
"Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar. La ilaha illallahu wallahu akbar. Allahu akbar wa lillahil hamd."
Hari ini adalah hari paling bahagia bagi umat muslim di seluruh penjuru bumi, salam saudara dengan senyum dan kebahagiaan meliputi mereka semua.
Hari ini juga menjadi hari yang tepat bagi ajanh silahturahmi antar sesama dan di sebulan full kemarin merupakan ajang kebaikan untuk sesama.
"Minal ‘aaidiin wal faaiziin, maaf lahir batin ya."
Salam dari setiap warga selama perjalanan pulang dari sholat id dan saat kembali ke rumah masing-masing, adalah hal yang paling tepat untuk bermaaf-maaf an bersama keluarga.
...~•~[ Kediaman Keluarga Ela ]~•~...
Berkumpul, makan bersama, dan cerita selama kegiatan selama sebulan full.
"Papa Minal ‘aaidiin wal faaiziin ya," ucap Ela memeluk sang papah.
"Mamah Minal ‘aaidiin wal faaiziin."
"Kaka Anir Minal ‘aaidiin wal faaiziin."
Begitupun mereka saling bergantian untuk bermaaf-maaf an.
Tepat pukul 10.00 WIB, Ela dan sekeluarga pergi ke rumah sang nenek di daerah Majalengka. Selama perjalanan Ela dan sang kakak bercerita banyak tentang daerah sekitar.
Bahkan mereka melewati sekolah kak Anir dulu saat ia di titipkan di rumah sang nenek selama satu tahun.
Kak Anir juga bercerita tentang semasa ia sekolah dulu, bertemu banyak teman yang nakal dan jahil. Dirinya juga sempat di panggil ke ruang guru karena menjahili teman perempuannya.
"Tapi gak sampe di panggil orang tuanya kok, cuma sebatas di panggil ke BK doang waktu itu hehehe," jelas Kak Anir.
Dirinya hanya bisa menyengirkan gigi dengan lebar sembari menggaruk-garuk kepalanya saja walau tidak gatal.
"Dasar kamu ini aa," sahut mamah Nia.
"Kira-kura temen lama kakak masih paham gak ya sama kaka?" gumam Ela, tetapi didengar oleh sang kakaknya.
"Masih dong, kemarin kakak udah sekabaran sama Oby. Kak bilang pas ke rumah nenek nanti saya mampir, kalau kamu mau ikut juga boleh."
"Wah bagus deh, siapa tau nanti aku dapet THR kan hehehe," ucap Ela dengan santai.
"Astaga udah gede kamu itu, gak bakal dapet THR lagi tau gak," ledek kak Anir sembari mengusap kepalanya.
"Ih jangan pegang jilbab aku, nanti rusak. Aku ngebentuk jilbab ini biar sampai rapih tuh butuh waktu lama tau!" cetus Ela.
"Hmm iya deh maaf."
"Sampe dua jam gak selesai- selesai benerin jilbab doang," sahut mama Nia di dari bangku depan.
"Ih mamah mah loh!" ucap Ela kesal.
Mereka semua yang berada di dalam mobil hanya bisa tertawa melihat Ela memayunkan bibirnya beberapa centi.
Perjalanan kali ini cukup panjang, tidak juga sih hanya memakan waktu 4 jam lamanya. Sesampainya di rumah nenek, Bibi dan pamannya sudah menunggu begitu juga dengan nenek.
Mereka berempat turun dari mobil dan mama Nia langsung memeluk ibunda tercinta ebari menitihkan mata.
__ADS_1
Sembari bergantian mengucapkan kata, "Minal ‘aaidiin wal faaiziin," diiringi airmata bergelinang di netra mereka masing-masing.
Satu yang terucap dalam batin Ela, 'Perasaan yang lain sedih-sedih banget kelihatannya. Kok dari tadi cuma gua sendiri sih yang cengangas cengenges⁴.'
"Ayok masuk," ajak Bibi.
"Bibi buat makanan enak kesukaan Rain waktu kecil."
"Apa Bi?"
"Ini, tekwan jamur."
Bibi membuka tudung saji, memperlihatkan macam-macam makanan berbagai bentuk dan berbagai rasa.
Ela mencoba makanan demi makanan satu persatu, sembari mengayunkan kepala ke kanan dan ke kiri.
"Baru juga sampe dah makan aja," celetuk kak Anir saat memasuki ruang makan.
"Hehehehe, mau gak kak? Enak tau," ucap Ela langsung memasukan 2 Buah tekwan ke dalam mulut sang kakak.
