
Dengan langkah sedikit lesu, sesampainya Prasetya di rumahnya.
Pria satu anak itu nampak tidak ceria seperti biasanya. Biasanya, wajahnya nampak sumringah begitu ia sudah sampai rumah. Karena ia akan berkumpul bersama anak dan istrinya tercintanya.
Sejenak, Prasetya hanya diam berdiri di depan pintu rumahnya.
Sebelum ia menekan bell pintu rumah. Prasetya nampak mengumpulkan segenap aura cerianya. Ia tidak ingin sang istri melihat dirinya bermurung durja.
Biasanya, jika dia sudah menekan bell pintu rumah. Sang istri lah yang selalu membukakan pintu untuknya.
Dan seperti biasa juga, Hanin selalu menyambutnya dengan wajah yang sumringah. Serta tak lupa mencium tangan sang suami.
Sedangkan Prasetya sendiri juga selalu memberikan kecupan manis di pipi kiri dan kanan sang istri.
Kemudian mereka langsung masuk kedalam rumah dengan saling berpelukan.
Ritual semacam itulah yang selalu mereka lakukan setiap hari ketika Prasetya pulang dari bekerja seharian.
Setelah itu, mereka akan langsung makan malam.
Dengan mengumpulkan segenap keberanian dan menyingkirkan semua beban pikiran yang menggelayuti pikirannya. Prasetya nampak menghela nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.
"Bismillah." Ucap Prasetya, sebelum ia memencet bell pintu rumahnya.
Setelah menunggu beberapa saat, pintu pun dibukakan oleh Hanin.
"Assalamu'alaikum." Sapa Prasetya.
__ADS_1
"Waalikumsalam Mas." jawab Hanin dengan suaranya yang lembut dan merdu.
Kemudian Hanin langsung meraih tangan Prasetya untuk ia cium. Setelah mencium tangan sang suami. Prasetya tak lupa juga untuk memberikan ciuman di kedua pipi sang istri.
Keduanya kemudian saling tersenyum bahagia.
Dan, tiba tiba saja, Hanin langsung merangsekkan dirinya ke dada bidang Prasetya. Ia memeluk tubuh sang suami yang kekar itu erat erat.
Mendapat pelukan tiba-tiba dari sang istri yang pada saat itu mereka masih berada di ambang pintu rumah bukanlah hal bisa yang Hanin lakukan.
Biasanya mereka akan berpelukan jika mereka sudah ada di kamar.
"Tumbenan kamu langsung peluk Mas di tempat terbuka. Ngak malu di liat orang." sergah Prasetya. Hanin kemudian langsung menarik tubuhnya dari pelukan Prasetya.
"Eh, maaf Mas. Entahlah, tadi Hanin reflek saja ingin peluk Mas Pras." ujar Hanin sambil tersipu.
"Hemmmmm, kangen ya suami. Ya sudah, kita masuk dulu. Kita makan malam dan setelah itu, baru kita lanjutkan kangen kangenannya." ujar Prasetya yang kemudian langsung merangkul sang istri untuk masuk kedalam rumah.
Setelah makan malam selesai, seperti biasa Prasetya mengajak Ali untuk bermain sejenak di kamar sang putra.
Meskipun Ia sibuk dengan pekerjaannya di kantor, Prasetya selalu meluangkan waktunya untuk bersama dengan sang putra.
Meskipun hanya sekedar bermain-main sejenak dan setelah itu biasanya Pras menidurkan Ali.
Setelah Ali tertidur, barulah Prasetya meninggalkan kamar sang putra untuk menuju kamarnya sendiri yang ada tepat di sebelah kamar Ali.
Sesampainya Prasetya di kamar, saat itu Hanin baru saja melepaskan hijabnya yang seharian ini melekat pada kepalanya.
__ADS_1
Hanin hanya melepaskan hijabnya ketika ia sedang berada di kamar.
Ketika ia berada di dalam rumah pun, Hanin selalu mengenakan hijabnya.
Dan itu sudah menjadi kebiasaan. Hanya jika ia ada di dalam kamar lah ia melepaskan hijabnya tersebut.
Berjalan mendekati sang istri yang saat itu sedang berada di depan cermin. Prasetya nampak terpesona dengan keindahan lekuk tubuh sang istri.
Apalagi rambut panjang hitam Hanin yang tergerai itu rasanya membuat Prasetya gemas. Prasetya kemudian memeluk Hanin dari belakang dengan begitu posesif.
Lalu, Pras sengaja menyibakkan rambut panjang Hanin yang menutupi leher sang istri. Kemudian ia mencium leher jenjang milik Hanin dengan kecupan mesra. Bahkan kecupan itu kini meninggalkan bekas.
"Mas, Mas mandi dulu sana. Bersihkan dulu badanmu, kemudian sholat lah." ucap Hanin kepada sang suami.
"Melihatmu seperti bidadari seperti ini membuat aku malas mandi Han." ucap Prasetya setengah berbisik. Yang saat itu masih betah untuk mendekap sang istri.
"Nanti Mas boleh memeluk aku sepuasnya, tapi mas harus mandi dulu, bau keringat Mas."
"Kamu sudah mandi? Kalau belum, kita mandi sama sam ya. Sekalian kita bercinta." tutur Prasetya.
"Jika tidak bercinta saat kita mandi bersama, itu bukan kamu Mas. Kalau masih pagi aku akan mau mau saja. Tapi ini sudah malam, aku juga sudah mandi. Mas mandi, sholat, baru nanti aku akan tunaikan kewajiban ku. Aku juga sudah sholat tadi." tutur Hanin, dan perkataan Hanin sudah membuat Prasetya bersemangat.
Prasetya kemudian mengudarkan pelukannya dan langsung pergi ke kamar mandi.
"Kau harus tepati kata kata mu Han." ujar Prasetya sebelum Pria berkulit putih itu masuk ke kamar mandi.
Mendengar ancaman sang suami membuat Hanin menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Mas, Mas Pras, entah kenapa aku semakin mencintai mu." ucap Hanin dalam hati. Ia merasa sangat beruntung di cintai dan di nikahi oleh Prasetya. Seorang suami yang begitu sempurna di mata Haningrum.
Yang perhatian, yang lembut, yang selalu hangat dan memberikan i nafkah lahir dan batin dengan penuh rasa tanggung jawab.