Maafkanlah Aku Istriku

Maafkanlah Aku Istriku
Mengembalikan kepercayaan Hanin


__ADS_3

"Tadi itu siapa? Sepertinya kamu mengenalnya dengan baik." Tanya Bagas pada Kinanti, saat Bagas mengantarkan Kinanti untuk pulang kembali ke apartemennya.


Mendengar pertanyaan Bagas, Kinanti pun menjawab dan menceritakan tentang pria yang tadi mereka ketemu di supermarket.


"Nama Prasetya, dia adalah Ayah biologis dari bayi yang aku kandung." Jawab Kinanti, yang saat itu duduk di kursi penumpang bagian depan di mobil dinas milik Bagas.


"Oh, dia orangnya." jawab Bagas singkat.


"Maaf Kinanti, jika aku lancang. Kadang aku masih tidak percaya jika kamu bisa hamil seperti ini. Maksud ku, bagaimana hal itu bisa terjadi. Aku sangat memahami situasi ini bagi mu. Tapi rasa-rasanya, aku tidak percaya jika kau bisa melakukan hubungan badan di luar pernikahan. Sebab aku tahu siapa kamu. Kamu tidak mungkin menjadi orang ketiga dalam rumah tangga seseorang. Kamu tidak mungkin merebut suami orangkan. Maaf jika kata kata ku terdengar kasar. Tapi aku prihatin dengan keadaan kamu yang hamil tampa punya pasangan." ucap Bagas, yang memang merasa sangat prihatin dengan kondisi sahabatnya.


"Terimakasih untuk semua perhatian mu Bagas. Dari dulu kamu memang sangat peduli dengan ku. Aku tidak tersinggung dengan semua perkataan mu. Ceritanya panjang Bagas, mungkin kamu juga sudah mendengar sebagai dari cerita dari ibuku. Mau percaya atau tidak. Aku tidak pernah punya niat untuk merusak hubungan rumah tangga seseorang. Aku tidak pernah juga kepikiran untuk merebut suami orang. Yang terjadi saat kemungkinan ada sabotase. Pak Pras sedang menyelidikinya." Papar Kinanti.


"Oh, begitu, ibu mu memang sudah pernah cerita jika kamu di jebak. Kinan, tawaran yang pernah aku katakan kepada ibumu itu masih berlaku sampai sekarang. Kamu tahu sendiri kan aku sebatang kara. Sekarang aku sudah tidak punya orang tua. Aku bersedia mencari ayah dari anak yang kamu kandung. Aku tahu kamu tidak mencintaiku. Tapi aku harap, kamu tahu jika aku ada untukmu. Dan aku siap menjadi Ayah dari anak yang kau kandung. Aku siap menjadi pendamping mu, aku akan melindungi mu." ucap Bagas serius sambil menyetir.


"Terima kasih untuk segala niat baikmu Bagas. Aku sangat mengapresiasinya dan sangat menghargainya. Tapi untuk saat ini aku belum memikirkan pendamping hidup. Aku tahu siapa kamu Bagas. Kamu orang yang sangat baik, kamu orang yang sangat tulus. Dan kau pantas mendapatkan wanita yang lebih baik daripada aku. Pasti banyak wanita di luar sana yang lebih baik dari aku yang akan menerima mu. Apalagi kamu seorang polisi, ganteng, gagah dan mapan. Karir mu masih panjang Bagas. Aku tidak ingin kamu menyesal jika kau memilihku. Aku sudah kotor, aku tidak suci dan aku tidak pantas untuk mu." jelas Kinan merendahkan diri.


"Kamu jangan terlalu merendahkan diri Kinan. Aku tidak berubah memandang dirimu. Tidak ada manusia sempurna, semua pasti ada salah dan buat ke khilafan. Aku yakin, kesalahan yang kamu lakukan itu tidak benar-benar kamu sengaja lakukan. Aku akan menunggu mu Kinanti." ucap Bagas kekeh. Kinanti pun tak bisa menjawab apa apa tentang sikap Bagas.


Dan tak berselang lama, mereka telah sampai di apartemen Kinan.


