
Seseorang mengetuk pintu ruang kerja Prasetya dengan ketukan tergesa.
Mendengar pintu ruangannya diketuk dengan begitu kerasnya oleh seseorang. Membuat Prasetya sedikit kaget. Prasetya kemudian menyuruh seseorang itu untuk masuk saja keruanganya..
Begitu seseorang itu masuk kedalam ruang kerja Prasetya. Ia kemudian langsung melaporkan bahwa Kinanti jatuh pingsan ketika ia hendak mengcopy suatu berkas di mesin fotocopy yang ada di kantor.
Mendengar kalau Kinanti jatuh pingsan. Prasetya langsung bangkit dari kursinya. Pikirannya langsung tertuju pada bayi yang ada di kandungan Kinanti.
Kemudian ia langsung menuju tempat di mana Kinanti saat ini berada.
"Pak, Bu Kinan pendarahan." Tutur salah seorang karyawan pada Prasetya yang baru saja datang.
"Astagfirullah." Seru Pras.
Paham dengan sesuatu hal yang buruk telah terjadi pada kandungan Kinanti. Tidak lagi berfikir panjang. Prasetya langsung meraih tubuh Kinanti dan mengedong nya.
"Aku akan bawa dia ke rumah sakit." Seru Prasetya pada karyawannya.
Prasetya dengan berjalan tergesa-gesa. Membopong tubuh Kinanti untuk segera dilarikan ke rumah sakit.
Tentu saja Pras juga tidak ingin terjadi sesuatu pada bayinya.
Beberapa jam kemudian, di rumah sakit.
"Bagaimana dengan keadaannya dokter." Tanya Pras, begitu melihat seorang dokter yang menangani Kinanti telah keluar dari ruang IDG.
"Untung saja anda segera membawa pasien ke sini. Kalau tidak, saya tidak yakin kandungannya bisa diselamatkan." Jawab sang dokter. Dan hal itu langsung membuat Prasetya menghela nafas lega.
Karena itu artinya, bahwa bayi yang ada di kandungan Kinanti masih selamat.
"Alhamdulillah."
"Tadi pasien mengalami pendarahan yang cukup serius. Jika tidak ditangani dengan cepat. Maka akan berimbas pada janin yang saat ini sedang di kandung. Saya sudah memeriksanya, tekanan darahnya juga sangat rendah. Pasien juga kekurangan zat besi. Hal itulah yang mengakibatkan pasien mengalami kelelahan dan juga pendarahan. Oleh sebab itu, pasien tidak boleh melakukan pekerjaan yang berat dan juga harus banyak beristirahat." Terang sang dokter pada Prasetya. Prasetya pun mengangguk paham.
"Apa dia sudah siuman?"
__ADS_1
"Pasien sudah siuman. Perawat sedang mempersiapkan pasien untuk dipindahkan ke ruang perawatan. Untuk sementara, pasien tidak di izinkan pulang dulu. Harus menunggu sampai keadaannya stabil baru dia boleh diizinkan untuk pulang. Sesampainya di rumah pun, pasien juga harus istirahat total. Karena pendarahannya sangat sensitif." Imbuh sang dokter.
"Baik dokter, saya mengerti."
Setelah mendengar penjelasan sang dokter. Prasetya kemudian berpikir keras.
Jika Kinanti harus istirahat total dan juga harus badrest.
Siapa yang akan menemani Kinanti. Karena yang Pras tau, Kinanti tinggal sendirian di rumah kostnya.
Sedangkan Kinan sendiri tidak boleh melakukan apapun.
Hal itu lah yang kini sedang di pikir kan oleh Prasetya. Dirinya bukannya perhatian pada Kinanti.
Tapi Pras hanya mengkhawatirkan anaknya yang saat ini ada dalam kandungan Kinanti.
Karena bagaimanapun, Prasetya juga tidak bisa egois untuk membiarkan Kinanti begitu saja.
