
setelah mendengar cerita Ratih lewat telpon aku bergegas pulang kerumah, aku takut ayahku terlalu lama menunggu obat yang baru aku beli.
" kemana saja kamu Sania. lama sekali?" tanya ibu sambungku
" ini bu obat nya" aku tidak memberi tahu ibu sambungku apa yang aku lakukan dijalan tadi.
Ayahku segera meminum obatnya.
Aku teringat cerita Ratih ,dan aku bersyukur saat itu bukan aku diposisi Sandra. Jika itu terjadi padaku, aku tidak tau harus bagaimana hamil saat masih bersekolah. Untung lah bukan aku. Sangat disesalkan betapa payahnya Sandra saat itu mau menerima Rivaldi. Sandra sudah terhasut bujuk rayu Rivaldi sedangkan dia tau Rivaldi hanya ingin merusaknya. Tetapi Sandra beruntung karena Rivaldi mau bertanggung jawab atas putrinya. Lamunan ku kembali buyar saat ayah memanggilku.
" Sania, coba duduk disini sebentar" pinta ayahku. Aku menghampiri ayahku yang dari tadi berbaring ditempat tidur.
" iya yah" aku duduk disamping tempat tidurnya.
" Ayah lihat kamu sudah satu minggu pulang,apa pekerjaanmu baik baik saja?"
" baik yah, Sania hanya perlu pembaharuan kontrak"
" kapan kamu berangkat?"
" ayah sedang sakit ,Sania belum terpikir untuk pergi"
" mungkin ini permintaan terakhir ayah, menikahlah dengan Riyandi!"
" Ayah jangan berkata begitu,Sania jadi sedih" tanganku bergetar saat ayah berkata begitu. Aku takut kalau ayah benar benar meninggalkan ku selamanya.
__ADS_1
" ini sudah sangat lama saat pak Rahadi menagih hutangnya"
" baiklah, Sania setuju. Sania bisa tunangan dulu kan"
" Ayah tidak salah dengar Sania" Ayah nampak semangat mendengar pernyataanku. Tubuhnya langsung di tegapkannya seakan akan sangat sehat.
" Sania mengaku kalah. Yang penting Ayah sehat kembali."
"Ayah senang mendengarnya. Besok Ayah akan bicara dengan pak Rahadi "
" Ayah istirahat aja dulu,biar cepat sehat ya!." aku merapikan tempat tidur ayah.
Ayah sangat senang sekali, senyum lebar tersungging dibibirnya. Matanya mulai dipejamkan kan dan ayah tertidur.
Ini hari ketiga Raihan meninggalkan kami selamanya. Holand nampak berkunjung kerumah orangtua Raihan. Aku yang sedang menyiram tanaman diteras tidak memperhatikan kalau holand sudah berada di seberangku.
" Sania?" panggilnya
" ya" aku tersentak kaget. Aku hampir saja menumpahkan air siraman ditanganku.
" Holand" aku memandang ke arah holand yang tersenyum padaku.
" kamu ngapain disini?" aku bertanya lagi
" aku dari tempat Raihan"
__ADS_1
" ah" Holand mengingatkan ku pada Raihan.
" apa aku mengganggu mu?" tanya nya
" tidak, aku sudah selesai." aku meletakan alat siraman ke lantai.
" kamu mau masuk?" tawarku lagi
" tidak usah, aku cuma ingin bicara dengan mu tapi tidak disini"
" bicara tentang apa?"
" ada sesuatu yang ingin aku beritahu padamu. bagaimana kalau besok aku tentukan tempatnya"
" seperti nya tidak bisa,besok aku harus kembali bekerja ke ibukota"
" kalau begitu nanti malam bagaimana?"
" aku akan menghubungimu jika aku bisa"
" baiklah ,aku akan tunggu kabar darimu"
Holand meninggalkan rumahku. nampaknya dia senang sekali.
...Next...
__ADS_1