
Flashback......
"Mah, kok ke sini tumben pagi-pagi sekali." tutur Hanin yang kala itu membukakan pintu rumahnya untuk mertuanya yang baru saja datang.
"Pras semalam menelpon Mama, dan bercerita kalau Ali sakit. Mama sengaja ke sini pagi-pagi untuk menjenguk cucu kesayangan Mama." tutur Bu Damayanti.
"Bagaimana keadaan Ali? Apa keadaannya sudah baik." tanya lagi Bu Damayanti.
"Alhamdulillah Ali sudah baikan Ma. Panas nya juga sudah turun." Hanin kemudian mempersilahkan mertuanya masuk.
"Pras katanya pergi ke luar kota. Memangnya pergi keluar kota ke mana? Dia ngk cerita mau ke kota mana. Tadi malam cuma kasih tau Mama kalau Ali demam."
"Mas Pras pergi ke Solo. Katanya ada urusan pekerjaan di sana. Sebenarnya mas Pras ajak Hanin dan Ali. Tapi karena Ali sakit, jadi kami tidak jadi ikut." terang Hanin.
"Pras ke solo!" seru Bu Damayanti.
"Iya, tapi nanti malam juga sudah pulang. Urusannya hanya sampe hari ini."
Ketika mendengar Pras pergi ke Solo. Perasaan Bu Damayanti tiba-tiba menjadi tidak enak.
"Kenapa Ma?" tanya Hanin, karena raut wajah sang mertua mendadak berubah.
"Nggak ada apa-apa. Han, duduk sini sebentar. Mama mau tanya sesuatu sama kamu." terang Bu Damayanti. Melihat gelagat aneh dari sang mertua membuat Hanin juga merasa penasaran.
"Ada apa Ma?" tanya Hanin penasaran.
"Apa Pras ada bicara sama kamu atau ada bilang jika dia mau nengokin Kinanti?"
"Ngak Ma, mas Pras tidak ada bilang apa apa. Memangnya kenapa Ma?"
"Kamu lupa apa tidak tau. Kinanti kan tingal di solo. Jika Mama hitung. Kinanti sekarang usia kandungannya sudah sembilan bulan. Jadi ini adalah masa masa dia melahirkan. Mama cuma pikir, apa Pras bohong sama kamu jika dia pergi ke solo karena kerjaan?" ucap Bu Damayanti curiga sama anaknya sendiri.
"Ngak sih Ma, mas Pras sudah kasih unjuk ke Hanin soal kerjaan dia di solo. Memang dia ada beberapa kerjaan di sana. Awal nya juga Mas Pras ajak Hanin."
"Oh, kira in itu hanya alasan Pras. Tapi tetap saja Han. Perasaan Mama tidak enak." tutur Bu Damayanti.
__ADS_1
"Jika mas Pras mau nengok wanita itu. Mas pras pasti bilang sama Hanin Ma. Mas Pras kan sudah janji sama Hanin untuk selalu jujur. Misal Mas Pras izin untuk menemui wanita itu. Ya, Hanin bisa maklum. Anak nya kan sudah lahir, masa Hanin ngk kasih izin mas Pras untuk liat anak nya. Kalau hanya sekedar untuk nengok." jelas Hanin.
"Mas Pras juga nggak ada bilang sih Ma, kalau Mas Pras mau nengokin wanita itu. Jadi, Mas Pras nggak mungkin temui wanita itu diam diam tanpa sepengetahuan Hanin."
"Han, apa tidak sebaiknya kamu susul Prasetya saja ke Solo. Mama takut, perasaan Mama mulai nggak enak ini. Kamu susul saja Pras ke Solo. Hanya untuk memastikan saja kalau dia nggak macam-macam." tutur Bu Damayanti.
"Kalau memang Mas Pras mau nengok wanita itu. Ya itu hak Mas Pras Ma. Kalau cuman menengok saja pun, Hanin bisa maklum, asal Mas Pras bilang."
"Bukan soal itu Han, kamu tahu sendiri kan Kinanti itu wanita seperti apa. Dan kamu juga tahu Prasetya itu orangnya sangat lembut hatinya. Mama cuman nggak ingin aja terjadi sesuatu. Sudahlah kamu nurut saja sama Mama. Kamu sekarang juga pesan tiket ke Solo. Sekarang ya, biar di antar sama sopirnya Mama. Ali biar Mama yang jaga. Daripada nanti terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Sudah sana kamu sekarang pesan tiket untuk pergi ke Solo."
