
Matahari bersinar terang dan cerah di luar sana pada pagi hari itu.
Seorang pria yang wajahnya kini terlihat nampak sangat kusut dengan pakaian yang tidak ganti sejak kemarin. Masih tertidur di atas ranjangnya sendirian.
Samar samar, cahaya matahari yang sudah sepengalah yang masuk ke kamar Prasetya seperti nya mengusik ketenangan tidur Pria berjambang itu.
Pras kemudian membuka matanya perlahan. Ketika ia merasakan ruangan kamarnya kini telah terang benderang.
Perlahan Pras bangkit dari tidurnya dan kemudian ia berinsut dari ranjang.
Sejenak, ia mengumpulkan energi dengan duduk di tepian ranjang.
Setelah itu, ia berjalan ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya.
Setelah Prasetya membasuh wajahnya. Prasetya terlihat termenung, terdiam menatap wajahnya tanpa berkedip di depan cermin yang ada di depannya.
Rasanya Pras ingin sekali menertawakan dirinya sendiri.
Karena sebagai seorang lelaki sejati yang hanya mencintai seorang wanita yaitu Hanin. Ternyata dirinya masih sangat lemah saat digoda oleh seorang perempuan lain.
Prasetya mengakui, dirinya memang menyimpan rasa simpati tersendiri pada mantan sekretaris nya itu.
Rasa simpati itu Pras rasakan karena telah membuat Kinanti mengandung benihnya. ia di lingkupi rasa bersalah akan hal itu.
Apalagi Kinanti selalu memasang wajah penuh iba dan sangat butuh untuk di belas kasihi.
Hal itu lah yang membuat Prasetya tergerak hatinya merasa kasian dan lemah pada sosok Kinanti.
__ADS_1
Bagaimana cara Kinanti menatapnya, menyentuhnya dan menggodanya. Membuat Pras tidak tega.
Tapi jika mengingat semua yang di lakukan Kinanti itu bentuk dari sebuah godaan. Seketika itu juga Prasetya mengepalkan tangannya.
Ia merasa geram dengan dirinya sendiri. Kenapa ia harus terjatuh pada godaan wanita itu.
Tidak seharusnya ia terbuai dan tengelam dalam sebuah patikan hasrat terlarang antara dirinya dan Kinanti.
Dia sudah punya tempat halal untuk menyalurkan hasratnya. Yaitu bersama Hanin.
Tapi dengan bodohnya dia justru masih lemah dengan pertahanan diri.
Seharusnya ia bisa menghindar. Seharusnya ia bisa kuat, seharusnya kejadian kemarin itu tidak terjadi jika saja ia bisa menahan diri.
Tapi yang Pras lakukan malah menyambut dan meleburkan diri.
Kinanti memang tengah hamil anaknya, benihnya.
Kini semua terbukti, Kinan memang telah menggodanya. Dan ia terperangkap dalam godaan hasrat Kinanti.
Hingga membuat dirinya kembali menjamah wanita itu seperti ia menjamah Hanin.
Matanya benar-benar buta dan imam nya lemah. Seperti selembar tisu yang tersiram air.
Setelah Pras menyesali semua perbuatan, tindakan dan kesalahannya. Pras teringat jika Hanin akan pergi.
Hal itu membuat Pras langsung bergegas keluar dari kamar dan ia langsung bergegas menuju kamar Ali.
__ADS_1
Begitu Ia membuka pintu kamar putranya. Kamar itu telah kosong.
Anak laki-lakinya sudah tidak ada di kamar. Begitu pula dengan Hanin.
Pras langsung panik.
Dengan langkah cepat, Prasetya menuruni anak tangga dan memanggil-manggil Hanin.
Bahkan Pras sampai teriak-teriak memanggil Hanin dan juga Ali bergantian.
Bu Damayanti yang kala itu sedang duduk santai di teras mendengar teriakkan Pras yang kebingungan mencari anak dan istrinya.
