
" sepertinya tidak asing ditelingaku?"
" dia teman ku waktu SD, Aku tidak habis pikir kenapa ayahku mau menjodohkan aku dengan dia sedangkan ayahku tau kalau Riyandi itu dulunya anak nakal"
" menurut kamu apa alasannya?" Rahma bertanya
" karena Ayahku tidak bisa melunasi hutangnya pada pak Rahadi"
" jadi sebagai gantinya kamu dinikahkan dengan anaknya?"
" iya Rahma ,aku di jual, aku di jual" aku berteriak dan hampir menangis.
" stttt, jangan teriak donk nanti orang lain dengar" Rahma berbisik.
" aku sudah tidak tahan lagi Rahma" aku mengeluh
" tidak tahan pengen cepat nikah atau apa nih?" Rahma meledek
" Rahma" aku membentak
" iya iya, maaf" Rahma menunduk karena aku marah.
" besok Riyandi ingin bertemu dengan ku"
" bagus lah"
" bagus apa nya? aku sudah lama tidak bertemu dengan nya, sudah puluhan tahun. pasti banyak yang berubah dari dirinya dulu. kalau dia bukan tipe ku bagaimana?" aku merengek minta dikasihani Rahma
" Dia kan anak orang kaya pastinya tampan Sania, penampilannya rapi, bersih"
__ADS_1
" kalau sebaliknya?"
" Besok temui saja dia"
**
Besok nya aku sudah membuat janji dengan Riyandi didepan kost
" kamu dimana?" tanya Riyandi lewat telpon
" sebentar aku masih di kamar"
" cepetan jangan lama lama"
Telpon ditutup Riyandi,pria ini memang nyeselin. Tidak sabaran. Aku yang dari tadi sembunyi dibelakang mobil yang terparkir didepan kost an ku terus mengamati Riyandi yang tengah menunggu di atas motornya.
" Gimana, apa aku harus samperin?" tanya ku pada Rahma yang dari tadi ikut bersamaku.
" itu disana. kamu lihat kemana sih?" aku bingung karena Rahma dari tadi tidak memperhatikan Riyandi .Matanya terus saja memperhatikan orang orang yang lalu lalang.
" sudah lah, samperin aja"
" kamu yakin?"
" yang mau ketemuan kan kamu"
" tapi aku belum lihat wajah Riyandi dari dekat, kalau misalnya jerawatan gimana? atau ada kumisnya gimana?"
" Sania ,kamu ini lucu juga ya, cepetan temui dia" Rahma mendorong tubuhku keluar dari persembunyianku.
__ADS_1
Riyandi yang dari tadi masih menggunakan helm nya turun dari motor sport nya.
" Sania" Riyandi memanggil
Aku yang dari tadi belum bisa melihat wajahnya se utuhnya hanya bisa memandang dua bola matanya yang tajam memandangku.
Sejak tubuhku terdorong dari persembunyian aku hanya terdiam menunggu Riyandi berbicara.
" bisa bicara sebentar" katanya.
" bicara saja" jawabku
" apa? kamu bilang apa?" nada suara Riyandi sedikit meninggi apa karena suara bising kendaraan lalu lalang sehingga mengganggu pendengaran nya.
" lepas dulu helm nya! " aku juga sedikit berteriak.
" aku masih gak dengar, sebaiknya kamu ikut aku"
Dasar cowok budeg, sepertinya bukan karena suara bising yang mengganggu tapi karena pelindung kepalanya.
" coba kamu lepas helm nyaaa" aku berteriak sambil memaksa melepas helm yang masih dikenakan Riyandi dikepalanya.
" ehhh kamu ngapain?" Riyandi mempertahankan penutup kepalanya agar tidak terlepas.
" ngapain juga helm nya terus dipakai kamu sedang tidak berkendara" aku terus memaksa melepasnya. Dan akhirnya helmnya terlepas malah terpental jatuh menggelinding menimbulkan suara benturan yang keras.
Astaga,apa yang telah aku lakukan.kalau sampai pecah gimana? aku tau helm yang digunakan Riyandi cukup mahal, kalau tidak salah harga nya sama satu bulan gaji ku bekerja. Kalau dia marah gimana? aku harus ganti rugi.
" helmku" teriak Riyandi sambil memungut helm nya yang terjatuh. Meski kepalanya sudah tidak terbungkus helm aku masih saja belum bisa melihat wajahnya karena Riyandi buru buru menundukkan wajahnya.
__ADS_1
...NEXT...