
"Pak, saya ingin mengajukan cuti untuk beberapa hari ke depan. Saya harus pulang kampung. Ada suatu keperluan mendesak yang harus saya hadirin bersama keluarga saya. Dan saya juga tidak tahu kapan akan kembali ke Jakarta. Oleh sebab itu saya minta izin untuk cuti." Ucap Kinanti, ia menghadap ke ruang kerja Prasetya pada hari itu.
"Kenapa kamu memberitahunya mendadak. Padahal pekerjaan sedang banyak banyaknya. Tidak bisakah di unduh pulangnya?"
"Maaf sebelumnya Pak. Saya baru dikabari oleh orang tua saya kemarin, dan mereka meminta saya untuk segera pulang." Imbuh Kinanti.
"Ya sudah kalau begitu. Aku izinkan kamu pulang kampung. Tetapi tolong kamu jangan nonaktifkan ponsel mu. Takut nanti ada beberapa hal penting tentang pekerjaan yang aku akan tanyakan sama kamu."
"Iya Pak, kalau begitu saya permisi." Kinanti kemudian berjalan menuju pintu untuk keluar dari ruang kerja sang bos.
"Kinanti!" Seru Prasetya, menahan langkah Kinanti yang hendak pergi.
"Ada apa Pak?"
"Selesai pulang kerja temui aku di parkiran basemen gedung. Kamu langsung masuk saja ke mobil ku nanti. Ada hal yang ingin aku bicarakan empat mata dengan mu." Tutur Prasetya.
"Baik Pak. Saya akan temui Bapak di sana." Jawab Kinanti menyetujui.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Dan sore itu, setelah jam kerja usai. Seperti janjiannya, Kinanti dan Prasetya bertemu di parkiran basemen gedung.
Begitu Kinanti melihat mobil milik sang bos. Kinanti segera berjalan menuju mobil Prasetya dan kemudian langsung masuk kedalam mobil. Karena Prasetya sendiri telah berada di dalam.
Setelah Kinanti masuk, Prasetya langsung mengemudikan mobilnya untuk keluar dari gedung parkiran. Dan ia langsung bergegas untuk menuju suatu tempat.
Prasetya mengendarai mobilnya menuju suatu tempat yang sepi dan jauh dari keramaian.
Di sebuah tepian danau, di tempat itulah Prasetya mengehentikan laju mobilnya.
Tempat itu menjadi pilihan Prasetya untuk bisa mengobrol dengan aman bersama Kinanti.
Prasetya kemudian mematikan mesin mobilnya. Lalu ia membuka sedikit jendela kaca mobil untuk membiarkan udara masuk.
Sejenak, baik Kinanti dan Prasetya saling diam membisu. Prasetya tau, apa yang ia lakukan ini tidaklah baik. Tapi ia harus segera membicarakan masalahnya dengan Kinanti.
__ADS_1
"Pak Prasetya mengajakku kemari pasti ada sesuatu yang serius, yang Bapak ingin bicarakan sama saya." Guman Kinanti memulai pembicaraan.
"Seperti janjiku kemarin pagi, jika aku akan membicarakan ini dengan mu." Jawab Prasetya, yang akhirnya ia bersuara.
"Baiklah, saya akan dengarkan penjelasan Pak Prasetya." Tutur Kinanti, yang memang sudah sangat ingin mendengarkan penjelasan Prasetya soal masalah mereka.
Kinanti kemudian menoleh ke arah Prasetya. Ia menatap wajah tampan sang bos. Yang sejujur-jujurnya di dalam lubuk hati Kinanti yang paling dalam. Kinanti memang menaruh suka terhadap bosnya tersebut.
Tapi suka itu bukan untuk merebut sang bos yang sudah beristri. Tapi Kinanti hanya mengaguminya.
"Apa yang terjadi di antara kita sebulan yang lalu di hotel itu. Itu adalah sebuah kesalahan yang sama-sama kita berbuat dengan tidak sengaja. Dan kita sama sama tidak saling sadar, sesadar-sadarnya. Aku dan dirimu saat itu dalam pengaruh minuman beralkohol. Dan entah bagaimana aku bisa menjelaskannya pada mu Kinanti. Sejujurnya, aku merasakan suatu gairah yang luar biasa yang aku rasakan terhadap dirimu kala itu. Yang aku kira dirimu itu adalah istri ku Hanin. Dan sejujurnya juga, aku heran dengan semua kejadian pada saat itu. Sebenarnya aku sedang mencurigai sesuatu dan aku pikir, ada seseorang yang menaruh minuman obat perangsang dalam minumanku. Karena aku begitu kalut dan begitu bergairah. Aku ingin bertanya sesuatu dengan mu. Dan aku ingin kau jujur juga." Ucap Prasetya sambil menatap wajah Kinanti yang duduk di kursi penumpang bagian depan di sisinya.
