Maafkanlah Aku Istriku

Maafkanlah Aku Istriku
Hanin vs Kinanti


__ADS_3

Ketika Kinanti sedang fokus mengerjakan pekerjaan di depan komputer. Sebuah notif pesan masuk terdengar di ponselnya yang ia letakkan di samping komputer di meja kerja.


Karena penasaran, Kinanti kemudian membuka pesan masuk tersebut. Kinanti baru menyadari jika pesan itu ternyata dari Hanin, istri sang bos.


Kinanti, ini aku Hanin, bisakah siang ini kita bertemu. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu. Aku sudah mengirimkan lokasi pertemuan kita ke ponselmu. Dan aku juga sudah bilang sama mas Pras jika siang ini aku akan bertemu denganmu. Jadi tolong kamu datang ke lokasi yang sudah aku berikan. Sampai jumpa di lokasi.


Pesan itulah yang di tulis Hanin untuk Kinanti. Kinan kemudian berpikir sejenak.


Setelah Ia berpikir, Kinan juga tidak mungkin untuk menolak ajakan ketemuan yang sudah di rencanakan oleh Hanin.


Mau tidak mau, ia pun harus menemui istri bos nya tersebut.


Kemudian Kinanti mengirimkan pesan balasan yang menyatakan bahwa dirinya akan menemui Hanin.


Ya Bu Hanin, saya akan datang menemui ibu sesuai alamat. Balas Kinan


Siang itu, di sebuah restoran yang tidak jauh dari perkantoran tempat Prasetya berkantor. Hanin telah membuat reservasi di restoran tersebut.


Hanin bahkan sudah sampai di sana terlebih dahulu.


Begitu melihat Kinanti berjalan mendekati meja reservasi yang sudah Hanin booking. Hanin kemudian berdiri.


Kinanti yang berjalan menuju meja nampak terlihat begitu canggung.


Bagaimana tidak canggung. Jika ia harus berhadapan dengan istri sang bos. Yang suaminya pernah tidur dengan dirinya. Dan yang sudah membuat dirinya hamil.

__ADS_1


"Selamat siang Bu Hanin." Sapa Kinanti pada Hanin. Sambil mengulas senyum tipis dan mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Hanin.


Hanin kemudian meraih tangan Kinanti dan menjabatnya.


"Siang Kinanti." jawab Hanin datar.


"Silahkan duduk." Ucap wanita berparas cantik dan yang selalu mengenakan hijab saat keluar rumah tersebut.


Kinan pun kemudian duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Hanin.


Sejenak, kebisuan melanda mereka berdua.


Kinanti tidak berani untuk memulai pembicaraan. Sedangkan Hanin kala itu menunggu Kinan untuk berkata sesuatu.


"Jangan tegang Kinan. Bukankah kamu bersikap biasa saja saat terakhir kita bertemu di rumah ku. Saat itu kamu mengambil berkas. Kamu dan Mas Prasetya bahkan berada di ruang kerja beberapa menit saat itu. Entah apa yang kalian bicarakan. Karena mas Pras menutup pintunya." Ujar Hanin dengan expresi tenang.


Deg.....


Mata Kinanti langsung terbelalak kaget. Saat Hanin tenyata tau jika pada saat itu dirinya dan Prasetya memang sedang membicarakan sesuatu.


"Jangan kaget seperti itu Kinanti. Itu tidak seberapa. Aku punya bukti yang lebih akan membuat syok." ucap lagi Hanin dengan santai. Tapi matanya menatap dengan tatapan tajam ke arah Kinan.


Hanin kemudian mengambil ponselnya dan ia menunjukkan sesuatu pada Kinanti.


Dan benar saja. Hati Kinanti langsung down begitu ia melihat apa yang sudah Hanin tujukan pada dirinya.

__ADS_1


Ia tidak menyangka, jika Hanin sudah tau semua tentang masalah itu. Bahkan ia punya bukti rekaman video mesum tersebut. Yang bagi Kinan juga tidak tau. Bagaimana bisa Hanin bisa punya rekaman video itu.


"Sebenarnya aku muak menyimpan video asusila ini. Tapi aku akan tetap menyimpan ini dari ponsel ku. Sampai aku bisa mengkonfrontir semua misteri ini." tegas Hanin.


"Maafkan saya Bu. Saya tidak sepenuhnya menjadi pelaku dalam kasus ini. Saya adalah korban." Ucap Kinan membela diri.


"Tentu saja kau akan berkata seperti itu Kinanti. Mas Pras sudah bercerita semuanya. Dan aku sudah paham. Meski begitu, aku yakin. Walau kamu saat itu sedang dalam pengaruh obat perangsang. Sehingga libido mu naik sekian persen. Sebagai seorang wanita yang masih sadar sepenuhnya dan tidak dalam mengonsumsi minuman keras. Harusnya kamu bisa menolak ajakan bersetubuh yang Mas Pras tujukan sama kamu. Saat itu kan Mas Pras menduga jika kamu adalah aku. Aku disini tidak untuk membela suami ku. Tapi aku disini memposisikan diri ku jika aku jadi kamu pada saat itu. Kenapa kamu tidak bisa menghindari ajakan Mas Pras?"


Seperti tertampar dengan semua kata kata Hanin. Kinanti hanya bisa tercengang mendengar semua perkataan Hanin.


Bagaimana Hanin bisa sejeli itu menilainya.


"Jawab Kinanti!" seru Hanin dengan nada suara tegas.


"Saya pada itu memang sedang dalam pengaruh obat perangsang. Saya meyakini itu. Saya tidak mampu menolak ajakan Pak Prasetya." Jawab Kinanti apa adanya.


"Apa kamu tidak menghargai kehormatan mu sendiri pada saat itu. Lalu kamu dengan mudahnya mengikut ajakan Mas Pras." Ucap lagi Hanin menohok. Lagi lagi Kinanti hanya bisa pasrah dan tertunduk.


"Saya khilaf Bu. Saya begitu di kuasai oleh gairah pada saat itu. Di tambah Pak Pras juga memaksa saya. Bahkan Pak Prasetya yang melucuti pakaian saya."


"Cukup!" seru Hanin.


"Tidak usah kau jelaskan bagaimana kalian saat itu berbuat mesum. Sekali lagi aku katakan Kinanti. Dalam hal ini aku tidak bermaksud membela Mas Pras. Tapi disini aku sedang menilai dirimu. Jawab pertanyaan ku yang satu ini Kinan. Apakah kamu pada saat itu memang hanya pasrah. Dan apakah kamu sengaja menikmati moments kala itu untuk menikmati berhubungan intim dengan suami orang? Apakah kamu menyukai suami ku?"


Deg......(Kinanti kena mental)

__ADS_1


__ADS_2