
"Bunda, kok kita ke rumah Eyang nggak sama Ayah. Nanti kalau Ayah cari kita bagaimana? Biasanya kan Bunda selalu pergi sama Ayah. Kok sekarang kita pergi berdua saja." tanya Ali polos pada Hanin.
Karena saat itu mereka telah sampai di rumah orang tua Hanin yang lokasinya tidak jauh dari rumahnya.
Papanya Hanin adalah seorang dubes. Praktis, kedua orang tua Hanin tidak ada di rumah tersebut. Sang Mama juga menemani tugas dinas papanya.
Sehingga praktis Hanin sekarang berada di rumahnya sendirian. Hanya ditemani oleh art nya.
"Al, dengerin Bunda. Untuk sementara kita akan tinggal di sini. Dan untuk sementara juga Ali mungkin tidak akan bisa bertemu sama Ayah."
"Kenapa Bunda?" tanya Ali nampak bigung.
"Tidak ada apa-apa. Bunda hanya kangen untuk tinggal di rumahnya Eyang. Jadi kita sementara akan tingal di sini."
"Tapi Ali sudah kangen sama Ayah?" rengek Ali.
"Nanti Ali juga akan ketemu Ayah kok. Kita makan siang dulu yuk. Bibik sudah masak enak buat Ali." ucap Hanin, mencoba untuk mengalihkan perhatian anak nya.
Hanin kemudian mengajak Ali untuk keruang makan.
"Bik untuk sementara. Tolong jangan kasih tahu Mama kalau aku ada di rumah ini. Karena aku tidak ingin Mama tahu kalau aku pulang ke rumah. Jadi kalau Mama telepon, bilang saja sama Mama seperti biasa. Jangan bilang kalau aku sama Ali disini. Aku tidak mau Mama tau kalau aku sedang menenangkan diri di sini. Aku tidak ingin Mama khawatir." ucap Hanin pada art nya yang sudah lama bekerja di rumah itu.
"Baik Non Hanin. Saya tidak akan kasih tau Nyonya kalau Non Hanin di sini."
"Bagus, terima kasih ya Bik."
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Dan malam itu, saat waktunya Ali tidur. Hanin nampak berjuang untuk dapat menidurkan Ali.
Biasanya tugas menidurkan Ali di lakukan oleh Prasetya.
Sehari-harinya Ali selalu ditidurkan oleh Pras. Karena malam itu tidak ada Pras. Ali sempat menangis dan merengek untuk di tidurkan oleh sang ayah.
__ADS_1
Bahkan Ali minta untuk di teleponkan dengan ayahnya. Tapi Hanin membuat seribu macam alasan untuk tidak menghubungi suaminya itu.
Setelah melalui berbagai macam drama. Akhirnya Ali tertidur juga.
Ada rasa bersalah yang menyeruak dari dalam hati Haningrum. Ali yang tidak tau apa apa tentang masalah orang tua nya. Kini seolah olah menjadi korban perang dingin antara dirinya dan Prasetya.
"Maafkan Bunda sayang. Jika kamu harus berpisah sama Ayah." ucap lirih Hanin, sambil memberikan ciuman ke kening Ali.
Setelah memastikan Ali tertidur lelap. Hanin kemudian keluar dari kamarnya dan ia berjalan menuju balkon rumahnya yang ada di lantai atas.
Di sana Hanin nampak diam termenung. Udara dingin malam itu menerpa nerpa wajah cantiknya.
Maafkan aku mas Pras, jika sekarang ini aku telah menjadi seorang istri yang pemberontak.
Maafkan aku jika aku tidak lagi menjadi seorang istri yang penurut yang tunduk dan selalu patuh terhadapmu.
Tindakan pergi dari rumah seperti ini sebenarnya sangat tidak aku inginkan Mas. Tapi setelah kamu mengkhianati kepercayaan yang sudah aku berikan. Rasanya aku tidak kuat untuk serumah lagi sama Mas Pras.
