
Aku memasuki ruang tengah rumah itu, aku melihat tubuh lelaki yang terbungkus kain kafan.Berada didalam kotak kayu panjang. Raihan apa benar itu kamu? aku hampir tak percaya apa yang aku lihat. Aku menangis disamping tubuh Raihan yang sudah kaku. Wajahnya nampak tersenyum, sepertinya dia sudah siap dengan kematiannya. tak henti hentinya aku meneteskan air mata ku ,sampai akhirnya seseorang menarik tanganku meminta menjauh dari tubuh kaku tersebut.
" Holand"
" kamu yang sabar ya Sania?" Holand mencoba menenangkanku. Aku terus menangis sesegukan.
"Raihan pasti bahagia dengan kepergiannya, mungkin saja saat ini dia bisa melihat kamu bersedih, janganlah kamu merusak kebahagiaannya dengan melihatmu yang bersedih"
Aku menghentikan tangisanku. Holand menenangkanku, dia mengantarkan ku pulang kerumah yang hanya berjarak sepuluh langkah saja.
Aku mulai tenang. kenapa disaat sedih seperti ini Holand tiba tiba datang menghiburku?"
" kamu apakabar Sania?" Tanyanya
" seperti yang kamu lihat" aku masih mengusap air mataku sesekali.
" ada banyak hal yang ingin aku bicarakan padamu, mungkin saat ini bukan waktu yang tepat" jelas Holand
Aku tidak bisa menjawab Holand, hatiku masih berduka. tapi Holand mampu menenangkannya. Aku akui aku merindukan sosok mantan ku satu ini. kami berpisah karena ada kesalahpahaman ,saat itu aku terlalu egois tidak mau mendengarkan penjelasan dari Holand. Padahal aku sangat menyayangi Holand hanya saja rasa sayang itu tertepikan oleh rasa cemburu yang besar pada Elsa.
" apa aku bisa menghubungi mu nanti?" tanyanya.
__ADS_1
Aku mengambil handphone yang dipengangnya.
" sini ,handphone mu"
Holand menyerahkannya dengan wajah bingung.
Aku mengetikkan nomor ku di handphone dan menyimpannya.
" hubungi aku sesukamu" aku mengembalikan handphone yang aku pegang.
" makasih Sania, aku pasti menelponmu" Holand terlihat senang sekali.
" aku ingin mengantarkan Raihan keperistirahtannya yang terakhir" kataku
Aku pun ikut kepemakaman, Ini terakhir kalinya aku melihat Raihan. Tak henti hentinya ku menatap foto Raihan setelah selesai pemakaman.Malam ini Aku sangat berduka ,aku masih belum bisa melupakan kepergian Raihan. Yang ku ingat hanyalah kebaikannya.
Ponselku berdering dari Dani. Sudah lama dia tak menghubungiku.
" maaf kan aku Sania, seperti nya hubungan kita harus break dulu" tanpa hujan tanpa petir tiba tiba Dani berkata seperti itu.
" kenapa?"
__ADS_1
" aku sudah terlalu lama menunggu mu, aku ingin memiliki pacar yang berada disampingku tidak hanya lewat telpon. Aku juga ingin bersama mu lagi, bercanda ,jalan jalan.aku menunggu mu kembali?"
" maafkan aku tidak bisa"
" kenapa?kamu sengaja meninggalkanku kan, pekerjaan hanyalah alasan untuk mu agar kamu bisa putus dari aku" nada suara Dani agak meninggi.
" bukan seperti itu"
" jangan jangan kamu sudah menemukan pria lain selain aku"
" tidak Dan. Kamu salah" Firasatmu memang benar Dani, aku yang telah membohongimu selama ini. Tapi aku tidak mampu mengatakan putus padamu ,aku menunggumu sampai kamu yang mengatakannya.
" kalau begitu kembalilah padaku, aku selalu menerimamu kapan pun itu"
" tidak bisa Dan, saat ini aku benar benar tidak bisa"
" kenapa? alasan uang?, selama kamu kembali kamu sudah menolak uang ku beberapa kali. sepertinya kamu memang benar benar ingin menghindar"
" Bukan begitu. Aku memang tidak ingin menerima uang dari mu lagi karena aku sadar aku tidak bersama mu lagi. Aku tidak ingin merasa mempunyai hutang budi darimu."
" ayolah San, break pada hubungan kita bisa dibatalkan kalau kamu mau menemuiku lagi!"
__ADS_1
...NEXT...