"Ahahahaha mulut kak Anir langsung penuh," tawa geli Ela saat melihat mulut kakaknya penuh dengan makanan.
"Kamu ini ya!" jawab kak Anir setelah selesai mengunyah.
"Hehehe."
...~•~●~•~...
Pukul 13.00 WIB
Entah semua orang mengalami atau tidak, tetapi yang pasti saat hari raya idul fitri jam segini sangat rawan sekali yang namanya boring atau istilah anak-anak jaman sekarang "Gabut."
Ela juga tak lupa membawa bantal serta selimut tebal untuk alas tidurnya di ayunan itu.
30 menit kemudian,
Semua terkejut karena mereka baru sadar kalau Ela menghilang. Bahkan kak Anir yang ingin mengajaknya ke rumah Oby pun di urungkan niatnya.
Mereka mencari Ela layaknya anak kecil yang pergi jauh dari rumah. Tetapi merek sama sekali tidak terpikir untuk ke taman belakang rumah.
"Haish! Elaaa, kamu ini demen banget sih yang namanya ngilang!" gumam kak Anir.
"Oh iya siapa tau teh Ela ada di taman belakang," sahut keponakan mereka yang imut.
"Benar juga," gumam kak Anir.
Kak Anir pun langsung berlari kecil ke arah taman belakang, dan saat membuka pintu taman belakang rumah.
Benar saja, Ela sedang tertidur cantik di atas ayunan kayu. Walaupun badannya tidak terlalu tinggi, tetapi Ela rela menekuk badannya dan tidur dengan nyaman disana.
"Bisa-bisanya aku lupa kalau taman belakang ini tempat kesukaan Rain waktu kecil."
Kak Anir menatap adiknya yang sedang tertidur dengan raut bahagia dan guratan senyum pun terukir secara tidak sengaja.
'Kayaknya bakal jatuh deh,' ucap kak Anir tiba-tiba.
__ADS_1
Sebenarnya bukan kak Anir yang bilang, melainkan firasatnya. Firasatnya tiba-tiba saja bilang seperti itu membuat kak Anir khawatir akan posisi tidur Ela disana.
Belum saja bernafas lega dengan firasat kak Anir, ayunan yang di pakai Ela pun rusuh entah apa sebabnya.
Brak...
Lamunan kak Anir pun seketika buyar dan orang-orang yang ada di dalam berlari menghampiri.
"Aduh," lirih Ela setengah sadar.
Matanya masih terpejam tetapi suaranya lebih dulu terucap. Kak Anir langsung menolong sang adik dan membawanya masuk ke dalam.
Sembari berjalan menutup mata, tangan Ela bisa menggenggam bantal yang ia pakai tadi.
Mama Nia, papa Roy, Bibi dan Paman hanya terpelanga melihat kejadian itu, aneh? begitulah Ela.
Saat sampai di kursi depan ruang keluarga, Ela melanjutkan tidur lagi walau tidak terlalu nyenyak. Telinganya masih bisa mendengar tawa dan suara banyak orang di sekelilingnya.
Sampai akhirnya, " Hoaam," Ela meregangkan tubuhnya dengan mengangkat kedua tangannya sembari memaksakan matanya terbuka.
"Loh?" ucapan pertama saat Ela terbangun.
"Kenapa?" tanya kak Anir yang berada di samping Ela.
"Bukannya aku tadi lagi di taman belakang ya?" tanya Ela dengan raut wajah kebingungan.
"Kata siapa? Orang kamu dari tadi tidur di sini kok."
"Iya tah?" tanya Ela lagi dengan raut wajah kebingungan.
"Hahaha teh Ela tadi jatuh ya, hahahaha kasian," ledek keponakannya itu.
"Jatoh dari mana?"
"Dari ayunan belakang hahaha kasian teh Ela."
"Hah? Iya tah a?" tanya Ela tidak percaya.
"Hadeh," hela kak Anir sembari mengacak-acak rambut Ela.
"Mau ikut gak ke rumah Oby?" ajak Kak Anir lagi sembari beranjakan tubuhnya dari duduk.
"Mau."
Ela pun langsung menuju wastafel yang berada di dapur dan mengusap ke wajahnya untuk menghilangkan raut kantuk.
"Tunggu sebentar a, aku mau dandan dulu."
"Jangan pake lama, 5 menit aja cukup."
" Iya ih tau, sebentar makanya."
Tidak butuh waktu lama Ela menyelesaikan make up-nya. Ela hanya mengenakan bedak tabur serta liptint berwarna rose saja.
Bersambung...
__ADS_1
_______________________________
⁴ tersenyum lebar menampakkan gigi.