"Apa yang ingin anda tanyakan?"
"Aku ingin menanyakan. Apakah kau juga merasakan hal yang aneh saat itu. Hal yang sama seperti yang yang aku rasakan. Malam itu aku sangat bergairah."
Kinanti yang sejak tadi mendengarkan ucapan Prasetya dengan seksama berpikir.
Ia kemudian mencoba untuk mengingat-ingat apa yang terjadi dengan dirinya pada malam itu.
Dan benar apa kata Prasetya.
Flashback.....
Niat Kinan saat itu ingin merebahkan tubuh Pras ke rajang. Tapi tiba-tiba tubuh mungil Kinanti terhuyung dan ambruk menubruk tubuh Pras. Tepat di atas tubuh Prasetya.
Dan hal itu sudah cukup membuat Prasetya membuka matanya.
Kini kedua mata itu saling bertatapan dengan begitu dalamnya. Kinanti yang tiba-tiba merasa sesuatu terjadi pada tubuhnya kini menjadi semakin bereaksi.
Apalagi, wanita yang masih perawan itu merasakan sesuatu yang keras terasa menempel pada organ intim nya. Saat ia berada di atas Prasetya. Meskipun masih terhalang rok span selutut yang Kinan kenakan. Ia merasakan milik Prasetya terasa mengeras. Dan itu membuat tubuh Kinanti makin bereaksi.
Sedangkan Prasetya sendiri justru melihat Kinanti seolah-olah wanita itu adalah Haningrum, istrinya.
Tidak hanya mabuk, Prasetya juga merasakan sesuatu dari tubuhnya. Gairah untuk bercinta kini di rasakan oleh Pras begitu meletup letup. Sesuatu yang menuntutnya untuk segera di tuntaskan.
__ADS_1
"Pak sadar Pak, saya Kinan. Saya bukan Hanin istri Bapak." ucap Kinan sambil mendorong dada Pras. Karena Pria beristri itu semakin mendekati wajahnya.
"Jangan menolak ajakan ku Hanin. Bukankah selama ini kau tidak pernah menolak ajakan bercinta dengan ku." tutur Prasetya.
Kemudian ia menggulingkan tubuhnya ke samping. Dan merubah posisinya kini menjadi di atas Kinanti.
Tanpa mendengar penolakan Kinanti, Prasetya yang tidak dalam kondisi sadar dan sudah larut dalam pengaruh minuman keras tersebut langsung menyerang bibir ranum Kinanti dengan begitu intens.
Serangan tiba tiba bibir Pras yang menempel sempurna di bibir Kinanti membuat wanita yang masih perawan dan lajang itu terlena.
Di tambah lagi dengan getaran getaran aneh yang terjadi pada diri wanita itu. Saat ciuman itu berlangsung membuat Kinan kini sudah lupa akan segalanya.
Dan justru ia meleburkan diri untuk meladeni nafsu Prasetya.
Efek obat perangsang yang ia tidak tau bagaimana bisa ia minum saat itu sudah tidak bisa dikendalikan.
Kinanti sendiri tidak tahu harus berbuat apa. Dalam kondisi ia saat itu masih berciuman dengan Pras. Pikirannya yang masih bisa berfikir waras, mencoba untuk melepaskan diri. Namun, Pras malah justru semakin merangsekkan dirinya pada tubuh Kinanti.
Tangan Prasetya juga sudah tidak bisa diam. Ia menjamah setiap jengkal lekuk tubuh Kinanti yang dia pikir itu adalah Hanin.
Ketika keduanya kini sudah dalam puncak gairah. Mereka pun sama sama melepaskan pakaian mereka. Dan di atas tempat tidur, di kamar hotel milik Prasetya.
Kedua insan manusia yang tidak punya hubungan status sah sebagai suami istri itu melakukan hubungan badan yang seharusnya mereka tidak melakukannya.
Percintaan panas nan membara itu benar-benar mereka lakoni seperti keduanya melakukannya dengan suka sama suka.
Yang ada di pikiran mereka saat itu hanyalah. Bagaimana mereka berdua sama sama mendapatkan klimaksnya.
Setelah beberapa kali melakukan penyatuan, mereka berdua sama sama terhempas ke tempat tidur dengan napasnya yang masih memburu.
flashback off
"Siapa yang menyuruh mu membawa aku ke kamar saat itu Kinanti?" Tanya Prasetya serius.
"Pak Murad." Jawab Kinanti tegas.
__ADS_1
"Murad."
Buat apa Murad melakukan tindakan itu. Jika dia memang pelakunya, buat apa dia melakukan itu? Apa motifnya? Apa dia setega itu terhadap diriku. Kini Prasetya malah berbalik mencurigai sepupunya tersebut. Prasetya merasa kejadian itu telah di rencanakan. Karena ia merasa sangat janggal dengan semua yang sudah terjadi.