"Aku harus bagaimana dan melakukan apa?" ucap Prasetya, yang kini justru malah bingung. Karena ia dalam posisi serba salah.
Keesokan paginya di rumah Prasetya
"Mas, bangun. Sholat subuh." Ucap Hanin, yang kala itu membangunkan suaminya Prasetya yang terlihat masih tidur pulas. Padahal pagi itu sudah masuk waktu sholat subuh.
"Hemmmmm, sebentar lagi Han. Mas masih mengantuk." Jawab Prasetya yang terlihat begitu lelah dan masih mengantuk itu.
"Sepuluh menit lagi ya Mas, aku panggil. Tapi Mas harus langsung bangun."
"Ya sayang." Jawab Prasetya yang masih meringkuk di rajang tersebut
🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Seperti biasa pagi itu Hanin selalu membereskan kamarnya sendiri seusai sang suami sudah berangkat ke kantor.
Hanin kemudian bergegas ke kamar mandi untuk mengambil baju baju kotor.
__ADS_1
Saat Hanin meraih kemeja Prasetya yang ia pakai kemarin untuk dipindahkan ke keranjang baju kotor.
Ada sesuatu yang aneh tercium dari kemeja putih sang suami.
Sejenak Hanin mengendus kemeja putih yang kemarin Prasetya pakai. Dan, Hanin merasa ada bau parfum lain di kemeja suaminya.
Haningrum kemudian mengendus kemeja Prasetya. Hanin yakin, ia mencium parfum lain di kemeja sang suami.
Hanin sudah sangat hafal bau parfum yang selalu di gunakan oleh sang suami. Tapi saat ini, wangi parfum di kemeja Prasetya bercampur dengan bau parfum yang berbeda.
Untuk memastikan bahwa penciumannya tidak salah. Hanin kembali mengendus kemeja tersebut.
Dan Hanin yakin, bau parfum itu adalah bau parfum yang dulu pernah ia cium. Sebuah wewangian khas yang digunakan wanita.
Mengetahui hal itu, Hanin nampak menghembuskan nafas berat.
Sepertinya dirinya memang harus memiliki hati ekstra kuat untuk menghadapi suaminya ini.
"Kenapa ada wewangian wanita itu Mas? Kalian ngapain lagi. Kenapa parfum wanita itu menempel di kemeja kamu? Sergah Hanin.
"Tidak mungkin parfum dia akan nempel di kemeja Mas Pras, jika dia tidak menempel sama kamu Mas." Ucap Hanin lagi pada dirinya sendiri.
Kemudian Hanin melanjutkan kegiatannya untuk memindahkan baju kotor ke sebuah keranjang. Lalu ia menyerahkan baju baju kotor tersebut pada art nya untuk di cuci.
Setelah menyerahkan baju baju kotor itu pada art nya. Hanin kembali ke kamarnya.
Ia kemudian duduk termenung di pinggiran tempat tidurnya. Dalam hati, Hanin beristighfar.
Ia tidak ingin selalu mencurigai suaminya. Tetapi entah kenapa, setelah ia mendapati ada bau parfum wanita lain di kemeja suaminya. Pikirannya kini jadi berfikiran negatif terhadap Prasetya.
Hanin meyakini ada sesuatu yang terjadi di antara suaminya dan juga Kinanti.
Tidak mungkin bau itu bisa tercium begitu jelas jika baju wanita itu tidak menempel pada baju suaminya.
Hanin jadi teringat pesan Mama mertuanya.
__ADS_1
"Yang kuat Hanin, dan satu lagi, hati hati juga dengan wanita itu. Kamu harus punya mental yang kuat. Yang berdiri sebagai seorang istri yang sah dan kuat untuk menjaga suami mu. Tujukan kamu kuat, dan tidak terpengaruh." Ujar Bu Damayanti, yang tidak ingin pernikahan anak dan menantunya itu goyah