"Sini, biar aku bawakan barang barang nya." ucap Bagas, yang kemudian membawakan semua barang belanjaan kinanti dan membawanya sampai ke apartemen.


"Terima kasih sudah menemani dan membantu ku belanja Bagas."


"Sama sama, kalau begitu aku pamit ya. Sampai ketemu lagi."

__ADS_1


"Hati hati di jalan." ucap Kinan pada sahabat karibnya itu.


Setelah berpamitan, akhirnya Bagas kembali ke mobilnya dan bergegas menuju mes tempat ia beristirahat.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Disisi lain, pasangan Hanin dan Prasetya yang baru saja selesai belanja. Mereka sama sama memasukkan beberapa kantong belanjaan ke bagasi mobil.


"Belanja kan kamu bisa suruh art untuk melakukan nya sayang. Kamu tidak perlu lakukan sendiri." tutur Prasetya di sela sela ia memasukkan barang belanjaan ke bagasi belakang mobilnya.


"Memangnya kenapa Mas. Tidak boleh aku belanja keperluan rumah?" protes Hanin.


"Bukan begitu sayang. Kamu salah paham. Maksudnya Mas, kamu kan bisa suruh mereka untuk melakukan ini. Di rumah kan juga ada sopir." ujar Prasetya.


"Hemmm, ya sudah kalau begitu. Apa saja lah asal kamu bahagia, lakukanlah." ucap Prasetya yang kemudian ia menutup bagasi mobilnya. Karena semua barang belanjaan sudah masuk ke dalam bagasi mobil.


Prasetya kemudian membukakan pintu penumpang bagian depan untuk Hanin.


"Terimakasih suami ku." ucap Hanin sambil tersenyum manis saat Prasetya membukakan pintu mobil untuknya, dan membantunya naik ke mobil.


"Sama sama sayang." jawab Prasetya. Yang kemudian ia meraih rok gamis Hanin yang menjuntai keluar dan melambai hampir menyentuh tanah. Ketika Pras hendak menutup pintu mobil. Kemudian ia meraih lambaian gamis sang istri dan memasukan bagian gamis itu untuk sepenuhnya masuk ke mobil.


"Lain kali kalau pakai baju gamis seperti ini. Perhatikan bagian bawah ya sayang, kan bisa bahaya." ucap Prasetya memperingatkan.


"Iya, Mas." jawab Hanin patuh. Kemudian Pras menutup pintu mobil dengan pelan.

__ADS_1


Setelah itu ia segera naik ke kursi kemudiannya dan melajukan mobilnya meningalkan supermarket.


Bukannya melajukan mobilnya untuk menuju arah pulang. Prasetya justru malah mengemudikan mobilnya menuju ke jalan lain.


Hanin yang tau jika jalan itu bukan jalan menuju pulang ke rumah pun kemudian langsung protes.


"Mas kita mau ke mana? Ini kan bukan jalan menuju pulang ke rumah!" seru Hanin.


"Karena kamu sudah aku temani belanja. Sekarang kamu giliran temani Mas makan. Mas sudah lapar habis pulang kerja belum makan." ujar Prasetya sambil memegang perutnya.


Hanin yang melihat sang suami nampak sudah lapar itu jadi tidak tega.


"Ya sudah, kita mau makan di mana?" tanya Hanin.


"Ke restoran langganan kita ya. Aku kangen dengan menu masakan di sana. Sesekali kita pergi berduaan tidak apa apa. Aku juga sudah mengabari Bibik di rumah kalau kita tidak makan di rumah. Aku juga sudah bilang jaga Ali sebentar."


"Jadi Mas sudah rencanakan ini ya?" sergah Hanin.


"Kita butuh me time seperti ini sayang. Aku akan berusaha untuk mengembalikan rasa kepercayaan mu sama Mas. Mas akan buktikan sama kamu kalau di hati dan cintanya Mas hanya untuk kamu." ucap Prasetya sambil mencium punggung tangan Hanin dengan lembut. Hanin pun seketika langsung terbawa suasana.


"InsyaAllah Mas, Hanin akan bisa percaya sama Mas Prasetya seperti dulu." ucap Hanin lembut sambil menatap wajah tampan sang suami.



__ADS_1


__ADS_2