
Akhirnya, Hanin pun ikut turun dari mobil.
Dengan menggunakan pencahayaan dari ponsel. Pras dan Hanin berjalan menuju pintu rumah.
Mengambil kunci rumah dari balik saku celana. Pras kemudian membuka pintu dan menyuruh Hanin untuk masuk duluan.
"Dimana biasanya kalian menaruh lilin?" tanya Prasetya.
"Ada di laci dapur." jawab Hanin, seraya ia berjalan menuju dapur untuk mengambil lilin. Sedangkan Pras menerangi Hanin yang tengah mencari lilin dengan lampu yang ada di ponselnya.
"Daya ponsel ku lemah. Sebentar lagi ponselku pasti mati." terang Prasetya.
"Sabar Mas, ini aku sedang cari lilinnya." terang Hanin dengan nada suara sedikit jengkel.
Hanin merasa jengkel, kenapa harus mati lampu tepat di saat mereka hanya ada berdua saja dengan Pras di rumah.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
"Cuma ada satu lilinnya Mas. Aku lupa bilang sama Bibik kalau persediaan lilin di rumah habis." ucap Hanin saat ia hanya bisa menemukan satu lilin di laci dapur.
"Ya udah nyalakan saja lilin itu. Kita naik dulu ke lantai dua. Aku harus harus mandi, aku sudah menggigil kedinginan." ucap Prasetya yang masih memegangi ponselnya untuk menerangi mereka saat itu.
Hanin pun kemudian menyalakan lilin tersebut. Kemudian mereka sama sama berjalan menaiki anak tangga untuk menuju kamar.
"Perhatikan langkah mu sayang. Jangan sampai kamu terjatuh. Keadaannya sangat gelap." ucap Prasetya memperingatkan Hanin.
"Iya Mas." ucap Hanin menjawab, sambil terus melangkahkan kakinya menaiki anak tangga menuju kamar.
Sesampainya di depan pintu kamar. Prasetya langsung membukakan pintu kamarnya. Dan mereka berdua pun masuk.
Setelah itu, Prasetya langsung menutup pintu dan mengunci kamarnya.
"Baterai ponsel ku sudah habis Han. Jadi ponsel ku tidak mungkin untuk bisa menerangi ruangan lagi." jelas Prasetya.
"Bagaimana dengan ponsel kamu?"
__ADS_1
"Sudah sejak tadi ponsel ku juga sudah mati. Ya sudah Mas mandi, habis itu antara kan aku langsung ke rumah. Mungkin di sana tidak mati lampu. Jangan buang-buang waktu." ucap Hanin yang merasa sudah tidak sabaran.
"Ya sayang." jawab Prasetya patuh.
Prasetya kemudian membuka satu persatu kancing kemejanya.
"Mas, Mas kan bisa lakukan itu di kamar mandi!' seru Hanin.
"Bagaimana aku membuka baju di kamar mandi. Di sana kan gelap gulita Han. Memangnya kenapa jika aku buka baju di sini, sah sah saja kan." timpal Prasetya, yang kemudian tidak memperdulikan lagi protestan Hanin ia membuka bajunya.
Tidak mau jadi penonton suaminya sedang melucuti pakaian. Hanin kemudian beralih ke jendela di kamarnya.
Hanin membuka jendela kamarnya untuk mengusir kecanggungan nya.
Baru beberapa saat Hanin melemparkan pandangannya ke arah luar sana yang gelap gulita. Hanin dikagetkan dengan suara serak Pras yang memanggilnya dari belakang.
"Haningrum." pangil Prasetya.
Saat Hanin membalikkan badannya. Tubuhnya sudah menempel pada tubuh Prasetya. Hanin berdiri tepat di depan dada bidang Prasetya yang terekspose.
Deg..............
"Katanya mau Mandi?" ucap Hanin ketus pada Prasetya.
"Bagaimana kalau kita mandi bersama. Sudah lama kita tidak melakukan aktifitas suami istri."
"Kita sedang proses bercerai Mas."
"Tapi aku belum menalak mu. Dan aku tidak akan menalak mu."
"Tapi aku akan buat Mas akan mengatakan kata itu nanti." ancam Hanin.
"Han, tidak bisakah kamu menurunkan ego mu sedikit. Maaf jika aku bicara seperti ini. Dan aku sebenarnya tidak pantas bicara seperti ini pada mu. Karena kesalahan itu ada pada ku. Tapi, pikirkan lagi Han. Aku yakin, kita bisa memperbaiki rumah tangga kita. Aku yang akan memperbaikinya."
"Bagaimana caranya Mas Prasetya memperbaiki?" tanya Hanin.
__ADS_1
"Mas akan melakukan apa saja, untuk membuat mu kembali pada Mas, dan memaafkan Mas."
"Semua orang kalau salah pasti akan dengan mudah bilang seperti itu Mas Prasetya. Tapi Mas tidak tau seberapa sakitnya hati Hanin."
"Aku bukanlah manusia yang sempurna Hanin. Mas memang pendosa dan banyak salah. Tapi Mas tidak pernah mengkhianati kesetiaan dan cinta Mas untuk kamu."
"Iya, Mas tidak mengkhianati, tapi Mas sudah membuat seorang wanita hamil anaknya Mas. Seumur hidup ku, aku akan terus-menerus di bayangi anak itu. Dan Ali, mau tak mau punya saoudara satu ayah lain ibu" ucap Hanin, yang kemudian ia ingin meloloskan diri dari hadapan Prasetya.
"Han, kamu mau kemana?"
"Pergi dari kamar ini." ucap Hanin dengan nada kesal.
Belum sempat Hanin beranjak pergi. Pras sudah menarik Hanin dan kini wanita cantik 28 tahun itu terjatuh dalam dekapan dada bidang Prasetya.
"Hanin, sampai detik ini kamu masih menjadi istri ku. Dan aku berhak melakukan apa saja dengan mu. Aku tidak akan memaksamu. Tapi kamu pasti tau betul, apa yang harus kamu lakukan di saat aku sudah seperti ini."
"Jangan jangan ini semua rencana Mas kan?"
"Jangan souzon sayang. Mana mungkin aku mematikan listrik satu kompleks. Sudah hampir dua bulan Hanin kita berpisah. Mari kita bangun lagi chemistry kita. Mari kita liat, seberapa dalam cinta kita ini masih tumbuh di hati ku dan hati mu. Mari kita pertemukan emosional kita dengan....."
"Ngak akan Mas."
"Ngak akan menolak kan." ledek Pras.
"Aku masih marah sama Mas."
"Makanya aku minta ampun Han. Aku minta maaf, aku ingin membuat kamu tidak marah lagi dengan ku."
"Mas, please, lepaskan."
"Tidak sebelum aku bisa menyenangkan mu."
"Aku tidak perlu di senang kan."
"Hanin, kamu tidak mau berdosa karena tidak mau melayani suami mu kan. Padahal niat ku bukan aku yang minta di layani. Tapi sebaliknya, aku ingin melayani mu."
__ADS_1
Sepasang suami istri itu makin beradu pandang dengan pandangan mata berlawanan.
Hanin dengan pandangan mata tajam nya dan Pras dengan mata lembutnya.