
Dani memang agak berbeda dengan kekasih ku yang lain,karena itu lah sebisa mungkin aku mempertahankannya. Walau kadang hati ini goyah dengan yang lain.
Dani melepaskan tangannya dari wajahku saat ponselnya berdering. Kami sama sama menatap nama yang tertera dilayar ponsel. Amel, siapa itu Amel? aku segera meraih ponselnya. Sebelumnya aku tidak pernah tau Dani punya nama teman wanita bernama Amel.
Aku menggeser tombol warna hijau dan meletakkan ponselnya ditelingaku.
" Hallo,mas Dani?" suara dari seberang sana.
Suara perempuan sudah pasti.
" iya" jawabku.
Beberapa detik tidak terdengar suara perempuan itu lagi ,kemudian dia kembali bicara.
" Mas Dani nya ada?" tanya nya lagi
" Ini siapa ya?" mataku melirik ke arah Dani yang dari tadi hanya menunduk.
" Eee,ini Amel temannya mas Dani. Mas Dani nya ada?" dia bertanya untuk kedua kalinya.
" ada, memangnya ada perlu apa?" aku tidak suka basa basi.
" bisa saya ngobrol sebentar, ada sesuatu yang ingin saya tanyakan?" pintanya
" bicara saja, ini pakai loudspeaker kok" aku menyalakan loudspeaker nya. Dani pun mulai bicara.
" Ya Amel" Mata Dani menatapku yang sinis dari tadi.
" Mas Dani, maaf aku mengganggu. bisa gak bantu aku kesini, soalnya--" suara nya langsung dipotong oleh Dani.
" maaf Mel, sekarang aku tidak dirumah,kalau kamu perlu sesuatu bisa minta sama dadang"
__ADS_1
" iya tapi -"
" sudah dulu ya, aku lagi sibuk". Dani langsung mematikan telponnya.
" kenapa dimatiin?" tanyaku
" gak penting" jawabnya
" bukankah dia minta tolong"
" gak bakalan bisa nolong juga kan"
" kenapa harus kamu?"
" aku gak tau"
" siapa dia?" tanyaku
" adik kelas"
" gini ya San, aku jelasin"
" oke"
" Namanya Amel, adik kelasku waktu SMA, sekarang dia masuk fakultas yang sama denganku dan jurusan yang sama juga. Dia sering bertanya tentang kuliah ,dan aku membantunya menjelaskan"
" Sering!" aku tersenyum smirk.
" Gak juga, maksud aku hanya kebetulan aja kami ketemu baru baru ini.tukeran nomer, ternyata kampus kita sama.Dan dia sering bertanya ,aku bantu, udah itu aja, gak lebih" jelas Dani.
" termasuk nyamperin dia,itu yang kamu bilang bantu" nadaku mulai meninggi.
__ADS_1
" gak juga San. Aku gak pernah nyamperin dia kok. Ini pertama kali dia ngomong kaya gitu. sumpah,percaya deh sama aku" Dani mulai memohon.
" Dia mahasiswa baru kan, bisa ditebak nanti nya gimana!"
" maksudnya?" Dani bingung
" iya, dia kan mahasiswa baru di fakultas yang sama jurusan yang sama, otomatis lah kalian akan sering bertemu."
" kita kan beda kelas" Dani mengelak.
" besar kemungkinan kalian pasti akan bertemu disana lagi kan"
" Belum tentu San, kalau pun iya, aku janji deh bakalan menghindar"
" au deh" aku ngambek duluan sebelum Dani meyakinkanku.
Aku meninggalkannya kekamarku.
"San , Sania " Dani berteriak memanggilku.
Entah kenapa aku jadi cemburu, kalau dipikir pikir aku sangat egois. Disatu sisi aku lah yang bersalah,akulah penjahatnya, aku yang mengotori hubungan kami,tapi disisi lain aku tidak ingin kehilangan Dani. Bukan kah itu yang namanya Egois.
" Sania, buka pintu nya San" Dani mengetok pintu kamar.
Aku tidak menjawab.
Tiba tiba Dilan mengirim pesan teks
" Maaf San tadi malam aku pulang tanpa membangunkanmu, Mey terlalu sering menelponku. Kamu baik baik saja kan"
Mey lagi Mey lagi. Kenapa sih ,setiap punya pacar selalu saja punya saingan. Kapan sih aku bisa punya pacar tanpa rebutan ? tanpa sakit hati ? tanpa pengkhianatan? .
__ADS_1
Rivaldi, Endi, Holland, Irfan,Roni, semuanya berakhir karena perempuan lain. Harus kah aku menambah daftar penghianatan dari Dan?
......NEXT......