Kenyataan itu terlalu pahit untuk aku ingat. Jika melihat wajah Mas Pras ketika Mas menikmati kemesraan bersama wanita itu. Rasanya sakit Mas. Dan aku tidak bisa satu atap denganmu dengan perasaan hati yang sudah hancur.
Tapi aku bisa apa. Aku tidak kuat untuk bisa melihat wajah Mas Pras sekarang ini.
Ketika Hanin sedang menikmati momen kesendiriannya. Ponsel yang ia ada di genggamannya berdering.
Hanin pun mengecek siapa yang menelponnya.
Karena yang menelponnya adalah Prasetya. Hanin membiarkan saja deringan ponsel tersebut.
Setelah lima kali deringan pangilan telepon nya tak terjawab. Sebuah pesan masuk di ponselnya. Hanin kemudian membuka isi pesan tersebut.
Sayang, sekali lagi Mas minta maaf. Mas mengaku salah.
Aku tahu kamu kecewa sama Mas. Dan aku akan memberikan kamu waktu untuk menenangkan diri.
__ADS_1
Demi Allah Han, hanya kamu satu-satunya wanita yang mas mencintai. Demi Allah hanya kamu satu-satunya wanita yang bertahta di hati Mas.
Tidak ada wanita lain selain kamu Haningrum. Aku tidak ingin membela diri karena Mas memang sudah salah. Tapi percaya atau tidak, waktu itu yang ada di bayangan Mas hanyalah kamu.
Mas tidak sama sekali punya perasaan terhadap Kinanti.
Mas akan memutuskan komunikasi Mas dengannya. Mas tidak akan berhubungan lagi dengan dia. Baik meneleponnya atau apapun hanya mengirim pesan. Karena sebelumnya Mas juga tidak pernah melakukan itu.
Tolong Hanin, berikan kesempatan lagi untuk Mas. Mas akan perbaiki semuanya. Mas sangat sayang sama kamu. Hidup Mas hampa tanpa kamu Hanin.
Setelah selesai membaca isi pesan Prasetya. Hanin kemudian langsung mematikan ponselnya.
"Terserah kamu Mas." guman Hanin.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Sedangkan di tempatnya saat ini berada. Prasetya yang sangat kecewa karena panggilan teleponnya tidak juga dijawab oleh Hanin. Merasa sangat frustasi.
Tapi setelah ia melihat pesannya sudah terbaca oleh Hanin. Hal itu menjadi kelegaan di hati Pras. Karena paling tidak jika Hanin tidak menerima panggilan telepon nya. Ia masih mau membaca pesan singkatnya.
Setelah mengirimkan pesan terhadap Hanin. Kini Prasetya terhadap menuliskan sebuah pesan yang akan dikirim untuk Kinanti.
Kinan ini adalah pesan terakhir yang aku tulis untukmu. Setelah ini aku tidak akan berkomunikasi lagi denganmu. Aku berharap proses kelahiran anak itu lancar. Aku menyerahkan sepenuhnya tangung jawab anak itu terhadap dirimu dan keluargamu. Aku tidak akan datang di saat kamu melahirkan anak itu. Dan mungkin aku juga tidak kan menjenguknya.
Kita sudahi komunikasi kita. Soal tanggung jawab nafkah. Aku akan tepati janji ku. Mama yang akan mengurusnya. Jadi setelah ini, jangan pernah menghubungi ku lagi atau pun mengirimkan aku pesan apapun.
Kejadian kemarin sudah cukup membuat aku tau siapa kamu juga.
Aku mencintai istri ku dan keluarga ku. Aku tidak ingin kehidupan rumah tangga ku hancur karena kamu.
Jadi aku harap, komunikasi kita cukup sampai di sini. Tolong rawat anak itu dan kau tak perlu ceritakan pada nya jika aku ayahnya.
Aku tidaklah seorang ayah yang baik. Menikahlah dan jadikan suami mu sebagai ayah dari anak itu.
__ADS_1
Maafkan aku, jika aku sudah bersikap seperti ini. Sekali lagi, jaga anak itu, besarkan dengan baik dan berikan kasih sayang.
Itulah pesan terakhir yang Prasetya tulis untuk Kinanti.