hati saya sangat sakit." Ibu Valdo mencurahkan isi hatinya.


"Kami minta maaf bu, hanya itu yang bisa kami ucapkan dan saya akan bertanggungjawab atas hal ini."


"Iya, memang kau harus bertanggung jawab!" ucap ibu.


"Tapi ... saya tidak tau setelah ini dia akan seperti apa," lanjut ibu Valdo seperti ada suatu hal yang sedang ia fikirkan.


"Maksudnya bu?"


Ibu Valdo langsung menjelaskan semua yang terjadi dan ibu Valdo juga menuturkan apa yang akan terjadi nanti jika hal ini terjadi lagi.


Kak Anir sedikit terkejut mendengar penjelasan Ibu Valdo karena ia benar-benar tidak tahu akan hal itu.


Tetapi kejadian ini bukanlah kesalahan dari Ela sepenuhnya, melainkan Anton yang bersalah.


...~•~●~•~...

__ADS_1


Dan setelah hari itu, Valdo pergi bersama ibunya entah kemana. Bahkan tidak ada satu orang pun yang tau keberadaannya kecuali Kak Anir.


Ela masih belum sadar akan hal itu dan Ela masih seperti biasa, enjoy di pagi hari walau pun isi kepalanya serumit rumus phytagoras.


Kak Anir yang biasanya jarang datang ke rumah orang tuanya, kini ia lebih sering datang. Memantau kondisi sang adik yang masih terlihat biasa.


Kak Anir juga sering mengajak Gean main kerumah sang nenek agar Ela bisa fokus ke ponakan untuk beberapa saat ini.


"Kakak tumben sering main kesini, malahan sekarang bawa Gean."


"Emang kenapa? Gak boleh tah?" Tanya kak Anir.


"Ya boleh sih, cuma ada yang aneh aja." Ela menganalisis.


"Gak ada yang aneh kok, cuma fikiran kamu aja kali yang aneh."


"Ih mana ada, kenapa kamu gak bawa Valela sekalian. Kan aku juga mau main sama Valela."


"Masih tidur tadi, lagi gak enak badan juga dia."


"Ya ampun kasian banget adik aku itu," ucap Ela.


'Syukurlah dia belum sadar,' ucap kak Anir dalam hatinya.


Selama beberapa hari ini Ela disibukan dengan hadirnya sang keponakan yang rusuh. Bahkan selama beberapa hari ini Gean menginap di rumah dan tidur bersama Ela.


Sampai hari dimana Ela kembali masuk kerja, Ela mulai sadar ada sedikit ke anehan yang terjadi.


Valdo tidak ada di rumahnya, bahkan rumahnya sepi seperti tidak ada penghuninya dan lampunya saja masih hidup padahal matahari sudah terlihat.


Ela semakin panik dan ia menduga kalau apa yang ia fikirkan benar-benar terjadi lagi.


Ela menelfon Riky bertanya Valdo berkunjung ke sana atau tidak. Ela juga bertanya ke Ryca bertemu Valdo atau tidak dan begitu juga ke umma.


Namun mereka semua menjawab tidak dan praduga ini semakin kuat hingga akhirnya ia memutuskan untuk meng introgasi sang kakak.


"Assalamualaikum, mah kakak mana?" Ucap Ela saat masuk ke dalam rumah.


Ela melihat mobil kak Anir terparkir di luar rumah dan di dalam rumah juga ada Gean dan Valela. Bahkan Gea ada disini sedang mengobrol bersama mamah.


"Ada itu di rooftop," ucap mamah sedikit heran.


Gea sedikit panik karena Kak Anir telah menceritakan semua yang terjadi saat itu, bahkan bisa di bilang Gea tau sedikit tentang Valdo.


Tap ... tap ... tap ...


Ela menemui kakaknya untuk bertanya beberapa hal yang ada di isi kepalanya.


"Kak!" Panggilnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2