
Hanin POV
Maafkan aku Mas, aku belum bisa berinteraksi dengan mas Prasetya. Aku belum bisa memulai percakapan dengan mas Pras.
Setelah semua kejadian itu terjadi dan terulang kembali.
Aku tidak tahu sampai kapan aku menutup mulutku untuk mas Pras. Hati ini masih terlalu sakit untuk bisa menerima kenyataan yang jelas jelas aku melihatnya sendiri
Aku sangat mencintai Mas Pras dengan sepenuh hati ku. Aku sayang dan sangat hormat sama Mas. Aku juga sangat tunduk dan segan dengan wibawa Mas sebagai seorang suami.
Tapi ternyata, dengan sadar Mas melakukan perzinahan itu lagi. Dan aku tidak bisa menerima semua alasan yang Mas Prasetya buat.
Hanin sudah berikan maaf untuk Mas Pras beberapa waktu lalu. Saat itu aku bisa maklum jika kesalahan itu tidak Mas sengaja.
Tapi kini, tidak segampang dan tidak akan semudah dulu aku memaafkan kesalahan yang Mas ulang.
Hanin juga tidak tahu Mas. Akan seperti apa kedepannya hubungan kita. Mungkin aku sudah egois sekarang.
Tapi inilah bentuk rasa kecewa ku terhadap Mas Prasetya.
Sebagai seorang istri yang sudah tunduk dan selalu menjaga marwahnya untuk seorang suami.
Rasa rasanya Hanin sangat kecewa saat semua sikap ku selama ini tidak di hargai sama Mas.
Hanin tau, Mas Prasetya sebenarnya sangat mencintaiku. Tapi yang tidak bisa aku mengerti adalah. Kenapa Mas masih tidak bisa menjaga hawa nafsu Mas untuk tidak tergoda dengan wanita lain. Padahal Mas sudah punya aku di rumah.Yang selalu melayani Mas dengan baik.
Tapi, sekarang aku jadi bertanya-tanya.
Apakah pelayanan ku begitu buruk untuk Mas.
Sehingga Mas masih tergoda dengan wanita lain.
Dengan mata kepala ku sendiri aku melihat Mas begitu rakusnya melahap bibirnya wanita itu. Dan meletakkan tangan mas di buah dadanya.
Dan kalian begitu mesra melakukan ciuman panas itu.
Lantas, di mana pertahanan iman yang Mas bilang Mas Pras sangat mencintaiku.
Pada dasarnya, seorang laki-laki yang sangat mencintai istrinya tidak akan pernah bisa tergoda dengan wanita secantik apapun dan seseksi apapun di hadapannya.
Aku minta maaf jika sampai sekarang aku belum bisa membuka mulutku atau belum bisa membuka komunikasi dengan mas Prasetya.
Karena rasa kecewa dan sakit hati ku terlalu dalam Mas.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Sore itu sepulangnya dari kantor. Prasetya bertekad dan berniat untuk minta klarifikasi pada Hanin perihal ia mengambil buku nikah yang ada di rumah.
Prasetya benar-benar sudah tidak bisa sabar lagi saat ia di acuhkan oleh Hanin.
Sesampainya di rumah mertua. Yang menjadi tempat tinggal Hanin dan Ali saat ini. Pras yang baru saja masuk kedalam rumah melihat Ali sedang bermain dengan salah seorang art.
__ADS_1
Untuk beberapa saat, Prasetya menyapa Ali dan mengajaknya bermain.
Beberapa menit setelah itu. Prasetya memberitahu pada sang art untuk mengajak Ali bermain lebih lama dan jangan sampai membiarkan Ali untuk naik ke kamar Bundanya.
Karena ia ingin berbicara empat mata dengan istrinya Hanin.
Paham dengan perintah Prasetya, art itu mengajak Ali untuk bermain ke ruang tengah.
Dengan sudah tidak sabaran. Pras menaiki anak tangga dengan langkah cepat dan ia hendak menemui Hanin di kamarnya.
Sesampainya Pras di depan pintu kamar Hanin. Pras langsung membuka pintu kamar tersebut dengan pelan.
Saat pintu sudah terbuka. Hanin ternyata tidak ada di ruangan kamarnya.
Saat Pras melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kamar. Samar samar Pras mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi.
Karena kebetulan kalau itu Hanin tidak menutup dengan sempurna pintu kamar mandi.
Sehingga Prasetya bisa melihat celah di mana ada seseorang yang sedang mandi di dalam sana.
Pras kemudian melangkahkan kakinya untuk menuju lebih dekat ke arah kamar mandi. Dan ia melihat lewat celah pintu itu Hanin sedang mandi di bawah guyuran air shower.
Prasetya kemudian berjalan lagi ke arah pintu kamar dan kemudian ia mengunci pintu kamar.
Tidak lupa Pras mencabut kunci tersebut dan menyimpannya di saku celana. Agar nanti Hanin tidak bisa kabur.
Membiarkan Hanin melakukan ritual mandinya. Pras kemudian mencari-cari buku nikah yang sudah Hanin ambil dari rumah.
Pras langsung mengambil buku nikah tersebut dan menyembunyikannya di saku celananya juga.
Setelah beberapa kemudian. Hanin yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan mengenakan bathrope, terkaget ketika melihat suaminya sudah berada di kamarnya.
Karena tidak ingin beradu pandang dengan Prasetya. Hanin membuang mukanya ke samping. Agar ia tidak berpandangan langsung dengan Prasetya.
Mendapati sang istri sudah keluar dari kamar mandi. Prasetya pun berjalan dengan langkah pelan mendekati Hanin.