"Pras percuma kamu mencari-cari anak dan istrimu. Mereka sudah pergi sejak tadi pagi." tutur Bu Damayanti dengan santai.
"Kenapa Mama membiarkan mereka pergi. Kenapa Mama tidak menahan mereka." tutur Pras frustasi.
"Seharusnya Mama tidak membiarkan mereka pergi begitu saja."
"Lantas kamu pikir, Mama harus menahan Hanin. Dan membiarkan hati Hanin menderita di rumah ini. Jiwa istri mu saat ini sedang tidak baik-baik saja Pras. Hanin saat ini telah hancur. Kepercayaan yang sudah ia bangun untukmu kau hancurkan lagi dengan sedemikian rupa. Jika dia terus berada di sini maka itu sama saja dia menyiksa batinnya sendiri. Kamu pikir Mama tega menyiksa anak orang. Dengan menahan Hanin untuk yang tetap berada di rumah ini. Kamu pikir dengan akal sehatmu Pras. Kalau kamu tidak ingin membuat istrimu menderita dan sakit hati. Kenapa kamu tega menyakitinya lagi. Kamu ke Solo apa cuma mau bermesraan mesraan dengan wanita itu. Mama sudah berulang kali peringatkan kamu Prasetya. Kinanti itu suka sama kamu, dia itu diam-diam menyukai kamu. Dan kamu tahu apa itu artinya, seorang wanita jika sudah menyukai suami orang dengan begitu butanya. Jika ada kesempatan dia pasti akan mengikatmu dan akan membuai mu dalam berbagai macam godaan yang ia akan lakukan dengan mu. Apa lagi dia punya senjata bayi itu. Sekarang buktinya, Hanin menangkap basah kalian berciuman, bermesraan, apa itu namanya. Kalau kamu tidak tergoda dengan dia." ucap Bu Damayanti panjang lebar.
Ia berkata kata dengan setengah emosi pada Pras, anaknya sendiri.
Mendengar kata-kata Bu Damayanti membuat Pras tidak lagi bisa berkutik.
"Jika Mama tadi menahan Hanin, sebagai sesama seorang perempuan. Sama saja Mama membiarkan Hanin tersiksa batinnya. Biarkan Hanin menenangkan diri dan pikirannya. Dia butuh waktu untuk bisa berfikir tenang. Hanin itu dua kali Pras. Dia dua kali melihat secara jelas kamu berbuat mesum dengan wanita itu. Jika dulu kamu berdalih dijebak. Sekarang kamu berdalih apa? Khilaf. Itu sudah basi Pras. Mama sengaja membiarkan Hanin pergi bawa Ali. Biarkan dia menenangkan diri dan pikirannya. Jangan menemuinya dulu saat ini." ancam Bu Damayanti.
"Tapi Ma, Pras tidak sanggup seperti ini. Pras tidak tenang sebelum Pras bisa bicara dengan Hanin."
__ADS_1
"Mama tidak habis pikir Pras, kamu bisa melakukan ini lagi. Setelah ini Mama tidak tahu lagi harus membantumu seperti apa. Mama juga tidak tahu harus membelamu bagaimana di hadapan Hanin. Jika Mama membela kamu kemarin. Itu karena kesalahan kamu dulu telah di rencanakan oleh Murad. Sekarang kamu melakukannya dengan sadar, kamu melakukannya dengan sama-sama suka dan sepertinya saling menikmati. Lalu bagaimana cara Mama bisa membelamu. Ingat Prasetya, kedua orang tuanya Hanin kan di luar negeri. Kamu lupa apa, mertua mu seorang duta besar. Jika Hanin saat ini pulang ke rumah orang tuanya. Tetap saja, Hanin sendiri an di sana. Kamu tu ya, yang seharusnya bisa jaga istri malah menyakiti hati istri. Kalau mertua mu sampai tau. Habis kamu Pras."
Prasetya benar benar sudah mati kutu.