Setelah menimang-nimang saran dari ibu mertuanya. Hanin pun tanpa sepengetahuan Prasetya pagi itu juga memesan tiket untuk pergi ke Solo.
Dan pagi itu juga, Hanin dengan di antara sopir pergi ke bandara dan terbang ke Solo dengan naik pesawat.
Setibanya Hanin di bandara di Solo.
Hanin yang sudah menaruh GPS ponsel sang suami ke ponselnya jadi tau. Pras saat ini sedang berada di mana.
Hanin kemudian mencocok kan alamat rumah Kinanti yang sudah di berikan oleh ibu mertuanya. Dan pada siang itu. Hanin mendapati lokasi ponsel milik Pras berada di alamat rumah Kinanti.
Hanin kemudian langsung meluncur ke rumah Kinanti dengan menaiki sebuah taksi.
Dan akhirnya, pada siang menjelang sore. Hanin benar-benar tiba di depan rumah Kinanti.
Sejenak, Hanin mengamati rumah itu dari dalam taksi nya.
Suasananya nampak sepi. Dengan pintu rumah tertutup rapat.
Hanin pelan pelan keluar dari taksi tersebut. Dan sebelum minta oleh sopir taksi untuk menunggunya.
Sekali lagi Hanin memastikan lokasi terakhir keberadaan sang suami. Dan benar, lokasinya ada di tempat ia saat ini juga sedang berada.
"Kamu ngapain ke sini tidak bilang bilang sama aku Mas. Apa lagi yang kamu sembunyikan. Kamu sudah mulai tidak jujur lagi sama aku." ucap Hanin membatin.
Kemudian, Hanin dengan langkah gemetar. Mendekati rumah Kinanti.
__ADS_1
Sedangkan di dalam sana, di sebuah sofa panjang. Pras dan Kinanti masih larut dalam berciuman basahnya.
Hanin kini sudah berada tepat di depan pintu rumah Kinanti.
Awalnya ia mau mengucapkan salam. Tapi hal itu ia urungkan.
Karena pintu itu kebetulan tidak tertutup sempurna. Maka dengan perlahan Hanin mendorong pintu itu dan membukanya dengan perlahan.
Setelah pintu itu terbuka sempurna. Kedua mata Hanin terbelalak kaget bukan kepalang.
Ia menyaksikan sendiri dengan mata kepalanya. Suaminya Prasetya sedang menikmati berciuman dengan lembut dan mesra bersama Kinanti.
"Astaghfirullahaladzim." desis Haningrum detik itu pula.
Hanin menyaksikan suaminya berciuman dengan sangat mesra dengan Kinanti. Bahkan Hanin juga menyaksikan tangan Prasetya menggenggam erat sumber ASI yang ada pada wanita itu. Dan tangan Kinanti tampak membelit leher Prasetya.
Saking tidak bisa menahan luapan emosi. Air mata pun tidak bisa menetes. Air mata itu tertahan mengembang di pelupuk matanya Hanin.
Ia sungguh tidak bisa percaya, suami nya melakukan penghianatan kembali. Dan itu di lakukan secara sadar dan bahkan mereka menikmatinya.
"Mas Prasetya." seru Haningrum......
Mendengar namanya disebut oleh sebuah suara yang tidak asing. Membuat Prasetya yang tadinya memejamkan kedua matanya kini membuka matanya lebar-lebar.
Saat ia membuka matanya lebar-lebar. Ia pun sangat kaget saat ia kini berciuman dengan Kinanti.
Prasetya kemudian langsung menoleh ke arah pintu yang sudah terbuka lebar itu.
Dan ia melihat di sana. Sang istri Haningrum berdiri tegap menatap ke arah dirinya dan Kinanti.
Melihat aksinya kini di sudah di tangkap basah oleh Hanin. Membuat Kinanti langsung menarik tangannya dari leher Prasetya.
Dan Prasetya sendiri langsung berdiri dan berjalan ke arah Haningrum.
"Hanin." sebut Pras dengan sudah runtuh perasaannya.
__ADS_1