
Dengan nafas yang memburu, serta gelora cinta yang tak pernah padam. Hanin dan Prasetya melakukan ritual menyatukan mereka dengan sangat bergairah di atas tempat tidur.
Setiap bersenggama, baik Prasetya maupun Hanin, keduanya melakukan dengan begitu baik dan saling memuaskan hasrat seksual mereka masing-masing.
Hanin sudah paham dengan kebutuhan biologis Prasetya. Dan Prasetya pun juga memenuhi kebutuhan biologis Hanin dengan cara yang lembut. Sehingga mereka selalu bisa melakukan percintaan dengan waktu yang cukup lama. Sampai keduanya sama sama merasa terpuaskan.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Keesokan harinya, Prasetya yang saat itu sudah siap untuk pergi kekantor. Nampak berdiri di depan cermin di kamarnya untuk mengenakan dasinya.
Hanin yang baru saja keluar dari ruang baju dengan sudah berpakaian rapi serta mengenakan hijabnya. Langsung berjalan kearah Prasetya dan kemudian ia membantu sang suami mengenakan dasinya.
"Sudah rapi Mas." seru Hanin.
"Terimakasih sayang." ucap Prasetya yang kemudian melabuhkan satu kecupan ke pipi sang istri.
Setelah selesai, mereka pun keluar dari kamar dan bersama sama turun kelantai bawah untuk bersarapan bersama.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Wajah Prasetya nampak segar, dan terlihat begitu bersemangat saat ia akan menuju kantor.
Ketika ia sedang melintas di jalan raya arah kantor. Tak sengaja Pras melihat Kinanti yang saat itu tengah berada di halte bus.
Sepertinya Kinanti sedang menunggu bus yang akan lewat di depan halte.
Dari kejauhan, Pras nampak ragu. Antara menawari tumpangan untuk Kinanti atau tidak.
Dan akhirnya.
"Kinanti." pangil Prasetya dari dalam mobil, sambil memberhentikan mobilnya tepat di depan halte persis di tempat Kinanti berdiri.
__ADS_1
"Pak Prasetya." sapa balik Kinanti.
"Masuklah, sekalian saja ikut saya." perintah Prasetya pada sekretarisnya itu.
"Tidak usah Pak. Terimakasih, saya naik bis saya." jawab Kinanti, menolak dengan halus tumpangan yang di berikan bos nya itu.
"Ya sudah kalau begitu." jawab Pras, kemudian ia menutup kembali jendela kaca mobilnya dan melanjutkan perjalanan menuju kantor.
Sesampainya di kantor, seperti biasa Prasetya bersiap siap untuk melakukan aktifitasnya.
Saat ia sedang sibuk berkutat di depan laptop. Deringan ponsel yang berbunyi di samping laptopnya mengalihkan perhatian Pras.
Prasetya kemudian meraih ponselnya dan menerima panggilan telepon itu.
"Halo." sapa Prasetya pada seseorang yang menghubungi dirinya.
"Halo Pras," sapa balik Murtad.
"Tidak ada apa apa, aku kebetulan sedang berada di gedung perkantoran tempat mu berkantor. Jika kau tak sibuk, boleh tidak aku main ke kantor mu."
"Tentu saja boleh, silahkan datang. Aku sudah di kantor sekarang." jawab Prasetya pada Murad, sesepuhnya itu.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
"Sejak pertemuan terakhir kita di meja itu saat kita sedang pesta wine, aku tidak melihat mu lagi." Tutur Murad pada Prasetya saat mereka tengah asik mengobrol di ruang kerja Prasetya.
"Sialan, gara gara aku kebanyakan minum, aku jadi mabuk pada malam itu." gerutu Prasetya.
"Kau kan tidak minum banyak, bagaimana bisa mabuk."
"Entahlah, aku sudah lupa dengan acara minum minum saat itu. Karena tau tau aku sudah berada di kamar hotel ku." jelas Prasetya.
__ADS_1
"Oya, bagaimana bisa kau berada di kamar mu? Kau kan tak bisa pergi ke kamar mu sendiri dalam keadaan mabuk. Memangnya siapa yang membantu mu ke kamar?" tanya Murad menyelidiki. Dan Seketika membuat Prasetya membeku.
Sial, kenapa aku membicarakan tentang malam itu. Murad tidak boleh tau tentang apa yang terjadi pada malam itu. Karena aku saat itu bersama Kinanti. Jika Murad sampai tau dan curiga. Ini bahaya untuk ku.
"Di mana sekertaris mu? Boleh tidak aku minta di buatkan kopi?" ujar Murad lagi.
"Oh, boleh. Sebentar ya, aku panggilkan Kinanti." Prasetya kemudian berjalan ke arah meja kerjanya dan menghubungi Kinanti lewat sambungan telepon.
"Kinanti, tolong buatkan dua cangkir kopi dan antara kan ke keruangan ku ya." perintah Prasetya pada sang sekertaris.
"Siap Pak." jawab Kinanti.
Dan tak lama kemudian, Kinanti datang ke ruangan Prasetya dengan membawakan dua cangkir kopi yang ia bawakan pada sebuah nampan.
Kinanti kemudian meletakkan kopi tersebut di atas meja di mana saat itu Murad dan Pras sedang berada di sana.
"Silahkan Pak, saya permisi." Setelah selesai menjalankan tugasnya, Kinanti kemudian kembali keluar dari ruang kerja Prasetya.
"Dia cantik ya." tutur Murad yang sejak tadi memperhatikan Kinanti. Prasetya tidak menjawab, ia kemudian meraih kopi miliknya dan menyeruputnya.
"Bagaimana jika kau jadi Mak Jomblang ku. Aku sepertinya naksir dengan sekertaris mu." ujar Murad sambil melayangkan pandangannya ke arah Prasetya dengan pandangan mata mencurigakan.
"Kau tidak perlu Mak Jomblang, masa pria segagah kamu perlu bantuan untuk mendekati perempuan." sergah Prasetya. Dan ucapan Prasetya di tanggapi kekehan kecil oleh Murad.
"Jadi, apakah sekertaris mu itu single?" tanya Murad menyelidik.
"Mana aku tau, aku tidak mengurusi kehidupan pribadi sekertaris ku. Kami bekerja profesional." jawab Prasetya.
"Ya, aku percaya. Seorang Prasetya Aditama tidak akan selingkuh kan. Kau sudah sangat beruntung punya istri secantik dan sesolehah Haningrum. Jika aku jadi kamu. Aku juga tidak akan main main dengan perempuan lain. Biasanya jika seorang wanita sudah setia seperti Haningrum, jika di khianati, dia tidak akan bisa mentolerir kesalahan seorang suami yang selingkuh." ujar Murad. Dan, perkataan Murad membuat jantung Prasetya langsung berdetak lebih cepat.
Brengsek, apa kamu sedang menakuti-nakuti aku Murad, desis Prasetya dalam hati.
__ADS_1