"Kamu pasti kaget kan, aku bisa berada di dalam kamarmu sekarang. Maaf aku sudah lancang datang kemari. Tapi kamu yang membuat aku tidak sabar Hanin. Aku mengirimkan dua pesan untuk mu dan kamu tidak sama sekali membalasnya. Dan itu membuatku frustasi Han." Ujar Prasetya sambil berjalan mengitari Hanin.
"Aku kesini ingin menanyakan sesuatu padamu. Kenapa kamu mengambil buku nikah milik mu? Untuk apa kamu mengambil buku nikah dari rumah?" Tanya Prasetya ingin tau.
Lagi lagi, pertanyaan Prasetya tidak membuat Hanin bersuara. Ia tetap diam tak bergeming.
"Haningrum, aku bertanya!" seru Pras dengan nada sedikit meninggi.
Hanin tetap diam. Dan hal itu semakin membuat Prasetya geram.
"Baiklah, sepertinya kamu memang tidak mau bicara denganku lagi. Kamu sudah sangat jijik ya sama aku. Oke, tapi aku akan memaksamu supaya kamu mau bersuara." ancam Prasetya.
Prasetya kemudian mengepalkan tangannya erat-erat. Kemudian dia berjalan ke arah tembok dan memukulkan tangannya ke arah tembok dengan sangat kencang dan keras berulang kali.
Sampai-sampai tembok yang ada di kamar Hanin terlihat retak.
__ADS_1
Hanin memejamkan kedua matanya di saat ia mendapati Prasetya tengah menyiksa dirinya sendiri dengan memukulkan tangannya ke tembok.
Semakin Hanin tak peduli, Pras semakin keras memukulkan tangannya ke atas tembok.
Sampai-sampai darah segar itu kini mengalir dari kepalan tangan Prasetya.
Tidak tahan melihat sang suami menyiksa dirinya sendiri dengan keadaan tangannya yang sudah berdarah-darah. Akhirnya membuat Hanin bersuara.
"Stop Mas Prasetya!" seru Hanin.
Ketika mendengar Hanin sudah bersuara. Barulah Prasetya menghentikan tindakannya memukulkan tangan ke tembok.
Dengan nafas yang terengah-engah dan tangan yang kini sudah berlumuran darah. Prasetya menoleh ke arah Haningrum. Dan Hanin pun kini menatap Prasetya dengan pandangan mata kosong.
Saling pandang itu berlangsung beberapa menit. Setelah mereka sudah tidak saling pandang saat terakhir kejadian di solo waktu itu. Ketikan Hanin mempergoki Pras dan Kinanti.
Selain tidak saling pandang, Hanin juga puasa bicara pada suaminya itu.
Tapi untuk saat ini, sepertinya Pras sudah berhasil membuat Hanin bersuara dengan lantang memangilnya.
"Jangan bodoh menyakiti diri mu sendiri Mas. Aku bisa saja membiarkan tangan mu patah. Jangan buat kegaduhan di kamar ku." terang Hanin yang masih menatap sang suami dengan pandangan datar.
Prasetya kemudian berjalan tertatih mendekati sang istri dan membiarkan saja darah segar mengalir dari tangannya.
"Aku hanya ingin bicara dengan mu Hanin. Jika dengan menyiksa diriku sendiri kamu mau bersuara. Aku akan lakukan itu demi bisa bicara dengan mu." terang Prasetya, yang kini sudah berdiri dengan jarak yang cukup dekat dengan Hanin.
Mata Hanin terus tertuju menatap ke arah mata Prasetya. Lagi lagi sepasang suami-istri itu saling beradu pandang dengan masih saling berperang dingin.
Menurunkan pandangannya dari wajah ke tangan Prasetya. Hanin yang melihat darah di tangan suaminya masih menetes netes. Membuat Hanin tidak tega. Ia pun kemudian berjalan ke arah laci meja yang ada di kamarnya. Dan ia mengambil kotak obat.
Prasetya kala itu duduk di lantai dan bersandar pada tempat tidur. Ia hanya bisa pasrah begitu saja setelah puas menyiksa diri.
Hanin yang kini sudah membawa peralatan kotak obat itu kemudian ikut terduduk di lantai di dekat Pras.
Tanpa bicara, Hanin meraih tangan Prasetya dan kemudian membersihkan darah yang terdapat di tangan Pras.
Dengan telaten, Hanin mengobati luka itu dan membalutnya dengan kain.
"Katakan apa yang ingin Mas Pras bicarakan dengan ku. Setelah itu Mas bisa pergi." ucap Hanin memecah kebisuan.
"Jangan tinggalkan aku Hanin. Separuh jiwaku rasanya pergi dan hilang tanpa kamu dan Ali." Tutur Pras, kemudian ia mengangkat satu tangannya yang lain. Pras kemudian meraih dagu Hanin agar sang istri mau menatapnya.
Saat mereka sudah kembali saling pandang. Prasetya meneruskan kata-katanya.
"Maafkanlah aku istriku. Sorry, pulanglah, mari kita pulang. Berikan aku kesempatan. Jangan pergi dari ku dan jangan tinggalkan aku, please." ucap Prasetya memelas.
Hanin kemudian melepaskan satu tangan Prasetya yang memegangi dagunya.
Baru saja Hanin ingin beranjak pergi dari sisi Pras karena ia telah selesai mengobati luka sang suami. Pras menarik tangan Hanin. Sehingga Hanin terhuyung jatuh dan masuk ke pangkuan Prasetya.
Dan di sana, Pras mengunci pergerakan Hanin dengan kuncian kedua tangannya memeluk tubuh Haningrum.
__ADS_1