
" Ray, aku nitip ya" aku menitipkan oleh oleh untuk keluargaku.
" mau nitip boleh aja San,tapi gak gini juga kalee" Wajah Rayhan cemberut karena aku menitipkan sekarung besar boneka dan cemilan.
Aku terkekeh.
" maaf Ray ,ini gak berat kok"
" iya gak berat tapi persis abang abang yang mau jualan" gerutu nya
Aku menutup mulutku dengan tanganku,ingin sekali tertawa keras tapi ini tempat umum.
" Bukan aku yang ngomong lho"
" tega kamu San" wajah Ray semakin masam
" maaf Ray, aku janji deh nanti aku traktir makan kalau kamu udah balik lagi kesini"
" janji ya" wajah nya kembali ceria.
" cepat sana check in ,nanti ketinggalan pesawat lo" aku mendorong pelan tubuh Ray agar dia segera mendorong troli nya yang berisi koper dan barang titipan aku tadi.
" iya iya aku pergi" kata Raihan sambil meninggalkan ku
" sampai ketemu lagi Ray" aku melambaikan tanganku sampai tubuh Ray tidak terlihat lagi dimataku.
Semenjak meninggalkan bandara rasanya hatiku terasa sepi banget, dikota sebesar ini aku ditinggalkan teman teman terbaik , tanpa pacar tanpa sahabat.
Saat sendirian dirumah, tiba tiba ponsel ku berdering.
" Dilan"
" jalan yuk!"
" jalan?" aku sedikit kaget.kenapa tiba tiba Dilan mengajakku jalan,bukannya aku sudah tidak diperlukan lagi
" iya jalan, cepatan keluar"
" keluar? memangnya kamu dimana? "aku nampak bingung
" didepan pintu"
Aku menoleh ke arah pintu luar, apa benar Dilan ada diluar.
__ADS_1
Aku benar benar kaget ,Dilan sudah berada didepan pintu. aku segera bergegas keluar dengan pakaian se adanya dan rambut acak acak an.
" Dilan!" aku membuka pintu
" Hai Sania"
" kenapa kamu kesini?"
" memangnya gak boleh"
" boleh tapi - " suaraku terpotong
" tapi apa?" tanya Dilan
" kaget aja tiba tiba kamu kesini tanpa kasih kabar dulu"
" iya tiba tiba aku kangen kamu San" suara Dilan berbisik
Dilan membuatku malu ,wajahku berubah merah setelah mendengar dia mengatakan merindukanku.
" Tumben" kataku lagi
" cepetan kita jalan" desak Dilan
" buruan mandi"
" ya sudah aku mandi dulu ya" membalikkan tubuhku segera meninggalkan Dilan.
" Sania" panggil Dilan
" iya" aku kembali berbalik badan
" boleh masuk?"
" ah, aku lupa, ayo masuk" aku menarik tangan Dilan.
" biasanya juga kamu gak perlu izin kan masuk kesini" cerocosku padanya. Dilan hanya tersenyum.
Dilan menunggu ku di ruang tamu yang berukuran kecil, ruang tamu sekaligus ruang makan.
" aku mandi dulu ya" aku kembali kekamar mengambil handukku.
" jangan lama lama" Dilan menunggu sambil mengutak atik ponselnya
__ADS_1
" iya " aku berteriak dari dalam kamar mandi.
Tiga puluh menit kemudian aku sudah siap berangkat.
" ayo berangkat, kita mau kemana?" tanyaku pada Dilan. Aku berdiri tepat didepannya. Wajahnya tercengang melihat aku selesai berdandan.
" kenapa memandang ku begitu? apa make up ku terlalu tebal?" aku menepuk nepuk pipiku pelan.
" Kamu cantik sekali Sania" ucapnya pelan.
" Ah,gombal" Aku ketus, kali ini aku tidak menganggap serius pujian nya,karena terlalu sering mendengar pujian itu dari mulut pria yang aku kenal.
" beneran" Dilan terus memuji sambil mendekatiku
" sudahlah, jangan merayuku. sekarang kita mau kemana?"
" terserah kamu" jawab Dilan
" kalau begitu aku yang pilih tujuan nya"
" baiklah"
Kami segera meninggalkan tempat tinggalku.
Ketika malam datang. Kami sudah kembali kerumah. Seharian ini kami menghabiskan waktu bersama.
" karena kamu akan menikahi Mey jadi hari ini kamu sengaja menghiburku seharian, begitu?"
" maafkan aku Sania, mungkin hari ini terakhir kita bisa jalan berdua, karena bulan depan aku akan kembali dan menikah disana"
" Hari ini kamu sudah sukses membuatku bahagia dan sukses pula mematahkannya" aku berterus terang akan perasaanku.
" Dengar Sania, ini lah yang dinamakan rasa yang tepat diwaktu yang salah." kata Dilan.
Kamu benar Dilan, kamu bisa membuatku bahagia disaat orang yang ku sayang tidak bersamaku.
" Sebelum kamu pergi, bisa kah kamu membuatku bahagia sekali lagi" pintaku pada Dilan.
" tentu saja San"
Aku menarik tangan Dilan kekamarku.
...Next...
__ADS_1